Menuju Perubahan Perilaku dan Asta Cita
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa banyak informasi yang berhasil ditransfer kepada peserta didik, melainkan dari seberapa jauh pengetahuan tersebut mengubah cara mereka berpikir, bersikap, dan bertindak. Pendidikan menemukan maknanya ketika ilmu melahirkan karakter, dan karakter melahirkan tindakan yang membawa manfaat bagi sesama serta lingkungan.
Karena itu, perubahan perilaku tidak pernah terjadi secara spontan. Ia merupakan hasil dari proses pendidikan yang berlangsung terus-menerus, konsisten, dan diperkuat oleh keteladanan. Tidak ada karakter yang tumbuh dalam ruang hampa. Ia dibentuk oleh pengalaman, pembiasaan, dan lingkungan sosial yang mendukung.
Dalam konteks Surabaya, transformasi tersebut harus dimulai dari sekolah. Kepala sekolah tidak lagi cukup berperan sebagai administrator pendidikan, tetapi juga sebagai pemimpin perubahan budaya (culture leader). Guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran, melainkan teladan yang menghadirkan nilai-nilai kehidupan dalam setiap proses pembelajaran. Sementara itu, peserta didik perlu diposisikan sebagai subjek perubahan yang aktif, bukan sekadar penerima informasi.
Namun, pendidikan karakter tidak mungkin dibebankan kepada sekolah semata. Ki Hajar Dewantara telah mengingatkan melalui konsep Tri Pusat Pendidikan bahwa keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan tiga pilar yang saling melengkapi. Ketika ketiganya berjalan dalam arah yang sama, proses internalisasi nilai akan berlangsung jauh lebih efektif.
Bayangkan apabila setiap rumah di Surabaya membiasakan pemilahan sampah sejak dari dapur. Setiap sekolah menjadikan taman, bank sampah, dan rumah kompos sebagai ruang belajar terbuka. Setiap kampung menghidupkan kembali budaya gotong royong menjaga kebersihan lingkungan. Setiap tempat ibadah menyisipkan pesan-pesan moral tentang amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Nilai-nilai lingkungan tidak lagi hadir sebagai slogan dalam spanduk atau materi pelajaran, melainkan menjadi budaya hidup yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Di sinilah sesungguhnya literasi lingkungan memperoleh makna yang lebih luas. Literasi bukan hanya kemampuan memahami informasi, tetapi kemampuan menggunakan pengetahuan tersebut untuk mengambil keputusan yang benar dan bertanggung jawab. Seseorang disebut melek lingkungan bukan karena mampu menghafal istilah perubahan iklim atau ekonomi sirkular, melainkan karena ia menjadikan kepedulian terhadap alam sebagai bagian dari identitas dirinya.
Oleh sebab itu, indikator keberhasilan pendidikan juga perlu diperbarui. Selama ini sekolah terlalu sering dinilai berdasarkan capaian akademik semata. Padahal keberhasilan pendidikan semestinya juga tercermin dalam perubahan perilaku kolektif. Sekolah yang berhasil bukan hanya sekolah dengan nilai ujian tertinggi, tetapi sekolah yang mampu mengurangi volume sampah, menghemat penggunaan air dan energi, memperluas ruang hijau, serta membangun budaya hidup bersih dan berkelanjutan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional. Presiden Republik Indonesia menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai salah satu prioritas utama melalui Asta Cita, yang menegaskan pentingnya membangun manusia Indonesia yang unggul, berkarakter, sehat, produktif, serta memiliki daya saing global. Semua itu tidak mungkin dicapai apabila pendidikan masih berorientasi semata pada aspek kognitif.
Lebih jauh lagi, pendidikan afektif berbasis literasi lingkungan juga merupakan fondasi penting untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Bonus demografi yang sedang dinikmati bangsa ini hanya akan menjadi berkah apabila diisi oleh generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas, empati, dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan kehidupan.
Agenda tersebut selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), pengembangan ekonomi sirkular, serta komitmen Indonesia mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat.
Seluruh agenda besar itu pada akhirnya bermuara pada satu titik yang sama, yakni kualitas manusianya. Teknologi dapat dibeli, infrastruktur dapat dibangun, dan investasi dapat didatangkan. Namun karakter tidak dapat dipercepat melalui proyek ataupun anggaran. Ia hanya dapat dibentuk melalui pendidikan yang konsisten dan keteladanan yang terus-menerus.
Karena itulah, gerakan Pendidikan Afektif Berbasis Literasi Lingkungan Hidup tidak seharusnya dipandang sebagai program tambahan yang membebani sekolah. Sebaliknya, gerakan ini merupakan strategi jangka panjang untuk membangun peradaban yang lebih berkelanjutan.
Pendidikan lingkungan tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial seperti penanaman pohon atau peringatan Hari Bumi, tetapi harus menjadi napas dalam setiap proses pembelajaran, kebijakan sekolah, hingga budaya masyarakat.
Surabaya memiliki semua modal untuk menjadi pelopor gerakan tersebut. Kota ini telah memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan lingkungan, jaringan sekolah yang kuat, komunitas masyarakat yang aktif, serta komitmen pemerintah daerah terhadap pembangunan berkelanjutan. Tantangan berikutnya adalah menyatukan seluruh potensi itu ke dalam gerakan pendidikan yang menyentuh akal sekaligus hati.
Pada akhirnya, kota yang maju tidak ditentukan oleh tingginya gedung pencakar langit, panjangnya jalan layang, atau canggihnya teknologi yang digunakan. Kemajuan sejati diukur dari kualitas manusianya—manusia yang mampu memadukan kecerdasan intelektual dengan keluhuran budi, kemajuan ilmu pengetahuan dengan kebijaksanaan, serta kemakmuran ekonomi dengan tanggung jawab ekologis.
Sungai yang bersih, udara yang sehat, taman yang hijau, dan lingkungan yang lestari bukanlah hadiah yang datang dengan sendirinya. Semuanya adalah cermin dari keberhasilan sebuah bangsa mendidik warganya.
Jika hari ini kita masih menyaksikan sungai yang keruh, gunungan sampah di berbagai sudut kota, dan menurunnya kepedulian terhadap lingkungan, sesungguhnya itu bukan kegagalan alam. Itu adalah cermin bahwa pendidikan kita masih menyisakan pekerjaan besar: membangun manusia yang bukan hanya cerdas berpikir, tetapi juga cerdas merasakan dan cerdas bertindak.
Sudah saatnya Surabaya mengambil langkah lebih berani. Bukan hanya menjadi kota yang bersih, melainkan menjadi kota yang mendidik. Kota yang menjadikan setiap taman sebagai ruang belajar, setiap bank sampah sebagai pusat pembentukan karakter, setiap sekolah sebagai laboratorium kepedulian, dan setiap warganya sebagai guru bagi generasi berikutnya.
Sebab pada akhirnya, warisan terbesar yang dapat kita tinggalkan bukanlah gedung-gedung megah ataupun teknologi yang terus berubah, melainkan manusia yang memiliki hati untuk mencintai kehidupan. Dari manusia-manusia seperti itulah lahir kota yang beradab, bangsa yang berkelanjutan, dan masa depan Indonesia yang benar-benar layak diwariskan kepada anak cucu. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments