Ada saat-saat tertentu yang tidak sekadar menjadi tanggal dalam kalender. Ada peristiwa yang kemudian menjelma menjadi jejak sejarah, karena di dalamnya tersimpan doa, perjuangan, kesabaran, dan harapan yang panjang.
Sabtu (29/8/2026) menjadi salah satu hari itu bagi keluarga besar STIT Muhammadiyah Paciran. Di kampus yang terus menumbuhkan mimpi besar di pesisir utara Lamongan tersebut, sebuah kabar baik akhirnya datang: Surat Keputusan (SK) pembukaan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STIT Muhammadiyah Paciran resmi turun.
SK itu adalah tanda bahwa sebuah ikhtiar telah menemukan pintu. Ia menjadi jawaban atas doa-doa yang pernah dilangitkan, rapat-rapat yang panjang, dokumen yang disusun dengan penuh ketelitian, serta keyakinan bahwa pendidikan dasar merupakan ladang penting untuk menanam masa depan bangsa.
Momentum bersejarah itu semakin istimewa dengan hadirnya Prof. Zainuri, P.hD dari Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Prof. Arskal, Sekretaris Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI.
Kehadiran dua tokoh tersebut memberi makna tersendiri. Tumbuhnya PGMI di STIT Muhammadiyah Paciran bukan sekadar kabar baik bagi sebuah perguruan tinggi, melainkan bagian dari ikhtiar yang lebih besar untuk memperkuat ekosistem pendidikan Islam di Indonesia.
SK tersebut diterima oleh Wakil Ketua I STIT Muhammadiyah Paciran, Dr. Maftuhah, M.Pd.
Ada simbol yang indah di balik penerimaan itu.
Sebuah amanah berpindah dari tangan ke tangan, dari lembaga kepada generasi, dari hari ini menuju masa depan. Sebab setiap SK yang diterima bukanlah akhir dari perjuangan. Justru, ia adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
PGMI bukan sekadar tentang mencetak guru. PGMI adalah tentang menyiapkan para penanam karakter.
Guru madrasah ibtidaiyah berhadapan dengan anak-anak yang sedang belajar mengenal dunia. Di tangan merekalah ilmu pertama kali menemukan bahasa yang sederhana. Di hadapan merekalah karakter mulai dibentuk, keberanian ditumbuhkan, akhlak dibiasakan, serta kecintaan kepada agama dan bangsa mulai ditanamkan.
Karena itu, hadirnya PGMI di STIT Muhammadiyah Paciran harus dibaca sebagai sebuah panggilan.
Panggilan untuk menghadirkan calon guru yang tidak hanya menguasai pedagogi, tetapi juga memiliki keteladanan. Guru yang tidak hanya mampu menjelaskan pelajaran, tetapi mampu menjadi pelajaran bagi peserta didiknya. Guru yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kedalaman spiritual, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Di sinilah semangat Muhammadiyah menemukan relevansinya.
Sejak awal, Muhammadiyah tidak pernah memisahkan pendidikan dari cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan bukan sekadar ruang untuk mentransfer pengetahuan, tetapi jalan untuk membentuk manusia yang berkemajuan.
Maka, PGMI STIT Muhammadiyah Paciran harus tumbuh dengan semangat aktif, kompetitif, inovatif, dan berkemajuan.
Kita boleh memulai dari Paciran, tetapi cita-citanya tidak boleh berhenti di Paciran.
Dari ruang-ruang kuliah yang sederhana, kelak lahir guru-guru yang berdiri di depan kelas-kelas madrasah. Dari tangan para dosen, lahir calon pendidik yang membawa ilmu ke berbagai penjuru negeri. Dari kampus Muhammadiyah di pesisir utara Lamongan ini, semoga tumbuh generasi yang mampu menjadi cahaya bagi pendidikan Islam Indonesia.
Ketua STIT Muhammadiyah Paciran, Idzi’ Layyinnati, M.Pd., menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas turunnya SK Prodi PGMI. Momentum tersebut menjadi penegasan bahwa pembukaan PGMI merupakan hasil kerja bersama, doa bersama, dan komitmen bersama seluruh keluarga besar STIT Muhammadiyah Paciran.
“Ini bukan kemenangan satu orang. Ini adalah kemenangan lembaga, kemenangan Muhammadiyah, dan terutama kemenangan ikhtiar kita untuk menghadirkan pendidikan yang lebih baik bagi masyarakat.”
Kalimat itu terasa tepat untuk menggambarkan makna turunnya SK tersebut.
Sebab sebuah lembaga pendidikan tidak pernah lahir dari kerja satu tangan. Di baliknya ada mereka yang menyusun gagasan, menyiapkan administrasi, berdiskusi hingga larut, memperbaiki kekurangan, menguatkan barisan, dan terus percaya bahwa setiap ikhtiar yang baik akan menemukan jalannya.
Kini, setelah SK itu berada di tangan, pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah PGMI bisa berdiri?”
Tetapi:
“Seberapa jauh PGMI mampu memberi arti?”
Pertanyaan kedua jauh lebih penting.
Sebab kampus tidak diukur hanya dari banyaknya program studi yang dimiliki, tetapi dari seberapa banyak kehidupan yang berubah karena ilmu yang dilahirkannya.
Hari ini kita menanam.
Esok, kita menunggu pohon itu tumbuh.
Lusa, semoga rindangnya menjadi tempat berteduh bagi generasi.
Dan kelak, ketika nama-nama mahasiswa PGMI STIT Muhammadiyah Paciran telah menjadi guru di berbagai madrasah; ketika mereka berdiri di depan anak-anak bangsa dan mengajarkan ilmu dengan ketulusan; ketika murid-murid mereka tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, dan berkemajuan, barulah kita akan memahami bahwa sebuah SK yang dahulu tampak seperti selembar kertas ternyata telah menjadi benih sejarah.
Benih yang ditanam melalui doa.
Disiram dengan perjuangan.
Dirawat dengan komitmen.
Dan kelak diharapkan tumbuh menjadi pohon pendidikan yang memberi manfaat bagi umat dan bangsa.
Dari Paciran, kita menyalakan cahaya.
Dari Muhammadiyah, kita meneguhkan langkah.
Dari PGMI, kita menyiapkan guru masa depan.
Dan dari pendidikan, kita menjemput Indonesia yang berkemajuan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments