Dalam semangat kejujuran intelektual, ada satu pengakuan yang perlu disampaikan sejak awal: saya belum memiliki iPhone. Sebagai bagian dari komunitas yang kerap dicap sebagai pengagum fanatik ekosistem Apple, realitasnya saya hanya sesekali meminjam perangkat milik teman. Meski demikian, saya cukup percaya diri membedakan karakter visual hasil tangkapan kamera iPhone dengan perangkat lain.
Sensibilitas estetika yang saya miliki masih mampu mengenali foto dengan color science yang natural, hingga secara spontan memunculkan komentar sederhana, “Ini pakai iPhone, ya?”
Pada titik ini, mengagumi keindahan visual sejatinya merupakan sesuatu yang sangat manusiawi. Dalam Islam pun diajarkan bahwa Allah mencintai keindahan sebagaimana hadis yang masyhur:
“Innallaha jamilun yuhibbul jamal.”
Namun, menariknya, kalimat sesederhana itu sering kali mampu mengubah atmosfer sosial secara drastis.
Setiap kali pujian terhadap hasil foto iPhone terlontar, hampir selalu muncul respons defensif dari sebagian pengguna Android. Mereka seolah bertransformasi menjadi juru bicara tidak resmi berbagai merek ponsel Android.
Argumen yang dilontarkan pun beragam, mulai dari keunggulan megapiksel yang lebih besar, kemampuan shutter speed, hingga fitur kamera ultra-wide 0,5 yang dianggap lebih superior.
Padahal, niat awal saya sangat sederhana: mengapresiasi hasil visual yang menurut saya menarik. Saya tidak sedang mengajak perang teknologi, apalagi mengajukan kerja sama promosi kepada Tim Cook.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana masyarakat digital sering kali gagal membedakan antara apresiasi dan perbandingan. Mengakui kelebihan sesuatu dianggap sama dengan merendahkan yang lain.
Dalam perspektif Islam, sikap reaktif yang berlebihan seperti ini patut direnungkan. Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya menjaga lisan dan menghindari perdebatan yang tidak membawa manfaat. Tidak semua pendapat harus dibantah, dan tidak semua pujian harus dianggap sebagai ancaman.
Hal yang membuat situasi ini semakin menarik adalah kenyataan bahwa saya sendiri merupakan pengguna Android.
Saya bukan bagian dari kelompok yang melakukan flexing demi memperoleh validasi sosial. Saya justru termasuk golongan yang masih harus menunggu teman membuka kunci layar ponselnya demi mendapatkan dokumentasi yang menurut saya estetik.
Karena itu, saya sering merasa heran ketika setiap apresiasi terhadap hasil kamera iPhone langsung dibalas dengan argumentasi panjang yang seolah menganggap saya sedang mendeklarasikan perang ideologis terhadap Android.
Agar suasana tetap damai dan terhindar dari jidal atau debat kusir yang tidak produktif, sering kali saya memilih mengalah. Meski demikian, dalam hati saya tetap meyakini bahwa mengakui keunggulan suatu produk tidak otomatis berarti merendahkan produk lainnya.
Pengalaman berburu foto bersama teman-teman pengguna iPhone semakin memperkuat pandangan tersebut.
Dalam satu hari, galeri ponsel mereka bisa dipenuhi ratusan foto hasil jepretan saya. Bukan karena saya tiba-tiba memiliki kemampuan fotografer profesional, melainkan karena saya menikmati hasil preview yang terasa matang, natural, dan tidak berlebihan.
Dari pengalaman itu, saya menyadari bahwa keinginan memiliki iPhone tidak sesederhana tuduhan sebagian netizen yang mengaitkannya dengan gengsi, FOMO, atau kebutuhan mendapatkan pengakuan sosial.
Keinginan tersebut juga tidak berkaitan dengan upaya menaikkan status sosial, menunjukkan simbol kemewahan, atau sekadar menampilkan logo Apple dalam unggahan media sosial.
Islam mengingatkan umatnya untuk menjauhi riya dan takabur. Karena itu, apabila suatu keinginan lahir dari kebutuhan dan pertimbangan yang rasional, maka tidak tepat jika langsung dihakimi sebagai bentuk kesombongan.
Fenomena ini sesungguhnya mencerminkan persoalan yang lebih besar dalam masyarakat digital.
Kita sering kali terlalu cepat menyimpulkan motif seseorang hanya berdasarkan potongan informasi yang sangat terbatas. Apresiasi dianggap serangan, preferensi dianggap propaganda, dan keinginan pribadi dianggap sebagai upaya mencari pengakuan sosial.
Padahal, motivasi manusia sangat kompleks.
Dalam Islam, sikap seperti ini dekat dengan su’udzon atau prasangka buruk yang jelas dilarang. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui alasan seseorang menyukai atau memilih sesuatu.
Tidak semua orang yang datang ke perpustakaan memiliki niat utama untuk belajar. Sebagian datang untuk mencari suasana yang nyaman, memanfaatkan jaringan internet, menghindari kebisingan kos, atau sekadar mencari tempat yang tenang.
Begitu pula dengan pilihan teknologi. Tidak semua orang yang ingin memiliki iPhone sedang mengejar status sosial.
Bagi saya pribadi, alasan memiliki iPhone justru sangat sederhana: mendokumentasikan momen-momen berharga dengan kualitas yang menurut saya memuaskan.
Sebagian besar foto tersebut bahkan tidak pernah diunggah ke media sosial. Foto-foto itu hanya tersimpan di galeri pribadi, berisi momen keluarga, sahabat, dan berbagai kenangan sederhana yang suatu hari mungkin menjadi sangat berharga.
Di sinilah letak pelajaran yang lebih penting.
Waktu adalah nikmat yang sering kali dilupakan manusia. Momen bersama orang-orang tercinta tidak akan terulang dua kali. Mengabadikannya merupakan salah satu cara mensyukuri kehadiran mereka dalam kehidupan kita.
Karena itu, perdebatan Android dan iPhone pada akhirnya terasa kurang relevan apabila hanya berujung pada pertarungan ego dan fanatisme merek.
Ponsel hanyalah alat. Ia tidak menentukan kualitas manusia, tidak meningkatkan ketakwaan, dan tentu saja tidak akan ikut dibawa ke liang kubur.
Pada akhirnya, jalan yang paling bijak adalah tetap berikhtiar sesuai kemampuan.
Jika memang menginginkan perangkat tertentu, maka menabung secara konsisten adalah pilihan yang lebih sehat daripada memaksakan diri melalui utang atau gaya hidup yang melampaui kemampuan finansial.
Islam mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan, kemampuan, dan tanggung jawab. Memiliki keinginan bukanlah masalah. Yang perlu dijaga adalah cara mewujudkannya.
Maka, jika suatu hari saya berhasil membeli iPhone dari hasil menabung sendiri, semoga itu bukan menjadi simbol kemenangan atas Android ataupun alat untuk mencari pengakuan sosial. Sebaliknya, ia hanyalah instrumen untuk mengabadikan kenangan, mensyukuri nikmat waktu, dan menikmati keindahan yang Allah hadirkan dalam kehidupan.





0 Tanggapan
Empty Comments