Apa yang selama ini dianggap limbah ternyata bisa berubah menjadi produk pertanian bernilai tinggi. Dosen Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Ir. Eni Budiyati, ST, M.Eng, berhasil mengembangkan pupuk organik berbahan dasar kotoran domba yang diproses menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.
Inovasi bernama Pupuk Kodomo itu tidak hanya meningkatkan kandungan nutrisi pupuk hingga 20 persen, tetapi juga telah mengantongi hak paten sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi para peternak.
Di ruang kerjanya di Program Studi Teknik Kimia UMS, Eni Budiyati memperlihatkan beberapa kemasan transparan berisi pupuk organik hasil inovasinya.
“Ini pupuk dari kotoran domba,” ujarnya sambil menunjukkan produk yang menjadi buah riset sekaligus pengabdian kepada masyarakat.
Gagasan tersebut lahir ketika Eni menjalankan program pengabdian masyarakat pada 2023. Saat itu ia melihat limbah kotoran domba di peternakan belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, jumlah limbah yang dihasilkan sangat besar dan berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola.
Melihat persoalan itu, Eni menggandeng Bamboe Koening Farm di Kabupaten Sukoharjo sebagai mitra penelitian. Tujuannya sederhana namun berdampak besar: mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.
Menurutnya, kotoran domba dipilih karena memiliki tekstur yang lebih padat dan relatif kering sehingga lebih mudah diolah dibandingkan kotoran ternak lainnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa seluruh jenis kotoran ternak pada dasarnya dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik.
Teknologi Maggot Tingkatkan Kualitas Pupuk
Keunikan inovasi Eni terletak pada teknologi yang digunakan. Jika pupuk organik konvensional umumnya memanfaatkan fermentasi EM4 atau proses penguraian alami di tanah, Pupuk Kodomo menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai agen biokonversi.
Larva tersebut memakan kotoran domba, kemudian menghasilkan kasgot (bekas kotoran maggot) yang selanjutnya diolah menjadi pupuk organik.
“Larva BSF akan memakan kotoran hewan. Setelah itu dia menghasilkan kotoran yang kemudian kami manfaatkan sebagai pupuk,” jelas Eni.
Produk itu kemudian diberi nama Kodomo, akronim dari Kotoran Domba Media Maggot.
Proses pembuatannya dimulai dengan mengeringanginkan kotoran domba, dilanjutkan fermentasi menggunakan EM4 selama satu hingga dua pekan. Setelah itu ditambahkan larva BSF berumur 5–11 hari dan didiamkan selama sekitar dua minggu hingga menghasilkan kasgot yang kemudian dipisahkan melalui proses pengayakan.
Kasgot itulah yang menjadi pupuk organik, sedangkan maggot yang telah tumbuh besar dimanfaatkan sebagai pakan ikan sehingga hampir tidak ada limbah yang terbuang.
Hasil penelitian menunjukkan penggunaan larva BSF mampu meningkatkan kualitas pupuk secara signifikan.
Setelah dibandingkan dengan kotoran domba sebelum perlakuan, kadar kalium dan fosfor pada pupuk hasil biokonversi meningkat hingga 20 persen.
“Kadar kalium rata-rata pada kompos BSF lebih besar dan lebih baik dibandingkan dengan kompos EM4,” ungkap Eni.
Kalium berperan penting dalam membantu tanaman menyerap air, meningkatkan ketahanan terhadap penyakit, serta mengaktifkan berbagai enzim pertumbuhan. Sementara fosfor berfungsi mendukung perkembangan akar, pembentukan bunga dan buah, serta proses fotosintesis tanaman.
Menurut Eni, keunggulan lain berasal dari bakteri yang terdapat di saluran pencernaan larva BSF sehingga pupuk yang dihasilkan mampu membantu mengendalikan patogen sekaligus merangsang pertumbuhan tanaman.
Dorong Ekonomi Peternak
Inovasi tersebut tidak berhenti pada laboratorium. Dalam proses pengembangannya, Eni melibatkan lima mahasiswa Teknik Kimia UMS bersama peternak Bamboe Koening Farm.
Kolaborasi itu menjadi bagian dari edukasi agar peternak mampu mengolah limbah menjadi sumber pendapatan baru.
Harga kotoran domba mentah di pasaran relatif rendah, sekitar Rp1.000–Rp3.000 per kilogram. Namun setelah diolah menjadi pupuk organik, nilainya meningkat hingga sekitar Rp5.000 per kilogram.
Seluruh proses juga menerapkan prinsip zero waste. Maggot yang telah berukuran besar tidak dibuang, melainkan dimanfaatkan sebagai pakan lele sehingga seluruh rantai produksi menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Kalau maggot-nya sudah besar, kami aplikasikan untuk pakan lele. Jangan sampai berubah menjadi lalat,” katanya.
Atas inovasi tersebut, Eni berhasil memperoleh hak paten untuk Pupuk Kodomo. Hasil riset dan pengabdian itu juga dipublikasikan dalam artikel ilmiah berjudul Edukasi Pupuk Kodomo Limbah Kotoran Domba dengan Media Larva BSF di Bamboe Koening Farm yang terbit di Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNSIQ.
Dengan inovasi ini, UMS menunjukkan bahwa riset perguruan tinggi tidak hanya melahirkan temuan ilmiah, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi persoalan lingkungan, pertanian, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments