Budaya literasi memiliki peran penting dalam membentuk kualitas mahasiswa di tengah perkembangan era digital saat ini. Kemampuan membaca, memahami informasi, melakukan riset, hingga berpikir kritis menjadi bekal utama dalam menghadapi tantangan akademik maupun sosial.
Kesadaran itulah yang melatarbelakangi kegiatan pengabdian masyarakat yang diinisiasi Program Studi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Palangkaraya Kampus Pulang Pisau melalui dosen Administrasi Publik, Muhammad Irvan Yazid Azhar Pasaribu.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Pendampingan Literasi Ilmiah dan Pemanfaatan Taman Pustaka KH Ahmad Dahlan sebagai Basis Riset Ekonomi Publik”.
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Kompleks Masjid KH Ahmad Dahlan itu menjadi ruang kolaborasi positif antara kampus dan gerakan literasi masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, Taman Pustaka KH Ahmad Dahlan turut dilibatkan untuk berbagi pengalaman serta wawasan mengenai pentingnya literasi dan penguatan budaya membaca di kalangan mahasiswa.
Keberadaan Taman Pustaka KH Ahmad Dahlan sendiri lahir dari semangat menghadirkan ruang belajar bersama bagi masyarakat dan generasi muda.
Berawal dari langkah sederhana melalui pengumpulan buku bacaan dan pembangunan ruang diskusi kecil, taman pustaka tersebut perlahan berkembang menjadi ruang literasi masyarakat yang terbuka untuk kegiatan membaca, berdiskusi, hingga kolaborasi edukatif.
Sebagai bagian dari kegiatan tersebut, penulis juga berkesempatan menjadi narasumber untuk berbagi pengalaman mengenai perjalanan pengembangan taman pustaka serta pentingnya membangun budaya literasi di tengah masyarakat.
Dalam pemaparan kepada mahasiswa, perjalanan taman pustaka menjadi bagian awal diskusi untuk menunjukkan bahwa gerakan literasi dapat dimulai dari hal-hal sederhana, tetapi mampu memberikan dampak besar apabila dijalankan secara konsisten dan bersama-sama.
Selain mengenalkan sejarah dan perkembangan taman pustaka, diskusi bersama mahasiswa juga membahas tiga poin utama yang relevan dengan kehidupan akademik saat ini.
Pertama, literasi sebagai fondasi akademik.
Kemampuan membaca dan melakukan riset menjadi unsur penting dalam membangun kualitas mahasiswa. Literasi membantu mahasiswa memahami materi perkuliahan, melatih kemampuan berpikir kritis, memperkuat analisis, serta mendukung proses penulisan karya ilmiah.
Mahasiswa yang memiliki budaya membaca yang baik akan lebih siap menghadapi tantangan akademik maupun dunia kerja.
Karena itu, budaya literasi perlu terus ditumbuhkan di lingkungan kampus agar tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan intelektual.
Kedua, peran Taman Pustaka KH Ahmad Dahlan sebagai mitra mahasiswa.
Kehadiran taman pustaka diharapkan dapat menjadi ruang belajar bersama, pusat referensi sederhana, tempat berdiskusi, sekaligus ruang kolaborasi kegiatan literasi dan akademik bagi mahasiswa di masa mendatang.
Kedekatan lokasi antara kampus dan taman pustaka juga menjadi peluang yang baik untuk membangun budaya akademik yang lebih hidup dan dekat dengan masyarakat.
Kampus dan komunitas literasi sejatinya dapat berjalan beriringan dalam menciptakan ruang belajar yang inklusif dan terbuka.
Ketiga, pentingnya bijak dalam literasi digital.
Di era media sosial saat ini, mahasiswa dihadapkan pada melimpahnya informasi yang belum tentu benar. Hoaks mudah tersebar, sementara budaya copy-paste tanpa verifikasi masih menjadi tantangan dalam dunia akademik.
Karena itu, mahasiswa perlu membiasakan diri menggunakan sumber terpercaya seperti jurnal, buku, dan referensi ilmiah lainnya.
Media sosial pun semestinya dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar, berbagi gagasan, serta membangun karya-karya positif yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Kegiatan ini menjadi langkah yang patut diapresiasi karena menghadirkan pendekatan akademik yang lebih dekat dengan realitas sosial dan kebutuhan mahasiswa saat ini.
Kehadiran kampus dalam membangun ruang kolaborasi literasi seperti ini menjadi sesuatu yang positif dan masih relatif jarang dilakukan di Pulang Pisau.
Melalui sinergi antara kampus dan komunitas literasi, diharapkan lahir generasi mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, kemampuan berpikir kritis, serta budaya belajar yang kuat.
Sebab, pada akhirnya membaca bukan sekadar membuka wawasan, tetapi juga membuka jalan menuju perubahan. Sementara menulis bukan hanya merangkai kata, melainkan meninggalkan jejak pemikiran bagi masa depan.
Budaya akademik mahasiswa melalui kolaborasi literasi





0 Tanggapan
Empty Comments