Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Petani Tawangargo Belajar Kembangkan Trichoderma, Didorong Jadi Agen Hayati Pertanian

Iklan Landscape Smamda
Petani Tawangargo Belajar Kembangkan Trichoderma, Didorong Jadi Agen Hayati Pertanian
PPK Ormawa LSO Hipotesa FPP UMM Dorong Petani Tawangargo Kembangkan Trichoderma sebagai Agen Hayati (Nim/Yug/PWMU.CO)
pwmu.co -

Petani Desa Tawangargo, Kabupaten Malang, mulai mengenal cara memperbanyak Trichoderma sp. sebagai agen hayati yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesehatan tanaman dan tanah melalui pelatihan yang digelar Lembaga Semi Otonom (LSO) Hipotesa Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (8/8/2026).

Pelatihan yang berlangsung di Balai Desa Tawangargo tersebut menjadi bagian dari Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) LSO Hipotesa FPP UMM bertema “Optimalisasi Pengelolaan Limbah Organik melalui Teknologi Mesin Pre-Kompos Multi-Stage dan Agen Hayati sebagai Inovasi Pemberdayaan Pertanian Desa Tawangargo”.

Kegiatan ini menjadi tahap awal dari rangkaian pendampingan mahasiswa bersama masyarakat dalam mengembangkan pengelolaan limbah organik hortikultura sekaligus memperkenalkan teknologi yang dapat diterapkan dalam praktik pertanian.

Pelatihan dihadiri Wakil Dekan I FPP UMM Mochammad Wachid, S.TP., M.Sc., Ph.D., Kepala Biro Kemahasiswaan UMM Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., serta Kepala Desa Tawangargo H. Sukar yang sekaligus membuka kegiatan.

Turut hadir dosen pembimbing PPK Ormawa LSO Hipotesa FPP UMM Ganjar Adhywirawan Sutarjo, S.Pi., M.P. dan Dr. Ir. Yepy Komaril Sofi’i, S.T., M.T. Nur Izzatul Maulidah, S.P., M.Sc., Ph.D., juga hadir sebagai pemateri dalam pelatihan perbanyakan Trichoderma sp.

Belajar Memperbanyak Agen Hayati

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai karakteristik dan manfaat Trichoderma sp. sebagai agen hayati. Materi kemudian dilanjutkan dengan praktik agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga melihat secara langsung proses perbanyakannya.

Peserta diperkenalkan pada dua metode perbanyakan. Metode pertama menggunakan media beras-jagung, sedangkan metode kedua memanfaatkan media ekstrak kentang-gula dengan bantuan fermentor.

Tahapan yang diperkenalkan meliputi persiapan media, inokulasi, proses perbanyakan, hingga pengenalan karakteristik kultur Trichoderma yang baik.

Kegiatan berlangsung secara interaktif. Sejumlah peserta yang sebelumnya telah memiliki pengalaman menggunakan Trichoderma turut menyampaikan pengalaman dan kendala yang mereka temui dalam praktik pertanian.

Pertukaran pengalaman tersebut membuat pelatihan tidak hanya berlangsung satu arah. Mahasiswa dan dosen memberikan pengetahuan, sementara petani menyampaikan pengalaman lapangan yang dapat menjadi bahan dalam pengembangan program selanjutnya.

Bukan Sekadar Pelatihan

Wakil Dekan I FPP UMM Mochammad Wachid menegaskan bahwa PPK Ormawa memiliki orientasi pemberdayaan yang lebih panjang. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya menjalankan kegiatan di masyarakat, tetapi perlu memastikan inovasi yang diperkenalkan dapat diterima dan dikembangkan bersama mitra.

“PPK Ormawa ini penting karena mitra yang terpilih nantinya memiliki peluang untuk melanjutkan ke Abdidaya. Jadi, kegiatan ini bukan sekadar KKN atau kegiatan yang selesai setelah pelatihan. Yang kita bangun adalah proses pemberdayaan yang berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia mengatakan keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh terlaksananya kegiatan. Lebih dari itu, inovasi yang diperkenalkan harus dapat diterapkan dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

“Mahasiswa tidak hanya datang membawa program, tetapi juga harus belajar dari masyarakat. Keberhasilan PPK Ormawa sangat ditentukan oleh bagaimana inovasi tersebut bisa diterima, diterapkan, dan dikembangkan bersama oleh mitra,” tambahnya.

