Keterbatasan lagu anak di tengah perkembangan teknologi mendorong guru untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta karya. Gagasan itu mengemuka dalam Pelatihan JILD 2 bertajuk Pembuatan Lagu dan Video dengan AI di Gedung Garuda Spark, Jalan Sidosermo II No. 106F, Sidosermo, Kecamatan Wonocolo, Surabaya, Rabu (26/8/2026).
Sebanyak 25 guru TK ABA dan SD Muhammadiyah dari Surabaya dan sekitarnya mengikuti pelatihan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut. Mereka tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan pembuatan karya berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Narasumber pelatihan, Dito Christianto, konsultan bisnis dan UMKM bidang digital marketing, praktisi pendidikan, sekaligus founder E-School atau SMP Muhammadiyah 18 Surabaya, mengawali materi dengan mengajak peserta mengingat kembali lagu-lagu anak yang populer pada era 1990-an.
“Saya mengajak kita semua nostalgia dengan lagu anak zaman dulu. Dulu lagu anak cukup banyak dan menjadi bagian dari keseharian anak,” ujar Dito.
Menurutnya, kondisi saat ini berbeda. Lagu yang secara khusus ditujukan untuk anak semakin terbatas. Karena itu, guru dapat mengambil peran untuk menghadirkan karya baru yang tetap memiliki nilai pendidikan.
“Keprihatinan saya adalah sekarang lagu anak semakin minim. Ini bisa menjadi motivasi bagi guru untuk menciptakan lagu sendiri yang ramah anak,” katanya.
Dito kemudian menunjukkan bahwa proses menciptakan lagu tidak selalu membutuhkan kemampuan teknis yang rumit. Dengan memanfaatkan AI, guru dapat mengembangkan ide sederhana menjadi lirik, musik, ilustrasi, hingga video pembelajaran.
“Yang penting kita punya ide dan tahu bagaimana memberikan perintah atau prompt yang tepat kepada AI,” jelasnya.
Dalam praktiknya, peserta dikenalkan dengan sejumlah platform yang memiliki fungsi berbeda. ChatGPT digunakan untuk membantu menyusun lirik lagu anak, sementara Gemini dapat dimanfaatkan sebagai alternatif untuk mengembangkan lirik maupun ide ilustrasi.
“ChatGPT bisa kita gunakan untuk membuat lirik lagu anak,” terang Dito.
“Gemini juga bisa menjadi alternatif untuk lirik dan membantu membuat ilustrasi awal,” lanjutnya.
Tahap berikutnya dilakukan menggunakan Sino untuk mengolah lirik menjadi lagu. Peserta belajar menyesuaikan prompt agar karakter lagu sesuai dengan kebutuhan anak.
“Sino kita gunakan untuk membuat lagu dari lirik yang sudah kita susun. Tinggal kita sesuaikan prompt-nya,” ujar Dito.
Pembelajaran tidak berhenti pada pembuatan lagu. Peserta juga diajak mengembangkan karya menjadi video pembelajaran.
Flow AI diperkenalkan untuk membantu pembuatan video klip. Selanjutnya, CapCut digunakan untuk menyempurnakan hasil video yang telah dibuat, termasuk menyesuaikan tempo dan musik.
“Flow AI bisa digunakan untuk membuat video klip. Kemudian CapCut bisa kita pakai untuk menyempurnakan hasilnya, termasuk menyesuaikan tempo dan musik,” paparnya.
Pendekatan praktik langsung membuat peserta lebih aktif mengikuti setiap tahapan pelatihan. Eko Wahyudi, S.Pd., guru SD Muhammadiyah 16 Surabaya yang bertugas sebagai MC sekaligus fasilitator, turut mendampingi peserta selama kegiatan berlangsung.
Eko menekankan pentingnya kemampuan guru dalam menggunakan teknologi secara bijak dan memanfaatkannya untuk menghasilkan karya yang mendukung pembelajaran.
“Jangan sampai teknologi hanya kita kenal, tetapi tidak kita manfaatkan. Guru harus cerdas menggunakan teknologi untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi pembelajaran,” tuturnya.
Pengalaman Eko dalam memanfaatkan teknologi di berbagai kegiatan sekolah turut mendukung proses pendampingan. Sejumlah kegiatan, seperti festival dan assembly learning di sekolahnya, telah memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan berbagai produk kreatif.
Bagi peserta, praktik langsung menjadi salah satu bagian yang paling membantu dalam memahami pemanfaatan AI.
Sakinah Bob Said, S.Pd., guru SD Muhammadiyah 1 Bangil, Pasuruan, mengaku mendapatkan pengalaman baru dalam membuat media pembelajaran.
“Saya senang karena setiap tahap pembuatan video pembelajaran dipandu secara langsung,” ungkap Sakinah.
Menurutnya, pendampingan tersebut membuat peserta lebih mudah mengikuti proses pembuatan media pembelajaran yang sebelumnya mungkin terasa cukup rumit.
Pelatihan JILD 2 pun tidak sekadar memperkenalkan kecanggihan AI. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi sarana bagi guru untuk kembali menghadirkan karya kreatif yang dekat dengan dunia anak.
Dari sebuah ide sederhana, guru dapat mengembangkan lirik menjadi lagu, kemudian mengolahnya menjadi ilustrasi dan video pembelajaran. Dengan pemanfaatan yang tepat, teknologi dapat menjadi alat yang membantu guru melahirkan media pendidikan yang lebih kreatif dan menarik.





0 Tanggapan
Empty Comments