Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Tafsir, mengajak warga Muhammadiyah untuk terus melestarikan tradisi halal bihalal sebagai bagian dari penguatan silaturahmi dan dakwah kultural.
Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan Halal Bihalal Muhammadiyah Kabupaten Pemalang yang digelar di Pendopo Kantor DPRD Pemalang, Minggu pagi (29/3/2026), dan dihadiri ribuan jemaah.
Dalam tausiyahnya, Tafsir menegaskan bahwa halal bihalal merupakan tradisi khas Nusantara yang memiliki nilai strategis dalam mempererat hubungan sosial sekaligus menyampaikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.
“Halal bihalal memiliki multifungsi, yakni sebuah tradisi yang diserap dari syariat, yaitu syariat silaturahmi yang diturunkan menjadi budaya bangsa. Tentu bukan perkara mudah, tetapi inilah prestasi dakwah yang luar biasa, bagaimana syariat menjadi budaya,” ungkapnya.
Ia menilai halal bihalal sebagai bentuk kreativitas dalam proses islamisasi budaya lokal. Menurutnya, dakwah tidak hanya dilakukan melalui pendekatan tekstual, tetapi juga melalui pendekatan budaya.
“Ini kreativitas islamisasi. Islam adalah Al-Qur’an dan Hadis, tetapi islamisasi membutuhkan kreativitas. Inilah bagian dari kreativitas budaya keagamaan sebagai upaya internalisasi dan ideologisasi nilai Islam terhadap masyarakat dan budaya Indonesia,” kata Tafsir.
Muhammadiyah Pelopor Halal Bihalal
Tafsir juga menyebut bahwa Muhammadiyah menjadi salah satu pelopor tradisi halal bihalal di Indonesia sejak 1930-an sebagai sarana mempererat silaturahmi antarwarga.
“Jadi Muhammadiyah justru yang mengawali halal bihalal sejak tahun 1930-an. Muhammadiyah tidak pernah lupa akan tradisi yang berfungsi untuk islamisasi, sehingga halal bihalal menjadi sarana mentradisikan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat dan budaya bangsa,” ujarnya.
Ia pun mengajak warga Muhammadiyah untuk tidak ragu dalam mempertahankan tradisi tersebut karena dinilai membawa dampak positif bagi kehidupan sosial dan keagamaan.
“Muhammadiyah jangan kehilangan kepercayaan diri untuk mempertahankan budaya keagamaan itu. Kalimat ‘mohon maaf lahir batin’ dan ‘minal aidin wal faizin’ tidak perlu dihapus dari kartu Idulfitri dan spanduk Lebaran. Itu merupakan bentuk pemaknaan Idulfitri sesuai dengan konteks keindonesiaan, sehingga harus dipertahankan,” terang Tafsir.
Selain itu, dosen Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang tersebut berharap soliditas warga Muhammadiyah, khususnya di Pemalang, semakin kuat serta hubungan dengan pemerintah daerah tetap harmonis.
“Semoga jalinan silaturahmi dan soliditas warga Muhammadiyah Pemalang semakin kuat, serta hubungan dengan pemerintah daerah harmonis, karena dakwah tidak akan lancar tanpa dukungan penguasa daerah,” pungkasnya.
Kegiatan Halal Bihalal Muhammadiyah Pemalang berlangsung meriah dengan kehadiran sekitar lima ribu jemaah yang mengikuti rangkaian acara sejak pagi.





0 Tanggapan
Empty Comments