Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla) menggelar Seminar Inovasi Pembelajaran di Sekolah Dasar pada Senin (29/6/2026). Kegiatan akademik yang berlangsung di Convention Hall KH Hisjam, Lantai 10 Umla Tower, itu diikuti peserta dengan antusias dan menjadi ruang dialog ilmiah mengenai kurikulum, pedagogi, serta pemanfaatan teknologi pendidikan.
Seminar mengusung tema “Integrasi Kurikulum Merdeka, Deep Learning, dan Teknologi Pendidikan”, yang dinilai relevan dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21. Melalui tema tersebut, mahasiswa diharapkan semakin memahami pentingnya pembelajaran bermakna yang menekankan refleksi, kemampuan berpikir kritis, serta pengembangan kompetensi peserta didik.
Selain itu, seminar bertujuan membekali calon guru agar mampu menghubungkan kebijakan Kurikulum Merdeka dengan praktik pembelajaran di kelas.
Hadir sebagai narasumber, Vanda Rezania, S.Psi., M.Pd., dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang memiliki kepakaran di bidang teknologi pendidikan. Kehadiran narasumber eksternal memberikan perspektif baru mengenai implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasar.
Dalam paparannya, Vanda menegaskan bahwa deep learning hanya dapat terwujud apabila guru mampu merancang pengalaman belajar yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif.
“Deep learning hanya dapat tercapai jika guru mampu merancang pengalaman belajar yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif,” ujarnya.
Seminar diikuti mahasiswa PGSD semester 2 dan semester 6 sebagai peserta wajib. Panitia juga membuka kesempatan bagi mahasiswa semester lainnya, termasuk mahasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), sehingga kegiatan ini mampu menjangkau lebih banyak peserta lintas angkatan.
Dosen PGSD Umla, Oriza Zativalen, M.Pd., dalam sambutannya menekankan bahwa teknologi pendidikan kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan mudah diakses oleh siapa saja. Namun, ia mengingatkan agar teknologi tidak menggantikan peran utama guru sebagai pendidik.
“Teknologi itu sudah dalam genggaman tangan kita, tetapi jangan sampai menggantikan peran guru sebagai pendidik,” katanya.
Oriza juga mengajak mahasiswa bersikap kritis dan bijak dalam memanfaatkan teknologi. Menurutnya, teknologi harus menjadi sarana pendukung kreativitas pembelajaran, bukan pengganti interaksi edukatif antara guru dan peserta didik.
“Setelah lulus, mahasiswa akan terjun langsung menjadi guru, sehingga kepekaan pedagogis tetap harus menjadi fondasi utama,” tambahnya.
Selama sesi pemaparan, narasumber mengulas konsep deep learning dalam konteks Kurikulum Merdeka secara sistematis. Ia menjelaskan bahwa teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk memperdalam pemahaman konsep, bukan sekadar mempercepat penyampaian materi.
“Teknologi pendidikan akan efektif jika digunakan untuk memperkaya proses berpikir, bukan hanya memindahkan buku ke layar,” tegasnya.
Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang melibatkan banyak mahasiswa. Berbagai pertanyaan muncul, mulai dari kesiapan guru menghadapi transformasi digital hingga strategi menyeimbangkan pembelajaran berbasis teknologi dengan pembelajaran tatap muka.
Salah seorang mahasiswa menyampaikan bahwa tantangan terbesar calon guru adalah memilih teknologi yang sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar.
Panitia menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta selama seminar berlangsung. Menurut panitia, tingginya partisipasi mahasiswa dalam diskusi menunjukkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya inovasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan Program Studi PGSD Umla dalam meningkatkan kualitas akademik serta menyiapkan calon guru yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Melalui seminar ini, PGSD Umla menegaskan komitmennya untuk mencetak pendidik yang mampu mengintegrasikan Kurikulum Merdeka, pendekatan deep learning, dan teknologi pendidikan secara bertanggung jawab demi meningkatkan mutu pendidikan dasar di Indonesia. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments