Jika sebagian peserta MEA 2026 datang dengan satu target, Ahmad Mahmudi datang dengan banyak tugas.
Mahmudi, demikian ia akrab disapa, bukan hanya menjadi peserta lomba Guru Berprestasi. Di tengah rangkaian kegiatan tersebut, ia juga menjalankan peran sebagai driver sekaligus pendamping siswa. Di sela kesibukan itu, ia masih menjalankan tugas jurnalistik dengan meliput rangkaian kegiatan MEA 2026.
Semua peran tersebut dijalani dalam waktu yang hampir bersamaan.
Perjalanan Mahmudi dimulai dengan mengantar anak-anak menuju lokasi penginapan. Setelah memastikan mereka berada di tempat yang dituju, ia kembali menjalankan tugas sebagai pendamping.
Perjalanan dari penginapan menuju lokasi perlombaan pun menjadi rutinitas yang harus dilalui berulang kali.
“Peran saya sebagai driver sekaligus pendamping anak,” kata Mahmudi.
Namun, tugasnya tidak berhenti di sana.
Sabtu (8/8/2026) menjadi salah satu hari yang cukup padat bagi Mahmudi. Di tengah berbagai aktivitas MEA 2026, ia mempersiapkan liputan pembukaan kegiatan.
Ia tidak sekadar hadir sebagai pendamping. Ia juga mengambil peran sebagai penulis yang mengabadikan rangkaian kegiatan melalui berita.
Liputan tersebut kemudian menghasilkan lima berita yang dimuat di PWMU.CO.
Lima berita itu menjadi catatan tersendiri dari perjalanan Mahmudi selama MEA 2026. Di tengah aktivitas mendampingi siswa dan mobilitas menuju berbagai lokasi, ia masih menyempatkan diri mencari informasi, mencatat peristiwa, mengolahnya menjadi berita, hingga memastikan naskah dapat dipublikasikan.
Kesibukan tersebut membuat waktu Mahmudi semakin terbagi.
Di satu sisi, ada anak-anak yang harus didampingi. Di sisi lain, ada kegiatan yang harus diliput. Belum lagi persiapan mengikuti lomba Guru Berprestasi.
Di tengah padatnya agenda tersebut, Mahmudi mengambil keputusan untuk mencoba sesuatu yang baru.
MEA 2026 menjadi pengalaman pertamanya mengikuti lomba Guru Berprestasi.
“Ini pengalaman pertama kali saya ikut lomba,” ujarnya.
Pengalaman pertama itu dijalani tanpa kondisi yang benar-benar ideal. Waktu untuk mempersiapkan diri terbatas karena berbagai tanggung jawab harus tetap dijalankan.
Bahkan, momen yang paling menguras tenaga justru ketika harus wara-wiri dari penginapan menuju lokasi perlombaan.
“Yang paling berat memang wara-wiri dari penginapan ke lokasi perlombaan,” katanya.
Namun, Mahmudi tetap menjalani semuanya.
Jika dirangkum, MEA 2026 membuat Mahmudi menjalankan beberapa peran sekaligus.
Ia menjadi driver yang mengantar anak-anak. Ia menjadi pendamping yang memastikan kebutuhan siswa terpenuhi, mulai dari kebutuhan snack hingga konsumsi.
Ia juga menjadi jurnalis yang meliput kegiatan sekaligus peserta lomba Guru Berprestasi.
Keempat peran itu berjalan dalam satu rangkaian kegiatan yang sama. Tidak selalu mudah membagi perhatian dan tenaga.
Namun, justru di situlah pengalaman MEA 2026 menjadi berharga bagi Mahmudi.
Ia belajar mengatur waktu, menentukan prioritas, menjalankan tanggung jawab, sekaligus berani keluar dari zona nyaman dengan mengikuti perlombaan untuk pertama kalinya.
Semua kesibukan itu akhirnya menemukan titik temu ketika Mahmudi berhasil meraih Silver Medal dalam lomba Guru Berprestasi MEA 2026.
Medali tersebut menjadi capaian yang membanggakan, terlebih diraih dalam pengalaman pertama mengikuti lomba dengan berbagai keterbatasan waktu.
“Alhamdulillah, saya bisa mendapatkan Silver Medal,” tuturnya.
Namun, bagi Mahmudi, cerita MEA 2026 bukan hanya tentang medali.
Ada lima berita yang berhasil dimuat di PWMU.CO. Ada anak-anak yang harus diantar dan didampingi. Ada perjalanan berulang dari penginapan ke lokasi kegiatan. Ada liputan pembukaan yang harus dipersiapkan. Dan ada keberanian untuk pertama kalinya mengikuti lomba Guru Berprestasi.
Semua berjalan dalam satu waktu.
Dari balik kemudi, Mahmudi mengantar anak-anak. Di penginapan, ia memastikan mereka tetap terpantau. Di lokasi kegiatan, ia mendampingi sekaligus meliput. Ketika kesempatan lomba tiba, ia berubah posisi menjadi peserta.
MEA 2026 akhirnya bukan sekadar perjalanan mengikuti sebuah ajang. Bagi Ahmad Mahmudi, MEA 2026 menjadi perjalanan menjalankan banyak peran sekaligus dan membuktikan bahwa keterbatasan waktu tidak selalu membatasi seseorang untuk menghasilkan sesuatu.
Lima berita yang terbit dan satu Silver Medal menjadi dua catatan berbeda, tetapi lahir dari perjuangan yang sama: tetap bergerak meski harus membagi langkah ke banyak arah.





0 Tanggapan
Empty Comments