Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Lamongan menggelar rapat kerja sebagai langkah awal mengawali periode kepengurusan baru. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Rapat Gedung Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan, Selasa (25/8/2026).
Rapat kerja menjadi momentum konsolidasi sekaligus ruang untuk merumuskan arah gerakan IMM Lamongan selama satu periode ke depan. Dalam forum tersebut, PC IMM Lamongan mengusung spirit “Dialektika Kolektif” sebagai pijakan dalam membangun relevansi gerakan IMM di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta kompleksitas persoalan masyarakat.
Spirit dialektika kolektif tidak sekadar ditempatkan sebagai slogan, tetapi diarahkan menjadi kerangka berpikir dalam penyusunan program kerja setiap bidang. Setiap program didorong memiliki nilai substantif, menjawab kebutuhan, serta mampu menghadirkan dampak nyata di tengah masyarakat.
Ketua Umum PC IMM Lamongan, Aldiansyah, mengatakan dialektika kolektif menjadi cara organisasi dalam mempertemukan gagasan dengan realitas.
“Dialektika kolektif bagi kami bukan sekadar cara IMM membaca zaman. Setiap gagasan harus dipertemukan dengan realitas, kemudian diolah secara kolektif menjadi gerakan yang relevan. Karena itu, program kerja yang disusun setiap bidang harus mampu menjawab persoalan, bukan sekadar memenuhi agenda organisasi,” ujarnya.
Menurutnya, relevansi gerakan tidak dapat dibangun hanya melalui banyaknya kegiatan. Ukuran keberhasilan justru terletak pada sejauh mana gerakan mampu memberikan kontribusi terhadap persoalan yang ada dan menghadirkan dampak yang dapat dirasakan.
Catur Cakap Jadi Indikator Perkaderan
Dalam perjalanan satu periode mendatang, PC IMM Lamongan juga menetapkan prinsip “Catur Cakap” sebagai salah satu indikator keberhasilan kader dan organisasi. Catur Cakap tersebut meliputi kecakapan intelektual, emosional, sosial, dan digital.
Keempat kecakapan tersebut dipandang sebagai kebutuhan penting bagi kader IMM dalam menghadapi perubahan zaman. Kecakapan intelektual diarahkan untuk membangun tradisi berpikir kritis dan analitis. Kecakapan emosional ditujukan untuk membentuk kematangan dalam mengelola diri dan relasi.
Sementara itu, kecakapan sosial menjadi bekal kader dalam membaca dan berinteraksi dengan realitas masyarakat. Adapun kecakapan digital menjadi bagian penting dalam menghadapi transformasi teknologi sekaligus perkembangan ruang publik digital.
“Catur Cakap kami jadikan indikator agar perkaderan tidak berhenti pada kemampuan memahami teori, tetapi berlanjut pada kemampuan mengelola diri, membangun relasi sosial, dan beradaptasi dengan ruang digital. Kami ingin kader IMM Lamongan memiliki kapasitas yang tajam secara intelektual, matang secara emosional, kuat secara sosial, dan adaptif secara digital,” tegas Aldiansyah.
Melalui rapat kerja tersebut, PC IMM Lamongan menargetkan seluruh bidang mampu menerjemahkan spirit Dialektika Kolektif dan Catur Cakap ke dalam program kerja yang terukur dan berdampak.
Dengan demikian, satu periode kepengurusan tidak hanya menjadi siklus administratif organisasi, tetapi menjadi ruang aktualisasi gerakan yang mampu mempertemukan gagasan, kaderisasi, dan kebutuhan masyarakat.
Aldiansyah menegaskan, perjalanan satu periode ke depan akan dibangun melalui kerja kolektif, keberanian membaca perubahan, serta konsistensi menghadirkan IMM di berbagai ruang strategis.
Dialektika menjadi cara membaca perubahan, kolektif menjadi cara bergerak, sementara relevansi menjadi ukuran sejauh mana gerakan IMM benar-benar bermakna bagi masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments