Pada Jumat (22/5/2026) pukul 21.00 WIB, saya diminta oleh Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah Tembok Luwung, Adiwerna, untuk menyampaikan materi bertema “Mengenal Definisi Kader Muhammadiyah”.
Tema ini lahir dari kegelisahan bersama karena istilah “kader” di Persyarikatan kerap disalahgunakan sebagai alat pencitraan demi kepentingan pragmatis.
Ada yang mengklaim dirinya sebagai kader demi memperoleh dukungan Muhammadiyah untuk meraih jabatan politik, memimpin amal usaha, atau kepentingan tertentu lainnya.
Bahkan, istilah “kader” kadang dipakai sebagian orang yang merasa “paling kader” untuk melabeli orang lain sebagai “kurang kader” melalui stereotip negatif.
Padahal, tidak ada yang salah apabila jabatan politik, kepemimpinan amal usaha, maupun posisi strategis di Muhammadiyah diisi oleh kader Muhammadiyah.
Tentu yang dimaksud adalah kader ideal, atau setidaknya kader yang terus berproses menuju idealitas. Kepemimpinan yang dipegang kader akan membawa maslahat bagi umat. Pertanyaannya, apa sebenarnya makna kader Muhammadiyah?
Kader Muhammadiyah adalah muslim yang beridentitas Muhammadiyah, memahami, serta bertindak sesuai maksud, tujuan, dan usaha Muhammadiyah dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Pengertian ini dapat ditarik dari identitas, tujuan, dan usaha Muhammadiyah sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah.
Membaca Identitas Muhammadiyah
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, identitas berarti ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang, atau jati diri. Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah Bab II Pasal 4 ditegaskan bahwa “Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi mungkar, dan tajdid, bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.”
Rumusan ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah memproklamasikan dirinya sebagai gerakan Islam. Karena itu, Islam dan Muhammadiyah tidak dapat dipisahkan.
Jati diri Muhammadiyah adalah Islam, yakni Islam yang dipahami melalui tafsir, ijtihad, dan gerakan Muhammadiyah sejak masa KH Ahmad Dahlan hingga era Prof. Dr. Haedar Nashir saat ini.
Dari identitas tersebut dapat dipahami bahwa kader Muhammadiyah adalah seorang muslim yang menjalankan Islam melalui cara pandang dan pemahaman Muhammadiyah.
Ia adalah hamba Allah yang berusaha menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sesuai tuntunan Rasulullah sebagaimana dipahami Muhammadiyah.
Karena itu, ciri minimal seorang kader adalah menjaga salat wajib, membiasakan membaca al-Quran, meningkatkan intelektualitas, dan menjaga diri dari dosa besar. Semua itu merupakan bentuk hubungan transendental antara kader dengan Tuhannya.
Gerakan Islam yang Menggerakkan
Muhammadiyah bukan sekadar identitas, melainkan gerakan. Artinya, kader Muhammadiyah adalah muslim yang membangun hubungan spiritual dengan Allah, lalu bergerak menghadirkan manfaat bagi sesama dan lingkungan.
Kader Muhammadiyah tidak berhenti pada kesalehan pribadi. Ia juga hidup untuk menghidupkan kebaikan, berjuang dan memperjuangkan kemaslahatan. C
ontohnya dapat dilihat pada aktivis mahasiswa Muhammadiyah yang selesai salat lalu berdiskusi menghidupkan tradisi intelektual. Atau pimpinan ranting Pemuda Muhammadiyah yang setelah tadarus al-Quran menyusun kegiatan sosial dan dakwah komunitas anak muda.
Begitu pula para penggerak Muhammadiyah yang selesai dari masjid lalu rapat mengevaluasi sekolah, PKU, kampus, lembaga sosial, maupun lembaga bisnis Muhammadiyah. Semua itu adalah wujud nyata kader yang bergerak dan menggerakkan dakwah.
Membaca Maksud dan Tujuan Muhammadiyah
Kader Muhammadiyah bukan hanya memiliki identitas Muhammadiyah, tetapi juga memahami maksud dan tujuan Persyarikatan.
Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah Bab III disebutkan bahwa tujuan Muhammadiyah adalah “menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.”
Untuk mencapai tujuan tersebut, Muhammadiyah melaksanakan dakwah amar makruf nahi mungkar dan tajdid dalam berbagai bidang kehidupan. Bentuknya dapat berupa pendidikan, kesehatan, ekonomi, pelayanan sosial, dan berbagai amal usaha lainnya.
Ketika warga Muhammadiyah mengelola sekolah, rumah sakit PKU, kampus, maupun Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM), mereka sejatinya sedang berdakwah. Dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah, tetapi juga melalui pelayanan sosial dan penguatan ekonomi umat.
Keberadaan PKU Muhammadiyah, misalnya, merupakan bentuk amar makruf melalui pelayanan kesehatan yang Islami. Sementara BTM menjadi sarana dakwah ekonomi syariah dengan mengajarkan praktik keuangan yang halal dan berkeadilan.
Semangat tajdid membuat Muhammadiyah terus menyesuaikan metode dakwah dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam. Karena itu, seluruh program dan amal usaha Muhammadiyah pada dasarnya adalah instrumen dakwah amar makruf nahi mungkar.
Menjadi Kader adalah Hidayah
Memahami AD/ART Muhammadiyah, mengikuti Baitul Arqam, atau mempelajari Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah merupakan proses ilmiah pembentukan kader. Namun, menjadi kader sejati tidak cukup hanya melalui proses formal. Dibutuhkan hidayah dan taufik dari Allah Swt.
Ber-Muhammadiyah pada hakikatnya adalah ber-Islam. Sementara menjadi muslim yang istiqamah merupakan anugerah hidayah dari Allah. Karena itu, selain belajar dan berproses secara ilmiah, seorang kader juga harus menempuh jalan doa dan munajat.
Tidak sedikit orang yang lahir dari keluarga Muhammadiyah dan mengikuti seluruh jenjang pengkaderan, tetapi kemudian menjauh dari dakwah Persyarikatan.
Sebaliknya, ada pula orang yang dahulu menentang Muhammadiyah, namun kini justru berada di barisan perjuangan dakwah Muhammadiyah karena memperoleh hidayah dan taufik Allah.
Pada 8 Dzulhijjah 1330 H, Muhammadiyah didirikan sebagai gerakan dakwah Islam. Semoga momentum Milad Muhammadiyah ke-117 ini menjadi refleksi bersama untuk terus melahirkan kader yang tidak hanya memahami Muhammadiyah secara administratif, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai Islam dalam gerakan dakwah dan kemanusiaan.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments