Sintesis Pemikiran Tokoh Bangsa
Sesungguhnya, gagasan tentang pentingnya pendidikan yang membentuk karakter bukanlah konsep baru. Jauh sebelum dunia berbicara mengenai Education for Sustainable Development (ESD), para pendiri bangsa telah meletakkan fondasi pendidikan yang berpusat pada pembentukan manusia seutuhnya.
Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, menegaskan bahwa tujuan pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Pendidikan adalah proses memerdekakan manusia lahir dan batin. Manusia yang merdeka bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki keluhuran budi, kepekaan sosial, dan keberanian bertindak demi kemaslahatan bersama.
Dalam konsep Ki Hajar Dewantara, pendidikan harus mengembangkan tiga unsur secara seimbang, yaitu cipta, rasa, dan karsa.
Cipta melahirkan kemampuan berpikir kritis, menganalisis persoalan, dan menemukan solusi. Rasa membangun empati, kasih sayang, serta kepekaan terhadap penderitaan sesama maupun kerusakan alam. Sementara karsa melahirkan tekad dan keberanian untuk mewujudkan nilai-nilai kebaikan dalam tindakan nyata.
Sayangnya, praktik pendidikan kita masih cenderung berat sebelah. Sekolah berhasil mengembangkan aspek cipta melalui berbagai mata pelajaran, olimpiade, kompetisi akademik, dan capaian nilai. Namun dua dimensi lain, yakni rasa dan karsa, belum memperoleh ruang yang sama besar.
Akibatnya, lahirlah generasi yang mampu menghitung keuntungan ekonomi secara cermat, tetapi kurang peka terhadap biaya ekologis yang harus ditanggung masyarakat. Mereka mampu menjelaskan teori pembangunan berkelanjutan, tetapi belum tentu memiliki kepedulian ketika melihat pohon ditebang tanpa perencanaan atau sungai dipenuhi sampah plastik.
Padahal, Ki Hajar Dewantara juga mengingatkan bahwa pendidikan karakter tidak mungkin berhasil jika hanya berlangsung di ruang kelas. Melalui konsep Tri Pusat Pendidikan, beliau menempatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai tiga lingkungan yang saling menguatkan.
Seorang anak yang diajarkan menjaga lingkungan di sekolah akan kesulitan mempertahankan kebiasaan itu apabila di rumah orang tuanya masih membuang sampah sembarangan. Sebaliknya, keluarga yang telah membangun budaya hidup bersih akan memperoleh penguatan apabila sekolah dan lingkungan sosial memberikan keteladanan yang sama.
Di sinilah relevansi semboyan pendidikan Ki Hajar Dewantara: Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Keteladanan jauh lebih efektif daripada ceramah. Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Pemikiran tersebut memperoleh penguatan dari Tan Malaka melalui karya monumentalnya, Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Tan Malaka mengkritik sistem pendidikan yang terlalu mengandalkan hafalan sehingga melahirkan manusia yang patuh mengingat, tetapi lemah dalam berpikir kritis.
Namun nalar yang dimaksud Tan Malaka bukanlah logika yang dingin dan terlepas dari nilai-nilai kemanusiaan. Logika justru harus membantu manusia memahami hubungan sebab-akibat dalam kehidupan.
Sampah yang dibuang ke sungai tidak pernah benar-benar hilang. Ia akan menyumbat saluran air, memperbesar risiko banjir, mencemari laut, dan pada akhirnya kembali ke meja makan manusia dalam bentuk mikroplastik. Penebangan pohon secara serampangan akan mengurangi daya resap tanah, meningkatkan suhu kota, dan memperbesar ancaman krisis air di masa depan.
Logika yang sehat membawa manusia pada kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Ketika kesadaran itu bertemu dengan empati, lahirlah tanggung jawab moral terhadap lingkungan.
Dengan demikian, Ki Hajar Dewantara dan Tan Malaka sebenarnya bertemu pada satu titik penting. Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu berpikir jernih sekaligus memiliki hati nurani. Kecerdasan intelektual yang tidak disertai empati hanya akan menghasilkan eksploitasi yang semakin canggih. Sebaliknya, empati tanpa pengetahuan juga tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan lingkungan yang semakin kompleks.
