Suasana Lodji Besar di kawasan Jalan Makam Peneleh, Surabaya, mendadak riuh pada Selasa malam (16/6/2026). Puluhan pasang mata terpaku menatap arsip-arsip digital kolonial yang diproyeksikan ke dinding bangunan bersejarah tersebut. Di ruang komunal yang sarat memori itu, sekat waktu seolah runtuh.
Diskusi sejarah bertajuk Jejak KH Ahmad Dahlan di Surabaya sukses membedah sisi sejarah yang selama ini kerap terabaikan: bagaimana sebuah gerakan yang lahir di Yogyakarta justru menemukan bentuk dan pengaruh besarnya di Kota Pahlawan.
“Ruang seperti ini sengaja kami buka untuk memaparkan data dan fakta sejarah yang valid. Kita membutuhkan sejarawan yang kompeten untuk mengungkap validitas data kepada publik,” ujar Wakil Ketua Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi (MPID) PWM Jawa Timur sekaligus Anggota DPRD Jawa Timur, Dr. Suli Da’im, M.M., yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Suli menegaskan, narasi sejarah Muhammadiyah di Surabaya tidak boleh berhenti di ruang diskusi semata. Hasil penelusuran dokumen kolonial harus diolah menjadi media yang lebih dekat dengan generasi muda.
“Tujuan akhirnya agar data ini menjadi rujukan informasi yang valid bagi generasi mendatang. Kami mengusulkan agar temuan-temuan lapangan ini tidak hanya menjadi tulisan, tetapi juga diformat dalam bentuk audiovisual atau film dokumenter,” tambahnya.
Membaca Jejak KH Ahmad Dahlan dalam Arsip Kolonial
Co-Founder Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo, mengaku merasakan getaran tersendiri saat menelaah arsip-arsip intelijen Belanda yang mengungkap jejak dakwah KH Ahmad Dahlan di Surabaya.
“Membaca arsip PID Belanda di ruang Lodji Besar malam ini membuat bulu kuduk saya merinding. Kita bisa melihat bagaimana KH Ahmad Dahlan begitu cerdik memanfaatkan celah hukum kolonial. Surabaya bagi beliau bukan sekadar tempat singgah berdagang, tetapi laboratorium sosial tempat gagasan besar Muhammadiyah menemukan bentuk modernnya melalui rahim Sarekat Islam,” ujarnya.
Diskusi yang diinisiasi oleh Begandring Soerabaia, PWMU.CO, dan MPID PWM Jawa Timur itu mengupas dokumen rahasia Politieke Inlichtingen Dienst (PID) Belanda periode 1918–1920. Arsip tersebut mencatat strategi cerdas KH Ahmad Dahlan dalam menyiasati aturan kolonial yang saat itu membatasi aktivitas Muhammadiyah hanya di wilayah Keresidenan Yogyakarta.
Kuncarsono menjelaskan bahwa sejak 1916 KH Ahmad Dahlan menjabat sebagai Penasehat Bidang Agama Centraal Sarekat Islam (CSI). Posisi itu dimanfaatkannya untuk melakukan perjalanan ke berbagai daerah, termasuk Surabaya.
Salah satu laporan rahasia Penasihat Urusan Pribumi Hindia Belanda, Dr. D.A. Rinkes, bahkan mencatat strategi tersebut.
“Kyai Dahlan van Jogjakarta heeft zich aangesloten bij de Sarekat Islam. Hij inziet dat zijn eigen vereniging Moehammadijah, wegens de wettelijke beperkingen, niet buiten Jogja kan uitbreiden…“
Dokumen tersebut menunjukkan bahwa KH Ahmad Dahlan menggunakan jaringan besar Sarekat Islam sebagai media untuk menyebarkan gagasan pembaruan Islam kepada masyarakat luas.
Lahirnya Cabang Muhammadiyah Surabaya
Hubungan Muhammadiyah dan Sarekat Islam mulai mengalami perubahan setelah Kongres Sarekat Islam pada Oktober 1921 menetapkan aturan disiplin partai yang mewajibkan anggota memilih satu organisasi.
KH Ahmad Dahlan kemudian memilih menarik Muhammadiyah dari Sarekat Islam agar organisasi yang didirikannya tetap fokus pada gerakan dakwah dan pembaruan sosial-keagamaan.
Keputusan itu menjadi titik penting dalam perkembangan Muhammadiyah di Surabaya. Pada 1 November 1921, KH Mas Mansyur secara resmi mendirikan Cabang Muhammadiyah Surabaya.
Pertemuan KH Ahmad Dahlan dan KH Mas Mansyur di Yogyakarta pada 1915 akhirnya berbuah besar di Surabaya. Kota ini kemudian menjadi salah satu pusat perkembangan Muhammadiyah yang paling berpengaruh di Indonesia.
Menariknya, dokumen intelijen Belanda menunjukkan bahwa pemerintah kolonial justru merasa lebih nyaman dengan keberadaan Muhammadiyah yang berdiri secara mandiri. Mereka menilai organisasi tersebut lebih mudah diawasi dibandingkan jika tetap berada dalam Sarekat Islam yang saat itu semakin radikal di bawah pengaruh HOS Tjokroaminoto.
Spirit Al-Ma’un untuk Menjawab Tantangan Kota
Perwakilan Lazismu Jawa Timur, Aditio Yudono, S.E., menilai diskusi sejarah tersebut sangat relevan dengan tantangan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini.
“Apa yang disampaikan Mas Kuncar sangat kontekstual dengan yang kami rasakan di lapangan. Transformasi gerakan yang lahir di Surabaya satu abad lalu bukan hanya soal struktur organisasi, tetapi juga bagaimana spirit Al-Ma’un menjawab tantangan nyata masyarakat industri,” tuturnya.
Menurut Aditio, akar kemiskinan yang dahulu bersumber dari kolonialisme dan penindasan kini hadir dalam bentuk tantangan sosial yang berbeda. Karena itu, nilai-nilai Al-Ma’un tetap relevan untuk menjawab persoalan masyarakat perkotaan.
“Diskusi malam ini membuka perspektif tentang bagaimana KH Ahmad Dahlan menghadirkan solusi atas problem masyarakat. Hari ini, Lazismu hadir sebagai perwujudan spirit Al-Ma’un untuk memberikan solusi nyata bagi masyarakat urban dan industri yang hidup di bawah garis kemiskinan,” jelasnya.
Diskusi yang berlangsung hangat hingga larut malam itu juga dihadiri Direktur RPH Surabaya Fajar Arifianto Isnugroho, Pemimpin Redaksi PWMU.CO Agus Wahyudi, serta Ketua MPID Pimpinan Muhammadiyah Surabaya Andi Hariyadi.
Sebagai penutup, Andi Hariyadi menyerahkan buku Jejak Langkah Tokoh Muhammadiyah Surabaya kepada para pemateri. Prosesi simbolis tersebut menjadi penegasan bahwa upaya menelusuri dan merawat sejarah Muhammadiyah di Surabaya akan terus berlanjut demi memperkaya khazanah sejarah bangsa.





0 Tanggapan
Empty Comments