Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Lewat Buku Antologi Nasional, Musyrifah Ajak Orang Tua dan Sekolah Bersinergi Membentuk Karakter Anak

Iklan Landscape Smamda
Lewat Buku Antologi Nasional, Musyrifah Ajak Orang Tua dan Sekolah Bersinergi Membentuk Karakter Anak
Musyrifah dan buku Peran Orang Tua dan Budaya Sekolah dalam Pendidikan Karakter sebagai Karya Antologi ke-40 (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Pendidikan karakter tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah atau keluarga semata. Keduanya harus berjalan beriringan agar anak memperoleh teladan, pembiasaan, dan lingkungan yang mendukung tumbuhnya karakter positif. Gagasan tersebut disampaikan Musyrifah melalui esai berjudul Dua Pilar Utama Karakter Anak yang dimuat dalam buku antologi Peran Orang Tua dan Budaya Sekolah dalam Pendidikan Karakter.

Buku yang ditulis oleh Dr. Eko Prasetyo, S.S., S.I.Kom. dkk. tersebut menghimpun karya dari 68 guru dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Musyrifah. Antologi itu diterbitkan oleh Pustaka Media Guru dan resmi diluncurkan pada Jumat (26/6/2026).

Bagi Musyrifah, kesempatan menjadi salah satu penulis dalam buku tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengalaman sekaligus mengajak para pendidik dan orang tua melihat pentingnya kolaborasi dalam pendidikan karakter.

Dalam esainya, ia menjelaskan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak belajar mengenal nilai-nilai kehidupan. Orang tua tidak hanya berperan sebagai pengasuh, tetapi juga menjadi teladan dalam membangun sikap jujur, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian.

Di sisi lain, sekolah menjadi ruang yang memperkuat nilai-nilai tersebut melalui berbagai pembiasaan. Budaya sekolah yang positif, menurutnya, akan membantu anak menerapkan karakter baik dalam kehidupan sehari-hari melalui interaksi dengan guru maupun teman sebaya.

Musyrifah menilai pembentukan karakter tidak akan berjalan optimal apabila keluarga dan sekolah memiliki nilai atau kebiasaan yang berbeda. Keselarasan aturan dan pembiasaan di kedua lingkungan tersebut akan membantu anak memahami mana sikap yang perlu dipertahankan dan diterapkan dalam kehidupan.

Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan orang tua dalam berbagai kegiatan sekolah. Melalui forum seperti Komite Sekolah atau Persatuan Orang Tua Murid dan Guru, komunikasi antara sekolah dan keluarga dapat terjalin lebih baik sehingga tujuan pendidikan karakter dapat disusun secara bersama.

Menurutnya, kerja sama tersebut dapat diperkuat melalui berbagai kegiatan edukatif, seperti seminar, diskusi, maupun pelatihan yang menghadirkan praktisi atau pakar pendidikan. Dengan demikian, sekolah dan orang tua memiliki pemahaman yang sama mengenai karakter yang ingin dibangun pada diri anak.

Musyrifah meyakini bahwa karakter yang terbentuk sejak dini akan memengaruhi perkembangan seseorang hingga dewasa. Oleh sebab itu, proses pendidikan karakter memerlukan konsistensi dari seluruh pihak yang terlibat dalam kehidupan anak.

Langkah Sederhana Membangun Karakter Anak

Melalui esainya, Musyrifah juga membagikan sejumlah langkah sederhana yang dapat diterapkan oleh keluarga maupun sekolah.

SMPM 5 Pucang SBY

Pertama, menyelaraskan aturan yang berlaku di rumah dengan aturan yang diterapkan di sekolah agar anak memperoleh pembiasaan yang konsisten.

Kedua, orang tua diharapkan menjadi teladan, bukan hanya memberi nasihat. Sikap jujur, disiplin, dan bertanggung jawab perlu dicontohkan melalui perilaku sehari-hari.

Ketiga, membangun komunikasi dengan menyediakan waktu untuk berbincang bersama anak setiap hari serta menunjukkan sikap santun kepada guru maupun sesama sebagai contoh nyata bagi anak.

Keempat, sekolah perlu membiasakan kegiatan positif yang dilakukan secara berulang, seperti berdoa bersama, piket kelas, antre, dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah.

Kelima, penerapan sanksi sebaiknya bersifat mendidik, bukan mempermalukan peserta didik. Bentuk tanggung jawab yang diberikan dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran karakter.

Keenam, orang tua dan guru perlu memberikan apresiasi terhadap perilaku baik, bukan semata-mata prestasi akademik. Menghargai anak yang membantu teman, mengembalikan barang yang ditemukan, atau berani meminta maaf merupakan bagian dari penguatan karakter yang akan membekas hingga dewasa.

Melalui karya yang dimuat dalam buku antologi tersebut, Musyrifah berharap semakin banyak orang tua dan pendidik yang menyadari bahwa pembentukan karakter merupakan tanggung jawab bersama. Sinergi antara keluarga dan sekolah menjadi fondasi penting dalam menyiapkan generasi yang berakhlak, bertanggung jawab, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 28/06/2026 14:21
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu