Angkanya sudah lewat satu juta. Tepatnya 1,07 juta murid. Mereka belajar di sekolah dan madrasah Muhammadiyah-Aisyiyah. Itu bukan sekadar angka. Itu adalah kepercayaan.
Kepercayaan masyarakat. Kepercayaan orang tua. Kepercayaan yang dibangun puluhan tahun. Bahkan lebih dari satu abad. Di tengah banyaknya pilihan sekolah, Muhammadiyah tetap dipilih.
Sekolah negeri ada. Sekolah swasta bermunculan. Sekolah internasional semakin agresif. Sekolah berbasis agama juga terus berkembang.
Namun Muhammadiyah tetap bertambah muridnya. Hampir dua persen dalam setahun.
Tidak besar?
Justru besar. Karena mempertahankan kepercayaan jauh lebih sulit daripada mendapatkannya. Keberhasilan itu tentu bukan datang dari langit.
Ada ribuan kepala sekolah yang bekerja. Ada guru-guru yang datang paling pagi. Pulang paling sore.
Ada tenaga kependidikan. Ada pimpinan Persyarikatan. Ada orang tua. Ada masyarakat.
Semuanya ikut menjaga nama baik sekolah Muhammadiyah. Mereka bekerja. Sering kali lebih banyak daripada yang tertulis dalam surat tugas.
Namun justru di sinilah ujiannya. Semakin besar sebuah lembaga, semakin besar pula tanggung jawabnya.
Jangan terlena oleh angka. Jangan puas oleh statistik. Karena pendidikan bukan perlombaan menghitung murid. Pendidikan adalah perlombaan membentuk manusia.
Dan di titik itu, semua jalan akan bermuara pada satu nama. Guru. Bukan gedung. Bukan laboratorium. Bukan layar digital. Bukan pula kurikulum. Semuanya penting. Tetapi semuanya hanyalah alat.
Yang menghidupkan sekolah adalah guru. Gedung tidak bisa memberi teladan. Laboratorium tidak bisa menenangkan murid yang sedang kehilangan semangat.
Komputer tidak bisa memeluk anak yang sedang gagal. Guru bisa. Karena pendidikan selalu bekerja lewat hati. Bukan hanya lewat teknologi. Itulah sebabnya investasi terbesar sekolah bukan beton. Melainkan manusia. Guru.
Sayangnya, kita masih memiliki pekerjaan rumah. Masih ada guru Muhammadiyah yang hidup pas-pasan. Masih ada yang mengajar di dua sekolah. Bahkan tiga.
Masih ada yang mencari pekerjaan tambahan selepas mengajar. Padahal besok pagi mereka kembali berdiri di depan kelas. Dengan senyum yang sama. Dengan semangat yang sama.
Anak-anak tidak pernah tahu persoalan itu. Guru menyimpannya sendiri. Di rumah. Di perjalanan. Di dalam doa.
Mereka tetap mengajar. Tetap membimbing. Tetap mendidik. Karena mereka mencintai pekerjaannya.
Tetapi cinta tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan kesejahteraan tertinggal. Pengabdian memang mulia.
Namun pengabdian tidak identik dengan hidup kekurangan. Muhammadiyah sejak awal lahir untuk memuliakan ilmu.
KH Ahmad Dahlan membangun sekolah. Bukan sekadar membangun kelas. Beliau membangun peradaban. Dan peradaban tidak mungkin berdiri tanpa guru.
Karena itu, memuliakan ilmu harus dimulai dari memuliakan orang yang mengajarkannya.
Memuliakan guru bukan hanya memberi piagam. Bukan pula sekadar ucapan terima kasih setiap Hari Guru.
Memuliakan guru berarti membuat mereka tenang. Tenang mengajar. Tenang membesarkan anak. Tenang memikirkan masa depan.
Mereka layak memperoleh penghasilan yang baik. Jaminan kesehatan. Kesempatan studi lanjut. Pelatihan. Karier yang jelas. Penghargaan yang adil.
Muhammadiyah memiliki modal untuk itu. Sekolahnya ribuan. Perguruan tingginya ratusan. Rumah sakitnya berkembang. Amal usahanya besar. Alumninya tersebar di mana-mana.
Kekuatannya bukan kecil. Tinggal bagaimana disinergikan. Memang tidak semua sekolah sama.
Ada yang muridnya ribuan. Ada yang hanya puluhan. Ada yang hidup berkecukupan. Ada yang masih berjuang bertahan.
Karena itu semangat ta’awun menjadi penting.Yang kuat membantu yang lemah. Yang besar menguatkan yang kecil.
Begitulah Muhammadiyah sejak dahulu tumbuh. Sudah saatnya kesejahteraan guru menjadi gerakan bersama. Bukan program sesaat. Bukan slogan. Tetapi kebijakan.
Ke depan, Muhammadiyah perlu memiliki mimpi yang lebih besar. Bukan hanya menambah murid. Tetapi juga menaikkan martabat guru.
Karena sekolah yang hebat selalu dimulai dari guru yang dihargai. Bukan guru yang terus diminta berkorban.
Satu juta murid memang membanggakan. Tetapi sejarah tidak hanya menghitung jumlah murid.
Sejarah akan bertanya hal lain. Bagaimana Muhammadiyah memperlakukan guru-gurunya?
Jawaban atas pertanyaan itulah yang kelak akan dikenang. Lebih lama daripada angka 1,07 juta itu sendiri. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments