Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pendidikan Butuh Keteladanan, Bukan Retorika

Iklan Landscape Smamda
Pendidikan Butuh Keteladanan, Bukan Retorika
Oleh : Helmi Rohmanto, M.Pd Kamad MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi Laren Lamongan

Pendidikan sejatinya bukan sekadar ruang untuk menyampaikan teori, melainkan tempat lahirnya keteladanan.

Di dalam lembaga pendidikan, kata-kata memang penting, tetapi perbuatan jauh lebih bermakna.

Peserta didik tidak hanya mendengar apa yang diucapkan gurunya, tetapi juga mengamati bagaimana guru bersikap, bekerja, dan menjalankan amanah.

Hari ini, tidak sedikit lembaga pendidikan dipenuhi slogan, visi yang indah, serta pidato yang menggugah.

Rapat demi rapat melahirkan berbagai rencana besar. Seminar dan pelatihan terus berlangsung.

Namun, semua itu sering kali berhenti pada tataran retorika.

Program tidak berjalan secara konsisten, disiplin mulai longgar, tanggung jawab terabaikan, dan keteladanan semakin sulit ditemukan.

Padahal, kemajuan sebuah lembaga pendidikan tidak diukur dari seberapa indah kata-kata yang disampaikan.

Kajian akan terlihat dari seberapa nyata perubahan yang dirasakan peserta didik, guru, orang tua, dan masyarakat.

Sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang paling pandai berbicara tentang perubahan, melainkan sekolah yang mampu menghadirkan perubahan melalui kerja nyata.

Allah Swt. memberikan peringatan yang sangat tegas dalam Al-Qur’an:

Yā ayyuhallażīna āmanū lima taqūlūna mā lā taf‘alūn. Kabura maqtan ‘indallāhi an taqūlū mā lā taf‘alūn.

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. Ash-Shaff: 2–3)

Ayat ini menjadi cermin bagi seluruh insan pendidikan.

Guru, kepala madrasah, tenaga kependidikan, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan harus menyelaraskan ucapan dengan tindakan.

Ketidaksesuaian antara keduanya bukan hanya menghilangkan kepercayaan, tetapi juga menghilangkan keberkahan dalam pendidikan.

Keteladanan merupakan kurikulum yang paling hidup.

Guru yang datang tepat waktu tanpa harus berkali-kali mengingatkan tentang disiplin telah mengajarkan nilai disiplin kepada murid-muridnya.

Kepala madrasah yang bekerja dengan jujur, sederhana, dan penuh tanggung jawab sedang menanamkan integritas kepada seluruh warganya.

SMPM 5 Pucang SBY

Sebaliknya, seribu nasihat tentang kejujuran akan kehilangan makna apabila penyampainya sendiri tidak memberikan teladan.

Rasulullah saw. merupakan teladan terbaik dalam pendidikan.

Beliau tidak hanya mengajarkan kebaikan melalui lisan, tetapi terlebih dahulu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itulah, dakwah beliau mampu mengubah masyarakat yang penuh kebodohan menjadi generasi terbaik sepanjang sejarah.

Pada era sekarang, dunia pendidikan tidak kekurangan teori.

Sebaliknya, pendidikan justru kekurangan figur yang mampu menjadi teladan. Anak-anak lebih mudah meniru daripada mendengar.

Mereka belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan harus menjadikan budaya saling memberi teladan sebagai ruh penyelenggaraan pendidikan.

Sudah saatnya kita mengurangi budaya retorika dan memperkuat budaya kerja.

Program tidak cukup berhenti sebagai dokumen, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan.

Rencana tidak boleh hanya menjadi arsip, melainkan harus menjadi kenyataan.

Jabatan bukan sekadar simbol kehormatan, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan melalui karya nyata.

Pendidikan membutuhkan pemimpin yang hadir lebih awal daripada bawahannya.

Membutuhkan guru yang terus belajar sebelum mengajak muridnya belajar, serta seluruh warga sekolah yang rela bekerja tanpa selalu mengharapkan pujian.

Keteladanan seperti inilah yang akan melahirkan budaya mutu, membangun kepercayaan, dan menghadirkan keberhasilan yang berkelanjutan.

Sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling pandai berbicara.

Sejarah akan mengingat mereka yang bekerja dengan ikhlas, memberi manfaat, dan meninggalkan jejak kebaikan.

Sebab, pendidikan tidak membutuhkan retorika yang memukau sesaat, melainkan keteladanan yang nyata dan terus hidup dalam setiap langkah.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 14/07/2026 10:44
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu