Seutas tali ternyata bisa menjadi media belajar yang seru. Bagi Pasukan Hizbul Wathan (HW) MI Megah (Muhammadiyah Education Gedeg Al Hafidz) Mojokerto, tali bukan sekadar tali.
Dari Ikatan 8 hingga Ikatan Palang, terselip latihan ketelitian, kesabaran, kekompakan, dan keberanian.
Hal itu terlihat dalam kegiatan latihan HW yang digelar Kamis (17/9/2026) siang, pukul 13.55–15.05 WIB.
Para siswa tampak antusias mengikuti praktik keterampilan tali-temali. Tangan mereka sibuk memilin, melilit, menarik, dan mengencangkan tali hingga membentuk ikatan yang diharapkan.
Kegiatan semakin menarik karena setelah mendapatkan materi Ikatan 8, peserta memperoleh bonus Ikatan Palang.
Lebih dari Sekadar Bisa Mengikat
Latihan Ikatan 8 menjadi salah satu cara Pasukan HW MI Megah melatih keterampilan praktis siswa.
Mereka dituntut memperhatikan setiap langkah agar ikatan yang dibuat tidak mudah lepas dan sesuai dengan teknik yang diajarkan. Di sinilah tantangannya.
Ada yang sekali mencoba langsung berhasil. Ada pula yang harus mengulang beberapa kali. Namun, tidak ada kata menyerah. Ketika satu anggota mengalami kesulitan, anggota lainnya ikut membantu.
Suasana latihan pun menjadi semakin hidup.
“Kalau talinya belum benar, jangan buru-buru. Perhatikan langkahnya, ulangi, kemudian kencangkan,” menjadi arahan yang mengiringi praktik siswa.
Bagi pembina, proses tersebut justru menjadi bagian penting dari pembelajaran. Sebab, dalam kepanduan, keterampilan tidak cukup hanya dipahami. Ia harus dilatih, dipraktikkan, dan dibiasakan.
Bonus Ikatan Palang
Belum selesai dengan Ikatan 8, peserta mendapatkan kejutan kecil: bonus Ikatan Palang.
Materi tambahan ini membuat latihan semakin menantang. Siswa kembali mencoba mengikuti langkah demi langkah dengan penuh konsentrasi.
Ikatan Palang tidak hanya membutuhkan keterampilan tangan, tetapi juga koordinasi dan kerja sama. Kesalahan pada satu bagian dapat membuat hasil akhirnya kurang kuat atau kurang rapi.
Namun justru dari situlah siswa belajar.
Salah bukan berarti gagal. Salah berarti ada kesempatan untuk memperbaiki.
Semangat itulah yang tampak dalam latihan selama 70 menit, mulai pukul 13.55 hingga 15.05 WIB.
Lima Pembina Dampingi Latihan
Kegiatan latihan HW siang ini mendapat pendampingan dari Diah Kusumaningrum, Alfi Agustina, Vita Kurnia Jayanti, Ghoniatul Maghfiroh, dan Etika Rustantik.
Kehadiran para pembina tidak sekadar mengawasi jalannya kegiatan. Mereka turut memberikan arahan, mendampingi praktik, serta memastikan siswa memahami teknik yang sedang dipelajari.
Bagi MI Megah, kegiatan HW menjadi bagian dari ikhtiar membangun karakter siswa melalui pengalaman langsung.
Anak-anak belajar bahwa untuk mendapatkan hasil yang kuat, setiap bagian harus dikerjakan dengan benar.
Seperti sebuah ikatan: satu langkah yang tepat akan membuat keseluruhan menjadi kuat.
Dari Tali, Belajar Kehidupan
Latihan HW Ikatan 8 dan Ikatan Palang akhirnya bukan hanya tentang seberapa cepat siswa mampu membuat simpul.
Lebih dari itu, mereka sedang belajar tentang ketelitian, kesabaran, kedisiplinan, kerja sama, dan pantang menyerah.
Nilai-nilai itulah yang diharapkan tumbuh dalam diri Pasukan HW MI Megah.
Karena pendidikan karakter tidak selalu harus dilakukan di dalam kelas. Kadang, cukup dengan seutas tali, sebuah tantangan, dan kesempatan untuk mencoba kembali, anak-anak justru mendapatkan pelajaran yang akan mereka ingat lebih lama.
Ikatan 8 sudah. Ikatan Palang pun ditaklukkan.
Hari itu, mereka belajar mengikat tali. Lebih dari itu, mereka sedang belajar mengikat semangat, persaudaraan, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
MI Megah — Mencetak Generasi Islami, Cerdas, dan Berprestasi.





0 Tanggapan
Empty Comments