Pentingnya diaspora keilmuan bagi kader dalam menghadapi tantangan zaman menjadi sorotan dalam Semarak Milad ke-62 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) yang digelar di Gedung Self Access Center (SAC), Sabtu (25/4/2026).
Dalam kegiatan tersebut, perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen RI), Prof. Dr. Biyanto, M.Ag., menegaskan bahwa penguatan kapasitas intelektual melalui diaspora menjadi langkah strategis untuk menjawab dinamika zaman yang semakin kompleks.
“Marilah menata diri supaya adik-adik mampu menjawab tantangan yang semakin berkembang dan kompleks,” ujar Biyanto.
Di sela-sela sambutannya, ia juga menceritakan pengalamannya saat aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada masa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya, yang kini menjadi UINSA, pada rentan tahun 1991–1995.
Ia menyebut, pada masa tersebut sekretariat IMM UINSA berlokasi di Jalan Pabrik Kulit Gang III Nomor 22, Wonocolo, yang saat ini telah berpindah ke nomor 25 yang berada tepat di seberangnya.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa salah satu cara untuk menjawab tantangan zaman adalah melalui diaspora. Ia menjadikan Surat Yusuf ayat 67 sebagai motivasi bagi para kader IMM.
“Ayat ini menceritakan sekaligus mengajarkan bahwa dahulu Benyamin mencari bantuan dan kemudian bertemu Yusuf di Mesir setelah berpisah lama, yang kemudian menjadi titik terang. Hal ini mengajarkan kita untuk berdiaspora,” jelasnya.
Selain itu, dalam kesempatan yang sama, Biyanto menekankan pentingnya positioning IMM sebagai gerakan keilmuan. Ia mengingatkan bahwa sebagai organisasi mahasiswa, IMM perlu menegaskan identitasnya sebagai representasi gerakan ilmu.
“Pertama, tentu karena ini mahasiswa, jadi IMM UINSA harus menampilkan diri lebih banyak sebagai gerakan keilmuan. Ada yang memilih kegerakan aktivis politik, tetapi jangan lupa bahwa IMM segmentasinya adalah mahasiswa. Mahasiswa itu harus menampilkan diri sebagai pribadi yang merepresentasikan gerakan ilmu. Karena itu, penting bagaimana IMM menampilkan diri sebagai gerakan ilmu, bukan gerakan politik,” ujarnya.
Prof. Biyanto juga menyampaikan amanah dari Kemendikdasmen berupa bantuan pendidikan. Bantuan ini diberikan dengan tujuan agar IMM UINSA dapat kembali fokus pada kegiatan intelektual dan diaspora dalam ranah keilmuan.
“Kemudian, saya menitipkan pesan dari kementerian untuk menyampaikanbahwa bantuan pendidikan ini harapannya agar adik-adik bisa lebih fokus kembali dengan kegiatan-kegiatan intelektual dan diaspora lainnya,” tegasnya di akhir sambutan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments