Dalam upaya memperkuat karakter Qurani serta menanamkan nilai-nilai kepesantrenan, siswa tahfidz SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) mengikuti Program Nyantri Sepekan di Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah, Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Kegiatan yang berlangsung selama satu pekan ini diikuti oleh siswa Kelas Tahfidz X-4 dengan penuh antusias dan semangat belajar, Senin (4/5/2026).
Selama program berlangsung, para siswa menjalani aktivitas khas pesantren, mulai dari shalat berjamaah, tahsin dan tahfidz Al-Qur’an, kajian keislaman, hingga pembiasaan adab dan kedisiplinan santri. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk membentuk kepribadian Islami sekaligus memperkuat hafalan Al-Qur’an.
Direktur Smamita, Edwin Yogi Laayrananta, M.I.Kom., memberikan pesan dan motivasi kepada seluruh siswa tahfidz kelas X-4 sebelum keberangkatan. Ia menegaskan bahwa Program Nyantri Sepekan merupakan bagian dari program tahfidz yang wajib diikuti seluruh siswa.
Dalam arahannya, Edwin menekankan bahwa keberangkatan ke pesantren bukan sekadar belajar mondok, melainkan sebagai sarana pembentukan karakter dan sikap hidup yang positif.
“Di sana kalian bukan untuk menjadi santri sepenuhnya, tetapi belajar bagaimana bersikap sebagai pribadi yang positif, bertanggung jawab, dan mandiri,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kemandirian selama program berlangsung. Seluruh aktivitas harian, mulai dari ibadah, menjaga kebersihan, hingga mengatur waktu, harus dijalani secara mandiri. Hal tersebut menjadi latihan nyata dalam membangun kedewasaan dan tanggung jawab pribadi.
Selain itu, Edwin mengingatkan agar seluruh siswa menaati peraturan dan kesepakatan yang telah ditetapkan oleh para ustadz dan ustadzah di pondok pesantren. Kepatuhan terhadap aturan dinilai sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran karakter.
“Ikuti seluruh peraturan yang ada. Di situlah kalian belajar tentang disiplin dan tanggung jawab,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan kebijakan pembatasan penggunaan telepon genggam selama program berlangsung. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu siswa lebih fokus pada kegiatan tahfidz, ibadah, serta membangun interaksi sosial yang sehat.
Edwin menutup pesannya dengan doa dan harapan agar seluruh siswa dapat mengikuti rangkaian kegiatan dengan baik serta pulang membawa perubahan positif.
“Semoga selama sepekan ke depan kalian menjadi pribadi yang lebih baik, aktivitasnya dimudahkan, dan pengalaman ini menjadi bekal berharga untuk masa depan,” pungkasnya.
Sementara itu, Waka Ismuba Smamita, Miftahol Jannah, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa Program Nyantri Sepekan merupakan bagian dari penguatan pembelajaran berbasis karakter.
“Melalui program ini, siswa tidak hanya fokus pada hafalan, tetapi juga belajar hidup mandiri, disiplin, serta membiasakan akhlak santri dalam keseharian,” tuturnya.
Para ustadz dan pengasuh pondok turut memberikan pendampingan intensif, baik dalam setor hafalan, murojaah, maupun pembinaan ruhiyah. Lingkungan pesantren yang kondusif dinilai mampu membantu siswa lebih fokus dan khusyuk dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Melalui Program Nyantri Sepekan, Smamita berharap dapat melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, kemandirian, serta spiritualitas yang kuat sebagai bekal masa depan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments