Menangkal arus lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) harus menjadi perhatian serius. Membentengi generasi muda dari pengaruh lingkungan pergaulan memerlukan langkah preventif yang konkret. Mulai dari penguatan internal keluarga hingga penanaman nilai-nilai spiritual yang kuat.
Hal tersebut ditegaskan oleh dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr. Imtihanatul Ma’isyatuts Tsalitsah, S.Ud., M.Pd.
“Bagi remaja, pilih-pilih teman itu hal yang krusial. Jangan sampai berniat ingin mengajak mereka ke arah yang baik, tapi karena kita sendiri tidak siap. Malah kita yang akhirnya ikut terseret masuk ke lingkungan mereka,” ujarnya usai sesi rekaman podcast di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah (PUSDAM) PDM Kota Surabaya, Jalan Wuni, Genteng, Kamis (11/6/2026) malam.
Menurut Imtihan, benteng pertama dan utama dalam menangkal pergaulan bebas serta LGBT berada di tangan orang tua. Pola asuh yang abai atau sekadar menganggap anak dalam kondisi aman tanpa pengawasan intensif kini tidak lagi cukup.
“Orang tua harus siap, harus mau tahu, dan harus peduli dengan lingkungan anak-anak mereka. Kita tidak bisa lagi berpikir yang penting asal anak kelihatan baik-baik saja lalu selesai,” ujar Imtihan.
Selain faktor domestik, selektivitas dalam pertemanan menjadi krusial bagi kalangan remaja. Lingkungan pergaulan di luar rumah diakui memiliki daya penetrasi yang kuat dalam membentuk perilaku. Jika seorang remaja tidak memiliki prinsip yang kokoh, mereka rentan terseret masuk ke dalam lingkaran yang salah.
Imtihan mengingatkan agar para remaja tidak meremehkan pengaruh kelompok sebaya. Seringkali niat awal untuk mewarnai atau membawa perubahan positif justru berbalik menjadi terpengaruh oleh arus dominan lingkungan tersebut.
Di sisi lain, aspek spiritualitas diposisikan sebagai jangkar moral yang tidak bisa ditawar. Penguatan ilmu agama bukan sekadar formalitas teologis. Melainkan instrumen aplikatif untuk membedakan hal yang hak (benar) dan batil (salah). Keberadaan nilai agama ini yang nantinya termanifestasi dalam karakter sehari-hari remaja.
“Setinggi apa pun jabatan atau sebanyak apa pun materi yang dimiliki, ilmu agama tetap menjadi benteng utama dalam setiap ranah kehidupan. Pembelajaran agama tidak berhenti pada aspek percaya saja. Tapi bagaimana ibadah itu bisa memengaruhi karakter dan menguatkan mental kita di era globalisasi ini,” tuturnya.
Dari perspektif psikologis dan spiritual, berpuasa memiliki korelasi kuat dalam membentuk ketahanan mental. Menjalankan ibadah puasa dinilai efektif melatih kedisiplinan diri dan memperteguh prinsip hidup. Sehingga generasi muda tidak mudah goyah atau terombang-ambing oleh tren lingkungan yang menyimpang.





0 Tanggapan
Empty Comments