Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Datang Dinihari, Lima Pendekar Mudipat Pilih Jadi Saksi Sejarah Muktamar XVI Tapak Suci

Iklan Landscape Smamda
Datang Dinihari, Lima Pendekar Mudipat Pilih Jadi Saksi Sejarah Muktamar XVI Tapak Suci
Para pendekar Mudipan di arena Pembukaan Muktamar XVI Tapak Suci di Semarang. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Semangat untuk menjadi bagian dari sejarah membawa lima pendekar SD Muhammadiyah 4 Surabaya (Mudipat) menempuh perjalanan malam menuju Semarang. Mereka berangkat Jumat (7/8/2026) pukul 20.00 WIB dan tiba di Kota Atlas sekitar pukul 02.30 WIB.

Mata mungkin belum sepenuhnya terjaga ketika perjalanan berakhir. Namun, rasa lelah terbayar oleh satu tujuan: hadir langsung di arena Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus).

Kelima pendekar Mudipat tersebut adalah Januar Joko Siswanto, Arif Syarifuddin, Pendekar Didik Hermawan, Masjrul Achmad Darda, dan Dr. Sholihin Fanani.

Mereka datang bukan sebagai peserta utama persidangan. Mereka memilih menjadi penggembira, menyaksikan dari dekat denyut organisasi yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan Tapak Suci.

Bagi mereka, Muktamar bukan sekadar agenda empat tahunan. Ada momentum sejarah yang tidak ingin dilewatkan.

Sholihin Fanani mengatakan, keinginan hadir di Muktamar XVI Tapak Suci sudah dipersiapkan sejak lama.

Menurutnya, Muktamar merupakan momentum penting bagi warga Tapak Suci untuk menyaksikan secara langsung arah perjalanan organisasi.

“Kami memang sudah mempersiapkan untuk hadir di Muktamar ini sejak lama. Sebab, Muktamar adalah momen bersejarah bagi Tapak Suci. Ada banyak hal penting yang akan dibicarakan dan diputuskan untuk masa depan organisasi,” ujarnya, Sabtu (8/6/2026).

Menurut Sholihin, kehadiran secara langsung memberikan pengalaman yang berbeda dibanding sekadar mengikuti perkembangan Muktamar melalui pemberitaan atau media sosial.

SMPM 5 Pucang SBY

“Kami ingin menjadi saksi langsung. Muktamar ini bukan hanya tentang memilih pimpinan, tetapi juga menjadi tonggak penting untuk melihat ke mana Tapak Suci akan melangkah ke depan,” katanya.

Dia menilai, perkembangan Tapak Suci saat ini semakin luas. Karena itu, Muktamar XVI menjadi kesempatan penting untuk memperkuat persaudaraan sekaligus menyatukan visi para pendekar dari berbagai daerah dan negara.

Perjalanan tengah malam, kata dia, bukan persoalan. Justru perjalanan tersebut menjadi bagian dari semangat untuk menghadiri perhelatan besar Tapak Suci.

“Kalau hanya menghitung lelahnya, mungkin kami tidak akan berangkat malam-malam. Tetapi ketika yang kita datangi adalah momentum sejarah, rasa lelah itu menjadi kecil dibanding kegembiraan bisa hadir dan bertemu dengan para pendekar dari berbagai tempat,” tuturnya.

Kelima pendekar Mudipat itu pun berharap Muktamar XVI mampu melahirkan keputusan-keputusan strategis yang membawa Tapak Suci semakin maju, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai perguruan pencak silat yang berakar kuat pada nilai-nilai Muhammadiyah.

Bagi mereka, menjadi penggembira Muktamar bukan berarti sekadar datang, melihat, lalu pulang. Kehadiran itu adalah cara sederhana untuk menunjukkan kecintaan terhadap Tapak Suci sekaligus merawat tradisi persaudaraan antarpesilat.

Dinihari di Semarang menjadi saksi. Lima pendekar dari Surabaya datang membawa satu pesan sederhana: sejarah tidak selalu harus ditulis dari ruang sidang. Kadang, ia juga diabadikan oleh mereka yang rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk hadir dan menjadi saksi. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 08/08/2026 11:00
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu