Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Perpisahan DMC Lamongan di Pota, Wahyudin: DMC Datang Layaknya Kompas

Iklan Landscape Smamda
Perpisahan DMC Lamongan di Pota, Wahyudin: DMC Datang Layaknya Kompas
Perpisahan DMC Lamongan di Pota, NTT. (Kholis/PWMU.CO)
pwmu.co -

Suasana haru mewarnai perpisahan Tim Disaster Medical Committee (DMC) Lamongan setelah beberapa waktu membersamai masyarakat terdampak gempa di Posko Pengungsian Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (29/8/2026).

Kebersamaan yang berlangsung dalam waktu relatif singkat tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat, relawan, dan pihak-pihak yang selama ini berkolaborasi dalam pelayanan kemanusiaan di wilayah terdampak gempa.

Kepala SMK Muhammadiyah Pota Sambi Rampas, Wahyudin, S.Kom, menyampaikan rasa haru sekaligus terima kasih atas kehadiran dan kontribusi DMC Lamongan selama menjalankan misi kemanusiaan di Sambi Rampas.

“Senang rasanya bisa dipertemukan dengan orang-orang baik ini, walaupun hanya bisa membersamai dalam waktu yang cukup singkat. Tetapi memang yang namanya pertemuan selalu dibarengi dengan perpisahan,” ujarnya.

Menurut Wahyudin, kehadiran DMC Lamongan bukan hanya memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terdampak gempa, tetapi juga memberikan ilmu, pengalaman, serta arahan kepada masyarakat dan relawan lokal dalam menjalankan berbagai kegiatan di tengah situasi kebencanaan.

Ia mengaku pada awalnya merasa risau, bingung, dan tidak mengetahui harus berbuat apa ketika berada dalam situasi pascabencana. Namun, kedatangan DMC Lamongan perlahan memberikan gambaran tentang langkah-langkah yang harus dilakukan.

“Terima kasih atas segala ilmu dan bimbingannya. Bekal ini membuat saya begitu percaya diri untuk hadir dan melayani di sini. Awalnya kami merasa risau, bingung, dan tidak tahu harus seperti apa. Namun, DMC Lamongan bagi kami layaknya sebuah kompas. Ketika awalnya kami tidak tahu harus berbuat apa dan ke mana harus melangkah, kedatangan tim memberikan arah sehingga kami mulai memahami apa yang harus dilakukan dan bisa berjalan secara lebih terarah,” tuturnya.

Bagi Wahyudin, peran DMC Lamongan tidak berhenti pada pelayanan yang dilakukan selama berada di lokasi. Kehadiran tim juga membantu masyarakat dan relawan lokal memahami bagaimana merespons kondisi darurat dengan lebih terorganisasi.

“Yang sebelumnya terasa membingungkan, perlahan menjadi lebih jelas. DMC tidak hanya datang membawa tenaga dan ilmu, tetapi juga memberikan kepercayaan diri kepada kami untuk mengambil peran dan terus melayani masyarakat,” katanya.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap kekompakan seluruh anggota DMC Lamongan. Menurutnya, suasana yang semula dipenuhi kesedihan dan kebingungan dapat berubah menjadi lebih cair karena kebersamaan yang dibangun selama berada di tengah masyarakat.

“Kalian adalah tim yang sangat solid dan luar biasa. Suasana yang tadinya sedih dan bingung mendadak cair, hingga kita melaluinya dengan senyum serta tawa,” ungkapnya.

Wahyudin menilai kebersamaan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi masyarakat setempat. Di tengah kondisi pascabencana yang penuh keterbatasan, kehadiran tim kemanusiaan memberikan semangat sekaligus membuka ruang belajar bagi relawan lokal.

Ia berharap seluruh anggota DMC Lamongan senantiasa diberikan keselamatan dalam perjalanan serta mendapatkan balasan atas segala kebaikan yang telah diberikan kepada masyarakat Sambi Rampas.

“Hati-hati di jalan, Tim DMC Lamongan. Terima kasih atas dedikasi, ilmu, dan tenaga yang sudah dicurahkan untuk Sambi Rampas. Semoga kebaikan kalian dibalas berlipat ganda. Sampai jumpa di lain kesempatan,” katanya.

Pengabdian Bukan Sekadar Memberikan Pelayanan

SMPM 5 Pucang SBY

Sementara itu, dr. Muhammad Ivanda Dewantara atau dr. Ivan, anggota DMC Lamongan, mengatakan bahwa menjadi relawan dalam situasi bencana memberikan pengalaman yang tidak hanya berkaitan dengan pelayanan kesehatan.

Menurutnya, pengabdian merupakan proses untuk hadir, mendengarkan, dan membersamai masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit.

“Menjadi relawan di tengah masyarakat terdampak bencana mengajarkan kita bahwa pengabdian bukan hanya tentang apa yang bisa kita berikan, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir, mendengarkan, dan membersamai mereka dalam situasi yang tidak mudah,” ujar dr. Ivan.

Selama menjalankan misi kemanusiaan di Posko Pengungsian Pota dan sejumlah wilayah di Sambi Rampas, DMC Lamongan tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga membangun komunikasi dan kebersamaan dengan masyarakat serta relawan setempat.

“Kami datang membawa ilmu dan tenaga, tetapi selama berada di sini kami juga banyak belajar dari masyarakat, relawan lokal, dan semua pihak yang bersama-sama berjuang membantu para penyintas,” katanya.

Bagi dr. Ivan, interaksi dengan masyarakat selama masa tanggap darurat menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdian. Kondisi di lapangan mengajarkan bahwa penanganan bencana membutuhkan kerja sama, kepedulian, dan kesediaan untuk saling membantu.

“Di tengah keterbatasan, kita belajar bahwa kekuatan terbesar dalam sebuah respons kemanusiaan adalah kebersamaan. Ketika semua pihak mengambil peran sesuai kemampuannya, pelayanan kepada masyarakat dapat dilakukan dengan lebih baik,” jelasnya.

Ia pun mengaku perpisahan dengan masyarakat dan relawan di Sambi Rampas menjadi momen yang cukup berat bagi tim.

“Sedih rasanya harus berpisah, tetapi ini adalah bagian dari perjalanan yang harus dijalani. Apa yang sudah kami lakukan semoga dapat memberikan manfaat dan menjadi bekal bagi masyarakat maupun relawan yang melanjutkan pelayanan di sini,” tutur dr. Ivan.

Menurutnya, berakhirnya masa tugas bukan berarti berakhirnya kepedulian terhadap masyarakat terdampak gempa.

“Perpisahan bukan berarti berakhirnya kepedulian. Semoga silaturahmi dan semangat untuk terus memberikan manfaat tetap terjaga. Sampai jumpa di kesempatan lain,” pungkasnya.

Perpisahan tersebut menjadi penanda berakhirnya masa pengabdian DMC Lamongan dalam salah satu rangkaian respons kemanusiaan di Sambi Rampas. Meski harus meninggalkan lokasi, jejak pelayanan, ilmu, tenaga, serta kebersamaan yang telah dibangun diharapkan tetap menjadi bagian dari proses pemulihan masyarakat terdampak gempa di Manggarai Timur. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 30/08/2026 19:13
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu