Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tapak Suci Menuju Panggung Dunia

Iklan Landscape Smamda
Tapak Suci Menuju Panggung Dunia
Tapak Suci Menuju Panggung Dunia
Oleh : Prof. Triyo Supriyatno Kader Utama Tapak Suci Putra Muhammadiyah Pimda 027 Kota Malang
Dari Gelanggang Lokal Menuju Panggung Dunia

Menjadikan Tapak Suci “mendunia” bukanlah sebuah mimpi yang utopis. Perguruan ini telah memiliki modalitas yang kuat: identitas yang kokoh, jaringan global Muhammadiyah, tradisi pencak silat yang diakui, serta ribuan atlet dan pelatih berkualitas.

Kehadiran perwakilan dari berbagai negara dalam Muktamar XVI menjadi bukti nyata bahwa kiprah Tapak Suci telah melampaui batas domestik Indonesia.

Namun, mendunia harus dimaknai lebih dalam daripada sekadar mendirikan cabang di luar negeri. Mendunia berarti mampu menjadi pemain global melalui strategi internasionalisasi yang jelas:

  1. Memperkuat kapasitas dan pembinaan di cabang-cabang luar negeri.
  2. Membangun pusat pelatihan internasional yang representatif.
  3. Mengembangkan sistem sertifikasi pelatih dan wasit berstandar internasional.
  4. Menjalin kerja sama strategis dengan universitas dan organisasi olahraga lintas negara.
  5. Memperkuat publikasi, penyiaran, serta branding di tingkat internasional.
  6. Menjadikan pencak silat sebagai instrumen diplomasi budaya Indonesia sekaligus syiar Islam berkemajuan.

Melalui rute ini, para pendekar dapat mengambil peran yang jauh lebih besar sebagai duta perdamaian.

Gerakan bela diri tidak lagi diidentikkan dengan kekerasan, melainkan bertransformasi menjadi sarana pendidikan pengendalian diri, penghormatan antarsesama, dan kedisiplinan.

Inilah wajah asli Islam berkemajuan: kuat tetapi tidak kasar, berani tetapi tidak arogan, serta disiplin namun tetap humanis.

Kampus Muhammadiyah sebagai Laboratorium Masa Depan

Salah satu pilar kekuatan terbesar Tapak Suci adalah kedekatan historis dan strukturalnya dengan institusi pendidikan Muhammadiyah.

Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) tidak boleh hanya memposisikan diri sebagai wadah bernaungnya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tapak Suci.

Lebih jauh dari itu, kampus harus hadir menjadi laboratorium ilmiah bagi pengembangan Tapak Suci modern melalui pendekatan lintas disiplin ilmu:

  • Fakultas Ilmu Keolahragaan: Melakukan riset dan penerapan sport science guna mendongkrak performa fisik atlet.
  • Fakultas Kesehatan/Kedokteran: Mengembangkan kajian sport medicine dan metode pencegahan cedera (injury prevention).
  • Fakultas Psikologi: Melakukan pendampingan dan penelitian untuk memperkuat mental bertanding para atlet.
  • Fakultas Ilmu Pendidikan: Merumuskan pedagogi kepelatihan yang efektif, adaptif, dan ramah terhadap perkembangan anak.
  • Fakultas Ekonomi: Mengembangkan konsep sport entrepreneurship untuk menyokong kemandirian finansial organisasi.
  • Fakultas Teknik/Teknologi: Membangun aplikasi penunjang, sistem data digital, dan infrastruktur teknologi informasi perguruan.
  • Fakultas Komunikasi: Memperkuat strategi branding, hubungan masyarakat, serta diplomasi digital Tapak Suci di panggung global.

Melalui pendekatan lintas disiplin tersebut, Tapak Suci dan kampus Muhammadiyah dapat membangun simbiosis yang produktif.

Tapak Suci menyediakan laboratorium nyata bagi pembinaan manusia, sementara pihak kampus memberikan sokongan ilmu pengetahuan serta inovasi keilmuan.

Hubungan timbal balik seperti ini jauh lebih strategis daripada sekadar menempatkan Tapak Suci sebagai kegiatan ekstrakurikuler biasa. Gagasan penguatan relasi antara Tapak Suci dan PTMA inilah yang menjadi salah satu wacana krusial menjelang pelaksanaan Muktamar XVI.

Kaderisasi Adalah Jantung Organisasi

Tidak ada organisasi besar yang mampu bertahan hidup tanpa kaderisasi. Muktamar XVI harus menjadi momentum krusial untuk mengubah cara pandang kita terhadap pola kaderisasi.

SMPM 5 Pucang SBY

Definisi kader tidak boleh lagi dipersempit hanya sebatas orang yang mahir memperagakan jurus di atas gelanggang. Kader sejati adalah manusia yang memiliki paket lengkap: kompetensi, karakter, loyalitas, kapasitas kepemimpinan, dan visi masa depan yang jelas.

Oleh karena itu, Tapak Suci perlu membangun dan memperkuat jenjang kaderisasi yang lebih sistematis dari hulu ke hilir:

Siswa → Atlet → Kader → Pelatih → Pendekar → Pimpinan → Pemimpin Bangsa.

Setiap anak tangga dalam jenjang tersebut harus memiliki indikator standar kompetensi yang jelas.

Kader Tapak Suci masa depan harus mampu berdiaspora dan mengisi berbagai pos strategis publik—menjadi guru, dosen, dokter, pengusaha, birokrat, akademisi, profesional, anggota legislatif, pemimpin masyarakat, hingga diplomat—tanpa sedikit pun kehilangan identitas aslinya sebagai kader Muhammadiyah dan pendekar Tapak Suci.

Inilah investasi organisasi yang sesungguhnya. Keberhasilan kita tidak lagi diukur dari seberapa banyak jumlah anggota yang tercatat di atas kertas, melainkan seberapa banyak manusia berkualitas yang berhasil dilahirkan bagi peradaban.

Jangan Terjebak Romantisme Masa Lalu

Ada satu tantangan internal yang harus diwaspadai bersama. Organisasi yang memiliki sejarah panjang sering kali rawan terjebak ke dalam romantisme masa lalu. Kita terlalu sering bernostalgia dengan kalimat, “Dulu Tapak Suci itu sangat hebat.”

Pertanyaan yang jauh lebih penting dan mendesak untuk dijawab hari ini adalah: Apakah Tapak Suci akan tetap hebat dalam kurun waktu 20, 30, atau 50 tahun mendatang?

Jawabannya sama sekali tidak ditentukan oleh capaian masa lalu, melainkan oleh keberanian kolektif kita hari ini untuk melakukan perubahan. Menghormati jasa para pendiri bukan berarti kita harus meniru mentah-mentah semua cara lama.

Justru cara terbaik untuk memuliakan mereka adalah dengan meneruskan keberanian mereka dalam melakukan inovasi.

Para pendiri Tapak Suci dahulu berani membaca kebutuhan zamannya; maka generasi sekarang pun harus memiliki nyali yang sama untuk membaca kebutuhan zamannya sendiri.

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 07/08/2026 22:15
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu