Keterbatasan lahan di kawasan padat penduduk Kota Surabaya tidak menyurutkan semangat inovasi siswa SMA Muhammadiyah 10 Surabaya (SMAMX). Melalui proyek penelitian untuk Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI), tim peneliti SMAMX mengembangkan metode Wani Nandur. Atau Wadah Inovasi Nandur Permakultur.
Inovasi dirancang khusus sebagai solusi cerdas ketahanan pangan di lingkungan perkotaan. Penelitian ini menitikberatkan pada desain kebun permakultur sayuran tropis yang adaptif, efisien, dan ramah lingkungan.
Saat ini, proyek tersebut telah menunjukkan perkembangan signifikan. Mulai dari tahap penanaman bibit, manajemen pemeliharaan, hingga pemantauan pertumbuhan tanaman tomat dan cabai yang dilakukan secara intensif di lahan (rooftop).
Ketua Tim Peneliti kelompok 2 OPSI SMAMX, Anas Audah, mengungkapkan bahwa proyek ini lahir dari keresahan akan tingginya harga pangan di kota besar dan minimnya ruang hijau. “Wani Nandur bukan sekadar menanam. Tapi kami merancang ekosistem permakultur yang bisa diaplikasikan di ruang sempit.”
“Kami membuktikan bahwa dengan metode yang tepat, lahan sekecil apa pun di Surabaya bisa produktif dan menyumbang ketahanan pangan keluarga,” tambah Anas di sela-sela pemeliharaan kebun, Senin (29/6/2026).
“Data perkembangan tanaman sejauh ini sangat menggembirakan. Kami mengintegrasikan sistem pemeliharaan yang meminimalkan limbah. Sesuai dengan prinsip dasar permakultur,” tambahnya.
Lebih lanjut, Anas menjelaskan tentang pemilihan tanaman yang dibudidayakan. Pemilihan komoditas seperti tomat dan cabai itu didasarkan pada kebutuhan harian masyarakat Surabaya yang tinggi.

Kepala SMAMX, Salim Bahrisy, memberikan apresiasi tinggi terhadap terobosan yang dilakukan siswanya. Beliau menilai bahwa penelitian ini sejalan dengan visi sekolah dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga tanggap terhadap problem lingkungan.
“Sekolah sangat mendukung penuh inovasi Wani Nandur ini. Ini adalah bukti bahwa siswa SMAMX mampu menjadi solusi atas tantangan nyata di masyarakat.”
Salim juga berharap agar metode ini tidak berhenti pada lomba saja. Tapi juga bisa direplikasi untuk kepentingan warga Surabaya dalam membangun ketahanan pangan di lahan yang tidak luas.
“Harapan kami, metode ini tidak berhenti di kompetisi OPSI saja. Tetapi dapat direplikasi oleh warga Surabaya. Khususnya yang tinggal di gang-gang sempit, untuk menciptakan kemandirian pangan dari rumah masing-masing,” pungkas Salim.





0 Tanggapan
Empty Comments