Ada riwayat yang tak lelah berulang, berputar di atas sajadah, menggema dari corong-corong surau setiap tanggal dua belas Rabiul Awal. Kita menyebutnya Maulid. Kata yang, jika ditimbang di timbangan sharaf, adalah isim zaman—penanda waktu.
Sebuah tikungan sejarah ketika rahim Aminah melahirkan bayi yatim yang kelak mengubah arah kompas bumi. Tapi manusia, makhluk yang gemar merayakan rupa, kerap keliru menukar wadah dengan isi.
Kita sibuk berdebat soal sah atau tidaknya puji-pujian, sibuk menghias panggung, sementara sang Maulud—bayi yang lahir itu sendiri—sering tertinggal di luar pintu masjid, dingin dan tak dikenal di jalan-jalan raya ibu kota yang macet.
Padahal, di situlah letak dramanya. Langit dan bumi bersepakat mencairkan batas. Di satu sisi, teologi mencatatnya sebagai nubuwwah, intervensi transenden yang merobek langit Makkah.
Di sisi lain, ia adalah jejak kaki berdarah seorang anak yatim di tengah masyarakat tribal yang menuhankan kesukuan. Muhammad bukanlah malaikat yang turun membawa sayap berkilau dari awan.
Ia adalah manusia berdarah daging yang pernah lapar, yang pernah bersedih, dan yang tahu betul bagaimana rasanya diinjak-injak oleh struktur sosial yang kejam.
Di sinilah harus meletakkan cermin itu secara tegak-tegak. Ketika umat Islam hari ini merayakan Maulid dengan gegap gempita, sering kali kita lupa bahwa nabi yang kita tangisi kerinduannya adalah musuh utama segala bentuk penindasan.
Ia datang bukan untuk dibaiat sebagai raja feodal, melainkan untuk meruntuhkan tembok-tembok penindasan kaum mustadh’afin (kaum tertindas).
Bayangkan jika ia hidup hari ini, barangkali ia tidak akan duduk di kursi VVIP undangan perayaan, melainkan berdiri di barisan paling depan membela mereka yang tergusur, atau menegur para penguasa yang gemar bersumpah atas nama Tuhan namun merampok piring rakyatnya sendiri.
Cahaya Ilahi dan Keberpihakan
Maka, membandingkan Maulid dengan Natal—seperti dua tradisi besar yang memuja fajar di tengah malam—bukanlah usaha mencampuradukkan akidah, melainkan upaya meraba denyut kemanusiaan yang sama.
Keduanya menolak kemegahan istana. Yang satu lahir di kesederhanaan kandang domba, yang satu lagi tumbuh di lorong-lorong tandus Makkah.
Keduanya membawa pesan purba yang sama: bahwa cahaya ilahi tidak pernah turun di puncak menara gading, ia selalu menyala dari sudut-sudut paling remeh dan terabaikan di bumi.
Barangkali, esensi Maulid yang paling autentik bukanlah seberapa keras suara kita bershalawat, melainkan melahirkan kembali kejujuran Al-Amin di dalam dompet kita yang korup, atau merawat keadilan Piagam Madinah di tengah republik yang sedang koyak oleh kebencian.
Sebab, merayakan kelahiran Nabi tanpa meneladani keberpihakannya pada kemanusiaan hanyalah sebuah sandiwara musiman—sebuah perayaan meriah di atas panggung, sementara di luar sana, manusia-manusia tertindas masih menanti datangnya fajar yang ia janjikan.
Wallahu a’lamu bis-shawaab.





0 Tanggapan
Empty Comments