Karena itu, pendidikan masa depan harus mengintegrasikan pengetahuan, karakter, dan tindakan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Surabaya sebagai Laboratorium Hidup Pendidikan Lingkungan
Jika pendidikan afektif berbasis literasi lingkungan sering dianggap sebagai konsep yang terlalu idealistis, Surabaya justru memiliki semua prasyarat untuk membuktikan bahwa gagasan tersebut dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Sebagai kota metropolitan dengan penduduk lebih dari tiga juta jiwa dan produksi sampah yang mencapai sekitar 1.800 ton setiap hari, Surabaya menghadapi tantangan lingkungan yang tidak ringan. Namun di balik tantangan itu tersimpan peluang besar untuk menjadi pusat pembelajaran lingkungan hidup bagi Indonesia.
Selama lebih dari dua dekade, Surabaya telah dikenal sebagai salah satu kota yang paling konsisten membangun budaya kebersihan. Program Green and Clean, gerakan penghijauan, pengembangan taman kota, bank sampah, rumah kompos, TPS 3R, Kampung Zero Waste, hingga sekolah Adiwiyata merupakan bukti bahwa Pemerintah Kota tidak pernah berhenti melakukan inovasi.
Prestasi tersebut layak diapresiasi. Akan tetapi, pengalaman juga menunjukkan bahwa membangun infrastruktur jauh lebih mudah daripada membangun budaya.
Tempat sampah dapat disediakan di setiap sudut kota, tetapi belum tentu digunakan dengan benar. Bank sampah dapat didirikan di setiap kelurahan, tetapi belum tentu masyarakat memilah sampah dari rumah. Taman kota dapat dibangun dengan anggaran besar, tetapi belum tentu seluruh warga merasa memiliki dan menjaganya.
Artinya, persoalan utama bukan lagi ketersediaan fasilitas, melainkan kualitas karakter masyarakat.
Di sinilah pendidikan afektif menemukan relevansinya. Seluruh fasilitas lingkungan yang dimiliki Surabaya seharusnya tidak hanya dipandang sebagai infrastruktur pelayanan publik, tetapi juga sebagai ruang belajar yang hidup.
Rumah kompos bukan sekadar tempat mengolah sampah organik. Ia dapat menjadi laboratorium pembelajaran tentang siklus kehidupan. Bank sampah bukan hanya tempat menabung sampah, tetapi juga ruang pendidikan mengenai ekonomi sirkular, tanggung jawab sosial, dan nilai gotong royong. Taman kota bukan sekadar ruang rekreasi, melainkan kelas terbuka untuk mengenalkan keanekaragaman hayati, perubahan iklim, dan pentingnya keseimbangan ekosistem.
Melalui pengalaman langsung seperti itu, peserta didik tidak hanya memahami konsep-konsep lingkungan secara teoritis, tetapi juga mengalami sendiri prosesnya. Mereka belajar bahwa menjaga lingkungan bukan pekerjaan pemerintah semata, melainkan tanggung jawab setiap warga negara.
Pendekatan semacam ini sejalan dengan pemikiran Fritjof Capra yang memandang manusia sebagai bagian dari jaringan kehidupan (web of life). Alam bukan objek yang dapat dieksploitasi tanpa batas, melainkan sistem kehidupan yang saling bergantung. Ketika satu bagian rusak, bagian lain akan ikut merasakan dampaknya.
Pandangan tersebut juga menjadi ruh Education for Sustainable Development (ESD) UNESCO 2030, yang menekankan bahwa pendidikan harus membentuk kompetensi, nilai, sikap, dan perilaku yang memungkinkan setiap orang mengambil keputusan secara bertanggung jawab demi keberlanjutan bumi.
Dengan demikian, Surabaya memiliki peluang besar untuk menjadi pelopor pendidikan lingkungan berbasis karakter. Kota ini tidak kekurangan program ataupun infrastruktur. Yang dibutuhkan sekarang adalah menyatukan seluruh potensi tersebut dalam sebuah gerakan pendidikan yang mampu menghubungkan pengetahuan, pengalaman, dan pembentukan karakter secara berkelanjutan.





0 Tanggapan
Empty Comments