Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di SMP Muhammadiyah 15 Surabaya, Senin (17/8/2026), berlangsung khidmat. Namun, bagi sekolah, kegiatan tersebut tidak sekadar seremoni tahunan.
Upacara menjadi ruang pembelajaran nyata untuk menanamkan disiplin, tanggung jawab, nasionalisme, sekaligus menguatkan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) siswa.
Seluruh warga sekolah mengikuti kegiatan tersebut, mulai siswa, guru, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Kegiatan berlangsung dengan rangkaian pengibaran bendera Merah Putih, menyanyikan lagu kebangsaan, serta penyampaian amanat pembina upacara. Di balik setiap rangkaian tersebut, siswa belajar mengelola diri, menghargai orang lain, dan menjalankan tanggung jawab.
Kepala SMP Muhammadiyah 15 Surabaya, Ustaz Banjar, mengatakan upacara kemerdekaan memiliki makna lebih luas daripada kegiatan seremonial.
“Upacara bukan hanya kegiatan rutin untuk memperingati kemerdekaan. Ini menjadi momentum bagi siswa untuk belajar disiplin, bertanggung jawab, mencintai bangsa, dan menghargai perjuangan para pahlawan,” ujarnya.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus terlihat dalam perilaku siswa sehari-hari. Kemerdekaan tidak cukup dimaknai melalui upacara, tetapi perlu diwujudkan melalui sikap dan tindakan.
“Yang paling penting adalah bagaimana nilai yang diperoleh dari upacara itu dibawa ke kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat,” tambahnya.
Perspektif tersebut sejalan dengan penerapan PSE yang menempatkan pengalaman nyata sebagai bagian penting dalam perkembangan karakter siswa.
PSE mencakup lima kompetensi utama, yakni kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
Kelima kompetensi itu tidak selalu harus diajarkan melalui materi di dalam kelas. Aktivitas sekolah seperti upacara juga dapat menjadi ruang untuk mempraktikkannya.
Saat mengikuti pengibaran bendera, misalnya, siswa belajar memaknai kemerdekaan dan membangun kesadaran diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Rasa syukur, kebanggaan, serta penghargaan terhadap perjuangan para pahlawan menjadi bagian dari proses pembentukan nilai pribadi.
Pada saat yang sama, siswa belajar mengelola diri. Mereka harus menjaga konsentrasi, mengikuti instruksi, berdiri tertib, serta mengendalikan perilaku selama upacara berlangsung.
Hal sederhana tersebut merupakan latihan kedisiplinan dan pengelolaan diri yang dilakukan melalui pengalaman langsung.
Belajar Menghargai dan Bekerja Sama
Upacara juga menjadi ruang untuk membangun kesadaran sosial. Siswa diajak memahami bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini lahir dari perjuangan dan pengorbanan banyak orang.
Kesadaran itu dapat tumbuh menjadi empati dan kepedulian terhadap sesama. Nilainya kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan sekolah, seperti menghormati teman, membantu orang lain, menjaga lingkungan, dan berkontribusi secara positif.
Sementara itu, keterampilan berelasi tampak melalui kerja sama seluruh warga sekolah. Petugas upacara menjalankan tugas masing-masing. Peserta mengikuti arahan. Guru dan tenaga kependidikan memastikan kegiatan berjalan tertib.
Setiap orang memiliki peran. Dari situ siswa belajar bahwa sebuah kegiatan dapat berjalan baik ketika setiap individu memahami tanggung jawabnya dan menghargai kontribusi orang lain.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Ulfiyatin, menilai pengalaman seperti itu penting dalam pendidikan siswa.
“Pendidikan tidak hanya tentang pencapaian akademik. Anak-anak juga perlu mendapatkan pengalaman yang membantu mereka berkembang secara sosial, emosional, dan berkarakter,” jelasnya.
Menurut dia, kegiatan yang melibatkan pengalaman langsung dapat membantu siswa belajar disiplin, bertanggung jawab, menghargai orang lain, sekaligus melakukan refleksi terhadap nilai yang mereka peroleh.
Menjadi Pelajaran bagi Calon Guru
Upacara 17 Agustus juga menjadi pengalaman belajar bagi mahasiswa PPL PPG Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Bagi mereka, kegiatan tersebut memberikan gambaran bahwa PSE tidak terbatas pada proses pembelajaran formal di ruang kelas.
Mahasiswa dapat mengamati secara langsung bagaimana budaya sekolah, keteladanan guru, interaksi antarsiswa, serta berbagai kegiatan pembiasaan ikut membentuk perkembangan sosial emosional murid.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) PPL, Ngatma’in, memberikan arahan agar mahasiswa memandang setiap kegiatan selama PPL sebagai bagian dari proses belajar menjadi guru profesional.
Dalam konteks PSE, pengalaman mengikuti upacara menjadi bahan refleksi bagi mahasiswa mengenai pentingnya keteladanan guru dan penciptaan lingkungan sekolah yang mendukung perkembangan sosial emosional siswa.
Guru tidak hanya mengajarkan pengetahuan. Guru juga menjadi model dalam menunjukkan kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan mengelola emosi, serta cara berinteraksi dengan orang lain.
Karena itu, perkembangan sosial emosional siswa tidak cukup dibentuk melalui materi. Ia juga tumbuh melalui contoh dan hubungan yang dibangun setiap hari di lingkungan sekolah.
Kemerdekaan yang Dihidupkan dalam Perilaku
Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di SMP Muhammadiyah 15 Surabaya akhirnya memiliki makna lebih jauh daripada seremoni peringatan hari nasional.
Di lapangan, siswa belajar berdiri tertib. Belajar mendengarkan. Belajar mengikuti aturan. Belajar menghargai orang lain. Dan belajar memahami bahwa kemerdekaan membawa tanggung jawab.
Kegiatan sederhana itu sekaligus memperlihatkan bahwa penerapan PSE dapat dilakukan secara kontekstual melalui berbagai aktivitas sekolah.
Bagi mahasiswa PPG, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa tugas guru bukan hanya menyampaikan pengetahuan akademik. Guru juga memiliki tanggung jawab mendampingi murid agar mampu mengenali dirinya, mengelola emosi dan perilakunya, berinteraksi secara positif, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Dengan dukungan kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, DPL, guru, mahasiswa PPL, dan seluruh warga sekolah, upacara kemerdekaan diharapkan terus menjadi momentum untuk menumbuhkan karakter dan semangat kebangsaan siswa.
Sebab, kemerdekaan yang paling penting bukan hanya yang diperingati di lapangan, tetapi yang tumbuh menjadi karakter dalam kehidupan sehari-hari.





0 Tanggapan
Empty Comments