Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

KKN UMG di Dawarblandong Didorong Tak Sekadar Seremonial, Mahasiswa Diminta Hadirkan Dampak Nyata

Iklan Landscape Smamda
KKN UMG di Dawarblandong Didorong Tak Sekadar Seremonial, Mahasiswa Diminta Hadirkan Dampak Nyata
pwmu.co -

Kuliah Kerja Nyata (KKN) tidak semestinya berhenti pada rangkaian kegiatan seremonial selama mahasiswa berada di desa. Program pengabdian kepada masyarakat perlu diarahkan menjadi ruang penerapan ilmu pengetahuan sekaligus menghasilkan kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat secara nyata dan berkelanjutan.

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan dalam Pembukaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Senin (10/8/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa, dosen pembimbing lapangan, dan unsur masyarakat dalam agenda pengabdian yang menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai bagian penting dari proses pembelajaran.

Pandangan tersebut sejalan dengan arah pengembangan KKN UMG yang dalam sejumlah programnya mulai menekankan pendekatan berbasis dampak.

Pada 2026, UMG mengembangkan KKN Tematik yang diarahkan bukan sekadar sebagai agenda formal tahunan, melainkan sebagai pengabdian yang menghasilkan aksi nyata di tengah masyarakat.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kelompok 18, Purwanto, ST., MT., menekankan bahwa mahasiswa harus mampu menerjemahkan pengetahuan akademik yang diperoleh selama perkuliahan menjadi solusi aplikatif ketika berada di masyarakat.

“KKN harus memberikan dampak. Mahasiswa tidak cukup hanya melaksanakan program kerja, tetapi harus mampu mengidentifikasi persoalan masyarakat, menganalisis akar masalahnya, kemudian menerapkan keilmuan yang diperoleh di perkuliahan menjadi solusi yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Purwanto.

Menurut dia, keberhasilan KKN tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan atau dokumentasi program.

Ukuran yang lebih substantif adalah perubahan, manfaat, peningkatan kapasitas, serta keberlanjutan yang dapat ditinggalkan setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdian.

“Mahasiswa Teknik Industri, misalnya, tidak hanya datang untuk melaksanakan kegiatan sosial. Mereka harus mampu membawa perspektif keilmuan seperti perbaikan proses, efisiensi, produktivitas, ergonomi, pengelolaan sumber daya, kualitas, hingga pemanfaatan teknologi sesuai kebutuhan masyarakat,” katanya.

Pendekatan tersebut menjadikan KKN sebagai proses pembelajaran dua arah. Mahasiswa belajar memahami persoalan nyata di lapangan, sementara masyarakat memperoleh alternatif solusi berdasarkan pengetahuan akademik yang relevan.

Purwanto menjelaskan bahwa mahasiswa perlu memulai kegiatan KKN dengan observasi dan identifikasi kebutuhan masyarakat, bukan langsung menentukan program kerja.

Tahap tersebut penting agar program yang dirancang tidak bersifat top-down, melainkan sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, pendidikan, maupun potensi lokal desa.

“Program kerja harus lahir dari kebutuhan masyarakat. Mahasiswa melakukan observasi, berdialog dengan perangkat desa dan masyarakat, mengidentifikasi masalah, menentukan prioritas, kemudian merancang intervensi yang realistis. Setelah itu harus ada evaluasi untuk melihat apakah program tersebut benar-benar memberikan manfaat,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, KKN dapat menjadi semacam laboratorium sosial bagi mahasiswa. Konsep yang selama ini dipelajari secara teoritis di ruang kuliah diuji melalui kondisi nyata yang jauh lebih kompleks.

Model pengabdian berbasis kebutuhan tersebut juga telah terlihat dalam kegiatan KKN UMG sebelumnya di Kecamatan Dawarblandong.

SMPM 5 Pucang SBY

Salah satu kelompok mahasiswa di Desa Temuireng, misalnya, mengembangkan edukasi pengelolaan sampah dan sosialisasi pengelolaan sampah untuk menjawab persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat setempat.

Bagi Purwanto, indikator penting lainnya adalah keberlanjutan. Program KKN idealnya tidak berhenti ketika mahasiswa meninggalkan lokasi.

Masyarakat perlu memperoleh pengetahuan, keterampilan, sistem, atau perangkat yang memungkinkan program tetap berjalan secara mandiri.

“Yang kita harapkan bukan sekadar mahasiswa datang, membuat kegiatan, kemudian selesai. Yang lebih penting adalah setelah mahasiswa kembali ke kampus, masyarakat tetap memiliki sesuatu yang dapat dilanjutkan—baik pengetahuan, keterampilan, sistem kerja, maupun inovasi yang telah dibangun bersama,” kata Purwanto.

Karena itu, mahasiswa didorong untuk membangun kolaborasi dengan perangkat desa, kelompok masyarakat, pelaku UMKM, sekolah, maupun berbagai pemangku kepentingan lokal.

Kolaborasi tersebut penting agar solusi yang dihasilkan memiliki penerimaan sosial sekaligus peluang keberlanjutan.

KKN pada akhirnya tidak hanya menjadi bentuk pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat, tetapi juga instrumen pendidikan untuk membangun kompetensi mahasiswa.

Di lapangan, mahasiswa dituntut mengintegrasikan kemampuan akademik dengan komunikasi, kerja tim, kepemimpinan, pemecahan masalah, adaptasi, dan pengambilan keputusan.

Dengan demikian, pengalaman KKN dapat mempertemukan teori, praktik, dan kebutuhan masyarakat dalam satu proses pembelajaran.

Penguatan orientasi tersebut juga sejalan dengan perkembangan program pengabdian UMG. Pada 2026, UMG dan BPS Kabupaten Gresik mengembangkan kolaborasi yang mengintegrasikan KKN Tematik dengan kegiatan Sensus Ekonomi 2026, termasuk peluang penelitian dan pengembangan artikel ilmiah mahasiswa.

Bagi mahasiswa yang ditempatkan di Dawarblandong, pesan tersebut menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab.

KKN bukan tentang seberapa banyak kegiatan yang dapat dilaksanakan, melainkan seberapa relevan solusi yang diberikan dan seberapa besar manfaat yang dapat ditinggalkan.

“Jadikan KKN sebagai momentum untuk membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi memiliki manfaat bagi masyarakat. Ilmu harus turun dari ruang kuliah, diterapkan di lapangan, dievaluasi, dan kemudian dikembangkan menjadi solusi yang nyata,” tutur Purwanto.

Dengan paradigma tersebut, KKN diharapkan tidak hanya menghasilkan laporan akademik di akhir kegiatan, tetapi juga meninggalkan dampak sosial, peningkatan kapasitas masyarakat, dan praktik baik yang dapat dilanjutkan setelah mahasiswa kembali ke kampus.

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu