
Jurnal Ilmiah
Selanjutnya, Rosyidin menerangkan jurnal ilmiah. Yaitu terbitan berkala (periodik) yang memuat hasil-hasil penelitian terbaru untuk memajukan ilmu pengetahuan.
Alumnus Universitas Gadjah Mada itu memaparkan tiga ciri jurnal ilmiah. Pertama, memiliki fokus kajian tertentu. Ruang lingkup kajian ini dikenal dengan aim dan scope. Misal, jurnal pendidikan atau pedagodi.
Kedua, memiliki gaya selingkung (author guidelines). Ini berkaitan dengan gaya penulisan, di mana tiap jurnal punya gaya penulisan yang khas dan harus diikuti kontributor.
Ketiga, jurnal ilmiah melakukan proses penilaian standar kelayakan artikel yang disebut dengan telaah sejawat (peer review). Substansi artikel akan dinilai. Kalau jurnal tidak melakukan review, disebut jurnal abal-abal.
Kunci kualitas jurnal ditentukan peer review. “Reviewer akan menilai secara anonim, tidak tahu nama bapak ibu, dan bapak ibu tidak tahu siapa reviewernya untuk menjaga objektivitas,” terangnya.
Berdasarkan reputasinya, Rosyidin menguraikan jenis-jenis jurnal. Di antaranya, jurnal nasional tidak terakreditasi, jurnal nasional terakreditasi (seperti terindeks Sinta 1-6), jurnal internasional, dan jurnal internasional bereputasi (seperti Scopus dan WoS).
Artikel Jurrnal Ilmiah
Dalam kesempatan itu, Rosyidin juga menerangkan maksud artikel jurnal ilmiah. Yaitu fokus pada satu pokok bahasan yang spesifik dengan tujuan menggambarkan fenomena (deskriptif), menganalisis faktor penyebab (eksplanatif), membandingkan (komparatif), atau juga menilai implementasi suatu kebijakan (evaluatif). Ini berkaitan dengan tipe penelitian.
Artikel yang baik, lanjutnya, berangkat dari masalah. Tanpa ada masalah, maka tidak ada penelitian. “Penelitian itu menuntut adanya penjelasan. Kalau fenomena tidak butuh penjelasan, ya nggak usah diteliti,” terang penulis 41 artikel ilmiah itu.
Selain itu, mengandung unsur kebaruan (novelty), minimal berbeda dari yang sudah ada (inovasi). “Tidak sekadar mengulang yang dilakukan orang lain,” imbau pria yang kini berdomisili di Semarang itu.
Artikel juga sebaiknya memuat metodologi tertentu untuk pemecahan masalah (menjawab rumusan masalah). Artikel yang baik juga memuat data empiris untuk menguatkan hasil temuan, bukan sekadar opini belaka.
Dia pun memaparkan struktur artikel jurnal yang meliputi judul, abstrak, pendahuluan, kerangka teori, metodologi penelitian, hasil penelitian, kesimpulan, dan daftar pustaka. Bagian pendahuluan—yang terpenting, sentral—menerangkan masalah dan penelitian-pemelitian sebelumnya. Di sinilah orisinalitas penelitian terungkap.
Etika Penulisan
Yang tak kalah penting, lanjut Rosyidin, adalah etika penulisan akademik. Ini terkait norma mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seorang peneliti dalam proses penulisan hasil penelitian. Seorang ilmuwan itu boleh salah, tetapi tidak boleh berbohong. “Dosa besar ilmuwan itu berbohong!” tegasnya.
“Peneliti sejati tidak hanya pakar di bidangnya, tetapi juga memiliki integritas moral yang tinggi.”
Mohammad Rosyidin
Kemudian, dia memaparkan pelanggaran akademik yang sering dilakukan. Pertama, plagiarisme. Yaitu mengutip ide atau data dari orang maupun lembaga tanpa mencantumkan sumbernya. Mencuri, mengklaim sebagai miliknya tanpa izin. Dia juga memaparkan tipe-tipe plagiarisme.
Selain itu, dosa yang lebih besar kata Rosyidin adalah falsifikasi. Yaitu memalsukan data hasil penelitian. Misal, merekayasa data angket agar memenuhi hipotesis, sehingga tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya.
Ada pula fabrikasi, pelanggaran akademik yang paling berat dosanya. Yaitu mengarang penelitian padahal tidak pernah melakukan penelitian.
Kemudian, ada ghost writer, yaitu menjual jasa menuliskan karya ilmiah untuk orang lain dengan imbalan bayaran tertentu. Pelanggaran lainnya adalah free rider, menumpang nama padahal tidak berkontribusi apapun.
Baca sambungan di halaman 3: Cara Cegah Plagiarisme





0 Tanggapan
Empty Comments