Terhubung dengan Pengolahan Limbah Pertanian

Pengembangan Trichoderma menjadi bagian dari program yang lebih luas. Tim PPK Ormawa LSO Hipotesa FPP UMM akan mengintegrasikan pengembangan agen hayati tersebut dengan pengelolaan limbah organik hortikultura dan produksi pre-kompos.

Pendekatan tersebut diarahkan untuk memanfaatkan limbah pertanian yang sebelumnya belum dikelola secara optimal sehingga dapat kembali dimanfaatkan dalam sistem pertanian.

Melalui pengelolaan limbah organik dan pemanfaatan agen hayati, masyarakat didorong untuk mengembangkan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pengelolaan limbah secara konvensional.

SMPM 5 Pucang SBY

Rangkaian program tersebut nantinya dilanjutkan dengan pendampingan bersama masyarakat Desa Tawangargo. Dengan demikian, pelatihan perbanyakan Trichoderma menjadi salah satu tahapan awal sebelum inovasi dikembangkan lebih lanjut di tingkat kelompok tani.

Petani Didorong Menjadi Mitra

Kepala Biro Kemahasiswaan UMM Dr. Tatag Muttaqin menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Tawangargo dan kelompok tani yang telah menerima mahasiswa UMM sebagai mitra dalam program tersebut.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Desa Tawangargo dan kelompok tani yang telah menerima mahasiswa UMM dengan baik dan bersedia menjadi mitra dalam program ini. Kolaborasi seperti inilah yang menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan PPK Ormawa,” ungkapnya.

Menurut Tatag, keberhasilan pemberdayaan tidak dapat dibangun oleh mahasiswa sendiri. Masyarakat perlu terlibat dalam setiap tahapan agar inovasi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan.

“Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini. Semoga apa yang dipelajari dapat diterapkan dan dikembangkan bersama, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” lanjutnya.

Kepala Desa Tawangargo H. Sukar menyambut baik pelaksanaan PPK Ormawa LSO Hipotesa FPP UMM. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru kepada kelompok tani, terutama terkait pemanfaatan Trichoderma dan pengelolaan limbah pertanian.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Malang, khususnya mahasiswa LSO Hipotesa FPP UMM, yang telah hadir dan memberikan pendampingan kepada masyarakat Desa Tawangargo. Kami sangat menyambut baik kegiatan seperti ini karena memberikan pengetahuan dan pengalaman baru bagi kelompok tani, khususnya dalam pemanfaatan Trichoderma dan pengelolaan limbah pertanian,” ujarnya.

Ia berharap pendampingan dapat terus dilakukan hingga masyarakat mampu menerapkan teknologi yang diperkenalkan secara mandiri.

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti pada pelatihan, tetapi dapat terus didampingi sampai masyarakat benar-benar mampu menerapkannya secara mandiri. Kami juga berharap kerja sama antara Desa Tawangargo dan UMM dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak inovasi yang bisa dikembangkan untuk membantu petani,” tambahnya.

Ia juga mengajak kelompok tani untuk aktif mengikuti rangkaian program agar teknologi yang diperkenalkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pertanian di Desa Tawangargo.

Menuju Pertanian yang Lebih Berkelanjutan

Kolaborasi antara mahasiswa, dosen, pemerintah desa, dan kelompok tani menjadi bagian penting dalam pelaksanaan PPK Ormawa LSO Hipotesa FPP UMM. Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima program, tetapi dilibatkan sebagai mitra dalam proses pengembangan inovasi.

Pelatihan perbanyakan Trichoderma sp. di Balai Desa Tawangargo menjadi langkah awal dari rangkaian pendampingan yang menghubungkan pemanfaatan agen hayati dengan pengelolaan limbah organik hortikultura dan produksi pre-kompos.

Melalui program tersebut, LSO Hipotesa FPP UMM berupaya mengembangkan inovasi pertanian yang dapat diterapkan sesuai kondisi masyarakat. Keberlanjutan program akan menjadi bagian penting agar pengetahuan yang diperoleh dalam pelatihan dapat berkembang menjadi praktik yang benar-benar digunakan oleh kelompok tani.

Bagi Desa Tawangargo, kolaborasi ini membuka ruang bagi petani untuk mengenal teknologi sekaligus menyampaikan kebutuhan mereka. Sementara bagi mahasiswa, keterlibatan langsung bersama masyarakat menjadi proses belajar untuk mengembangkan inovasi yang tidak hanya berbasis pengetahuan kampus, tetapi juga pengalaman dan kebutuhan di lapangan. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 11/08/2026 22:56
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu