Kegiatan Hizbul Wathan (HW) di SMP Muhammadiyah 15 Surabaya tidak hanya menjadi wadah kepanduan di luar pembelajaran kelas.
Di balik berbagai aktivitasnya, peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang mencakup kedisiplinan, kerja sama, kemandirian, kreativitas, kepemimpinan, komunikasi, hingga keterampilan hidup.
Peserta didik tidak hanya mempelajari sejarah dan nilai-nilai Hizbul Wathan. Mereka juga terlibat langsung dalam berbagai kegiatan, seperti menghafalkan Undang-Undang HW secara berkelompok, membuat poster, menghasilkan produk kewirausahaan, memasak, hingga mempelajari cara berkomunikasi tanpa menggunakan alat komunikasi modern.
Beragam aktivitas tersebut menarik dikaji melalui perspektif pembelajaran berdiferensiasi, yakni pendekatan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan kebutuhan, kesiapan, minat, dan profil belajarnya.
Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah menghafalkan Undang-Undang HW secara berkelompok. Sekilas, aktivitas tersebut tampak sebagai kegiatan mengingat materi. Namun, proses yang berlangsung juga melatih kemampuan sosial dan kolaboratif peserta didik.
Dalam kelompok, mereka dapat membagi tugas, saling mengingatkan, membantu anggota yang mengalami kesulitan, hingga menentukan strategi agar hafalan dapat dikuasai bersama.
Cara yang digunakan setiap kelompok pun tidak selalu sama. Ada yang melakukan pengulangan secara bersama-sama, membagi bagian hafalan kepada setiap anggota, maupun menggunakan gerakan dan kata kunci untuk membantu mengingat.
Perbedaan tersebut menunjukkan adanya ruang diferensiasi dalam proses belajar. Peserta didik dapat menemukan cara yang sesuai dengan karakteristik kelompoknya.
Pelatih HW, Kak Hana, mengatakan kegiatan Hizbul Wathan memberikan banyak pengalaman langsung kepada peserta didik.
Menurutnya, HW tidak hanya berisi kegiatan hafalan atau baris-berbaris, tetapi juga memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan berbagai aktivitas praktik. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik belajar bekerja sama, mandiri, berkomunikasi, dan menyelesaikan tantangan.
“HW bukan hanya mengajarkan bagaimana menjadi pandu, tetapi juga memberikan ruang kepada setiap peserta didik untuk menemukan potensi, belajar melalui pengalaman, dan berkembang dengan cara yang sesuai dengan dirinya,” ujar Kak Hana.
Jika dilihat dari aspek diferensiasi konten, kegiatan Hizbul Wathan memberikan pengalaman belajar yang cukup beragam.
Peserta didik tidak hanya mempelajari sejarah dan Undang-Undang HW. Mereka juga mendapatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai kepemimpinan, kedisiplinan, komunikasi, kerja sama, memasak, kewirausahaan, kreativitas, hingga keterampilan hidup.
Peserta didik yang tertarik pada sejarah dapat memperdalam pengetahuan tentang perjalanan Hizbul Wathan. Sementara mereka yang menyukai kegiatan praktik dapat mengembangkan keterampilan memasak.
Di sisi lain, kegiatan membuat poster dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan visual dan kreativitas. Siswa yang memiliki ketertarikan pada kegiatan ekonomi juga dapat memperoleh pengalaman melalui aktivitas kewirausahaan.
Dengan demikian, kegiatan dalam Hizbul Wathan tidak hanya menawarkan satu bentuk pembelajaran, melainkan mencakup berbagai pengetahuan dan keterampilan yang dapat mengakomodasi keberagaman minat peserta didik.
Aspek pembelajaran berdiferensiasi juga terlihat dari produk yang dihasilkan peserta didik.
Dalam kegiatan membuat poster, misalnya, siswa dapat menuangkan gagasan melalui gambar, warna, tulisan, simbol, dan desain. Aktivitas tersebut memberikan ruang bagi peserta didik untuk menunjukkan kreativitas dan kemampuan visual.
Sementara dalam kegiatan kewirausahaan, pengalaman belajar yang diperoleh lebih beragam. Peserta didik dapat terlibat mulai dari menentukan ide produk, menyiapkan bahan, membuat dan mengemas produk, menentukan harga, mempromosikan, hingga menjual hasil karya.
Proses tersebut tidak hanya menghasilkan sebuah produk, tetapi juga melatih kreativitas, komunikasi, tanggung jawab, kerja sama, kemandirian, serta kemampuan mengambil keputusan.
Guru pamong, Ulfiyatin, S.Pd., menilai kegiatan Hizbul Wathan menarik untuk dikaji lebih dalam karena berbagai aktivitas di dalamnya mengandung proses pembelajaran.
Menurutnya, kegiatan tersebut dapat mengembangkan karakter, keterampilan, kreativitas, komunikasi, kerja sama, dan kemandirian siswa.
Pandangan itu menunjukkan bahwa kegiatan kepanduan dapat menjadi ruang belajar melalui pengalaman nyata, bukan hanya melalui penyampaian materi secara teoritis.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Ngatma’in, M.Pd., juga melihat adanya keterkaitan antara kegiatan Hizbul Wathan dengan mata kuliah Pembelajaran Berdiferensiasi.
Menurutnya, kegiatan HW memperlihatkan adanya keberagaman dalam aspek konten, proses, produk, dan lingkungan belajar.
Pada aspek konten, peserta didik mendapatkan materi mulai dari sejarah HW, Undang-Undang HW, kepanduan, hingga keterampilan hidup.
Sementara dalam proses belajar, peserta didik mengikuti berbagai aktivitas, seperti menghafal secara berkelompok, berdiskusi, praktik memasak, permainan, serta belajar berkomunikasi dengan memanfaatkan lingkungan sekitar.
Dari sisi produk, peserta didik dapat menghasilkan poster, produk kewirausahaan, makanan, maupun karya kelompok lainnya.
Adapun lingkungan belajar tidak hanya terbatas di dalam kelas. Kegiatan Hizbul Wathan juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar di luar ruangan dan memanfaatkan lingkungan alam sebagai sumber belajar.
Beragam aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa Hizbul Wathan dapat menjadi ruang pendidikan yang mengembangkan pengetahuan, keterampilan, karakter, serta kemampuan sosial emosional peserta didik melalui pengalaman langsung.
Dengan berbagai pilihan aktivitas dan pengalaman belajar yang tersedia, kegiatan HW di SMP Muhammadiyah 15 Surabaya tidak sekadar menjadi kegiatan ekstrakurikuler, tetapi juga menghadirkan ruang bagi peserta didik untuk mengenali potensi dan berkembang melalui cara belajar yang beragam.





0 Tanggapan
Empty Comments