Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kebanyakan Janji dan Alasan: Cermin Hati yang Lalai

Iklan Landscape Smamda
Kebanyakan Janji dan Alasan: Cermin Hati yang Lalai
Kebanyakan Janji dan Alasan: Cermin Hati yang Lalai
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Dosen AIK Universitas Muhammadiyah Malang

Kebiasaan seseorang sering kali menjadi cerminan dari isi hati, pikiran, dan karakter dasarnya. Perilaku yang terus berulang dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan apa yang sebenarnya tertanam dalam diri seseorang.

Ada dua kebiasaan yang kerap menjadi tanda lemahnya iman dan kedewasaan spiritual seseorang: terlalu banyak berjanji, dan terlalu banyak alasan.

1. Banyak Berjanji, Minim Menepati

Sudah menjadi kebiasaan sebagian orang untuk mudah berjanji kepada Allah, tetapi lalai dalam menunaikannya. Sikap ini mencerminkan lemahnya komitmen dan kurangnya kesungguhan dalam beragama.

Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala:

وَمِنْهُمْ مَّنْ عَاهَدَ اللّٰهَ لَئِنْ اٰتٰٮنَا مِنْ فَضْلِهٖ لَـنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُوْنَنَّ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

“Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Alloh, “Sesungguhnya jika Alloh memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan niscaya kami termasuk orang-orang yang saleh.””
(QS. At-Taubah: 75)

Janji-janji itu sering kali terdengar indah:

  • Nanti rajin shalat malam kalau sudah dapat pekerjaan
  • Nanti menyantuni anak yatim kalau proyek berhasil
  • Nanti aktif ke majelis ilmu setelah menikah
  • Nanti fokus Al-Qur’an setelah punya anak
  • Nanti rutin sedekah setelah keuangan stabil

Namun, ketika Allah mulai melapangkan rezeki dan meningkatkan derajat, janji itu perlahan dilupakan. Digantikan dengan berbagai alasan.

Allah kembali mengingatkan:

فَلَمَّاۤ اٰتٰٮهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ بَخِلُوْا بِهٖ وَتَوَلَّوْا وَّهُمْ مُّعْرِضُوْنَ

“Ketika Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling, dan selalu menentang (kebenaran).”
(QS. At-Taubah: 76)

2. Terlalu Banyak Alasan untuk Tidak Beramal

SMPM 5 Pucang SBY

Selain banyak berjanji, kebiasaan lain yang sering muncul adalah mencari-cari alasan untuk meninggalkan amal kebaikan.

  • Sibuk dijadikan alasan menunda shalat
  • Lelah dijadikan alasan meninggalkan qiyamul lail
  • Kekurangan dijadikan alasan untuk tidak bersedekah
  • Kebutuhan pribadi dijadikan alasan untuk tidak membantu orang lain

Padahal, Allah tidak pernah membebani hamba-Nya di luar kemampuan.

Sebagaimana firman-Nya:

لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِّنْ سَعَتِهٖ ۗ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهٗ فَلْيُنْفِقْ مِمَّاۤ اٰتٰٮهُ اللّٰهُ ۗ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا مَاۤ اٰتٰٮهَا ۗ سَيَجْعَلُ اللّٰهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُّسْرًا

“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allh kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.”
(QS. At-Talaq: 7)

Ayat ini menegaskan bahwa dalam kondisi sempit sekalipun, seseorang tetap memiliki peluang untuk beramal sesuai kemampuannya.

Jangan menunggu lapang untuk beramal. Sebab, dalam kondisi terbatas pun seseorang tetap bisa berbuat kebaikan.

Bisa jadi, amal kecil yang dilakukan dalam keterbatasan justru menjadi penyelamat di akhirat.

Karena itu:

Jangan kebanyakan janji.
Jangan kebanyakan alasan.

Agar hidup tidak hanya bahagia di dunia, tetapi juga selamat di akhirat.

Revisi Oleh:
  • Satria - 19/04/2026 20:30
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu