Pementasan Opera Masyithoh menjadi salah satu rangkaian yang menyita perhatian dalam Final Moment Angkatan ke-23 SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik di Ballroom Aston Gresik Hotel & Conference Center, Sabtu (20/6/2026). Melalui kisah tentang keteguhan akidah, pertunjukan tersebut menghadirkan pesan yang ditujukan kepada para lulusan yang akan memasuki jenjang pendidikan berikutnya.
Mengusung tema When Memories Stay and Greatness Begins, opera ini ditampilkan sebagai penutup acara sekaligus sarana penyampaian nilai-nilai keislaman kepada siswa kelas IX. Sebanyak 33 siswa terlibat dalam pementasan yang terdiri atas 24 pemeran drama, delapan siswa musikalisasi puisi, seorang penyanyi solo, serta dukungan paduan suara.
Tokoh utama diperankan oleh Azzidan Arafa (9 Istanbul) sebagai Raja Firaun, Anisa Zahirah Al Syahda (7D) sebagai Masyithoh, Maleeka Fitria Azzahra (8 Carbon) sebagai Putri Firaun, dan Fulki Asyam Tsaqif (8F) sebagai penasihat Firaun.
Kisah yang diangkat berasal dari hadis riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu tentang Masyithoh, seorang perempuan salehah pada masa Nabi Musa AS. Dalam peristiwa Isra Mikraj, Rasulullah Saw mencium aroma harum yang kemudian dijelaskan Malaikat Jibril berasal dari kuburan Masyithoh dan anak-anaknya yang gugur karena mempertahankan keimanan kepada Allah Swt.
Opera tersebut menggambarkan kehidupan Masyithoh sebagai perias putri Firaun yang tetap memegang teguh tauhid meskipun hidup di bawah kekuasaan penguasa yang mengaku sebagai tuhan. Keimanannya mulai diketahui setelah ia mengucapkan istigfar saat sisir yang dipegangnya terjatuh. Sejak saat itu, berbagai ancaman dan siksaan diterimanya, tetapi tidak membuatnya meninggalkan keyakinan yang dianut.
Pementasan disajikan melalui perpaduan drama, musikalisasi puisi, paduan suara, dan tata panggung yang mendukung jalannya cerita. Pada bagian akhir, Masyithoh digambarkan tetap mempertahankan keimanannya meskipun harus menghadapi ancaman kematian bersama anak-anaknya. Opera ditutup dengan penampilan Azalia Mercyana Zahirah (8G) yang membawakan lagu Mari Tidurkan Bulan.
Penulis skenario sekaligus guru Spemdalas, Ustadz Bambang Hermanto, S.Sn., menjelaskan bahwa kisah Masyithoh dipilih karena relevan dengan kondisi para lulusan yang akan memasuki lingkungan baru.
“Saya sengaja mengangkat kisah Masyithoh karena beliau adalah sosok perempuan yang hidup di lingkungan penguasa besar, tetapi tetap menjaga tauhid dan keimanannya. Keteguhan hati seperti itulah yang ingin kami tanamkan kepada para siswa,” ujarnya.
Menurut Bambang, para lulusan membutuhkan bekal keimanan yang kuat agar tetap mampu menjaga prinsip hidup di tengah lingkungan yang beragam. Ia berharap siswa dapat meneladani sikap Masyithoh dalam mempertahankan keimanan di mana pun berada.
Salah seorang siswa kelas IX Cordoba, Azka Ramadhani Juniawan, mengaku terkesan dengan jalannya pertunjukan.
“Saya kasih rating 10. Saat menonton, rasanya seperti menyaksikan kejadian yang sebenarnya, bukan sekadar opera,” ungkapnya.
Azka menilai pesan yang paling berkesan adalah upaya Masyithoh untuk tetap menyampaikan kebenaran meskipun berada dalam ancaman. Dari kisah tersebut, ia belajar bahwa seorang muslim tidak hanya menjaga dirinya sendiri, tetapi juga mengajak orang lain kepada kebaikan.
Kesan serupa disampaikan Athaya Syhaila Dzakwan dari kelas IX Fez. Ia mengaku merasakan suasana yang menyentuh sejak awal hingga akhir pementasan. Menurutnya, opera tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan iman dan kebenaran memerlukan keberanian serta pengorbanan.
Apresiasi juga datang dari wali siswa, Luh Syaifudin, orang tua Alya Novalin Maridza (9A). Ia mengaku terharu melihat gambaran keteguhan satu keluarga dalam mempertahankan akidah di tengah siksaan yang dihadapi. Ia berharap nilai-nilai yang ditampilkan dalam opera dapat menjadi teladan bagi para siswa.
Sementara itu, Penasehat Dikdasmen dan PNF PDM Gresik, Ir. Dodik Priyambada, S.Akt., M.M., mengaku tersentuh saat menyaksikan pementasan tersebut.
“Penampilan Opera Masyithoh luar biasa. Masyaallah, saya sampai meneteskan air mata. Tauhid adalah fondasi hidup. Jadikan iman sebagai dasar dalam mencari ilmu, meraih prestasi, dan menjalani kehidupan,” pesannya.
Melalui pementasan Opera Masyithoh, Spemdalas menghadirkan pesan tentang pentingnya menjaga keimanan, keteguhan prinsip, dan nilai-nilai akidah sebagai bekal bagi para lulusan dalam melanjutkan perjalanan pendidikan mereka. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments