Hampir setiap siswa hari ini memahami bahwa membuang sampah ke sungai adalah tindakan yang keliru. Mereka mengenal istilah pemanasan global, perubahan iklim, ekonomi sirkular, bahkan target Net Zero Emission. Beragam informasi tersebut dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik melalui internet atau aplikasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Namun muncul pertanyaan yang mengusik. Jika pengetahuan tentang lingkungan semakin mudah diakses, mengapa sungai masih dipenuhi sampah plastik?
Mengapa penggunaan barang sekali pakai tetap menjadi kebiasaan? Mengapa ruang terbuka hijau terus menyusut di tengah pesatnya pembangunan kota?
Paradoks inilah yang memperlihatkan persoalan sesungguhnya. Krisis yang kita hadapi bukanlah kekurangan pengetahuan, melainkan menurunnya kepedulian.
Kita tidak sedang mengalami darurat informasi, tetapi darurat pendidikan afektif—pendidikan yang mampu menumbuhkan empati, rasa memiliki, dan tanggung jawab terhadap kehidupan di sekitar.
Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, transformasi digital, dan transisi menuju ekonomi hijau, Surabaya sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia menjadi cermin dinamika perkotaan nasional.
Kota Surabaya terus berkembang melalui pembangunan infrastruktur, peningkatan investasi, dan inovasi pelayanan publik. Namun di balik berbagai kemajuan tersebut, tersimpan tantangan yang jauh lebih mendasar.
Persoalan terbesar Surabaya sesungguhnya bukan terletak pada keterbatasan sumber daya alam, kekurangan teknologi, lemahnya regulasi, ataupun minimnya infrastruktur.
Akar dari banyak persoalan lingkungan, sosial, bahkan budaya justru berada pada melemahnya kemampuan manusia untuk merasakan, peduli, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan tempat ia hidup.
Kita menyaksikan fakta yang ironis. Di sekolah, anak-anak mampu menjelaskan proses pencemaran air, bahaya emisi karbon, hingga pentingnya konservasi lingkungan.
Mereka dapat menjawab soal ujian dengan baik, tetapi belum tentu tergerak memungut sampah yang berserakan di halaman sekolahnya sendiri. Pengetahuan berhenti sebagai hafalan, belum menjelma menjadi kebiasaan.
Realitas tersebut tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari. Sungai-sungai masih menerima kiriman sampah rumah tangga. Plastik sekali pakai tetap menjadi pilihan utama masyarakat.
Ruang terbuka hijau terus terdesak oleh ekspansi kawasan terbangun. Semua itu menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bukan semata-mata akibat kurangnya informasi, melainkan kegagalan menanamkan nilai.
Selama ini kita berhasil mencetak generasi yang mengetahui apa yang benar, tetapi belum berhasil melahirkan generasi yang merasa bertanggung jawab untuk melakukannya.
Kita mengajarkan pelestarian lingkungan sebagai materi pelajaran, tetapi belum menjadikannya sebagai budaya hidup.
Inilah paradoks pendidikan kita. Sekolah berhasil membangun kemampuan berpikir, tetapi belum sepenuhnya berhasil membangun kepekaan hati.
Pendidikan lebih banyak melahirkan manusia yang mengetahui (knowing) daripada manusia yang menghayati (being).
Akibatnya, ilmu pengetahuan kehilangan daya transformasinya. Ia hanya hadir ketika dibutuhkan untuk menjawab ujian, lalu menghilang dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Padahal, keberhasilan pendidikan sejati tidak hanya diukur dari banyaknya pengetahuan yang dimiliki seseorang, melainkan dari perubahan perilaku yang lahir dari pengetahuan tersebut.
Ketika ilmu tidak melahirkan kepedulian, maka pendidikan kehilangan makna terdalamnya sebagai proses memanusiakan manusia.
Paradigma Kognitif dan Struktur Taksonomi Afektif
Darurat pendidikan afektif yang kita rasakan hari ini merupakan konsekuensi dari orientasi pendidikan nasional yang selama puluhan tahun terlalu menitikberatkan aspek kognitif.
Keberhasilan sekolah hampir selalu diukur melalui angka-angka: nilai ujian, rata-rata rapor, indeks prestasi, persentase kelulusan, hingga capaian akademik lainnya.
Tidak ada yang salah dengan prestasi akademik. Namun persoalan muncul ketika ukuran keberhasilan pendidikan hanya berhenti pada angka.
Sementara itu, dimensi afektif—yang mencakup sikap, empati, kepedulian, tanggung jawab moral, dan komitmen terhadap nilai—sering kali diposisikan sebagai pelengkap kurikulum. Ia diajarkan, tetapi jarang diukur secara sungguh-sungguh. Ia ditulis dalam dokumen pembelajaran, tetapi belum menjadi budaya sekolah.
Padahal, Benjamin Bloom bersama David Krathwohl telah lama menjelaskan bahwa ranah afektif merupakan bagian integral dari tujuan pendidikan. Nilai tidak lahir secara instan. Ia tumbuh melalui proses internalisasi yang berlangsung bertahap hingga akhirnya menjadi karakter.
Krathwohl membagi proses tersebut ke dalam lima jenjang perkembangan. Tahap pertama adalah receiving atau menerima, yaitu ketika seseorang mulai menyadari dan memberi perhatian terhadap suatu nilai.
Dalam konteks literasi lingkungan, tahap ini tampak ketika siswa mulai menyadari pentingnya menjaga kebersihan, mengenali persoalan sampah, atau memahami dampak kerusakan lingkungan.
Tahap kedua adalah responding, yaitu memberikan respons nyata terhadap nilai yang telah dipahami.
Kesadaran tidak lagi berhenti pada pengetahuan, tetapi mulai diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, ikut membersihkan lingkungan sekolah, atau terlibat dalam kegiatan penghijauan.
Tahap ketiga adalah valuing, ketika seseorang mulai meyakini bahwa nilai tersebut penting dan layak dipertahankan.
Menjaga lingkungan bukan lagi karena takut dihukum guru, melainkan karena lahir dari keyakinan pribadi.
Tahap berikutnya adalah organization, yaitu kemampuan menyusun berbagai nilai menjadi bagian dari sistem keyakinan yang utuh.
Pada fase ini seseorang mulai mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai yang diyakininya, meskipun menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar.
Puncaknya adalah characterization, yaitu ketika nilai telah menyatu menjadi karakter. Pada tahap ini kepedulian terhadap lingkungan tidak lagi memerlukan pengawasan. Ia telah menjadi bagian dari kepribadian dan tercermin dalam setiap tindakan sehari-hari.
Persoalannya, sistem pendidikan kita sering kali berhenti pada tahap pertama. Sekolah berhasil membuat siswa mengetahui pentingnya menjaga lingkungan, tetapi belum sepenuhnya mengantar mereka hingga nilai tersebut menjadi karakter yang melekat. Di sinilah letak kesenjangan terbesar pendidikan kita.
Tanpa internalisasi afektif, pengetahuan hanya menjadi informasi yang tersimpan di kepala. Ia tidak memiliki kekuatan untuk mengubah perilaku.
Sebaliknya, ketika pengetahuan bertemu dengan empati dan pembiasaan, ia berubah menjadi karakter yang mampu menggerakkan seseorang melakukan kebaikan, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.





0 Tanggapan
Empty Comments