Tidak semua muslim mampu bangun pada sepertiga malam terakhir. Tidak semua orang pula dapat menjaga istikamah dalam mendirikan salat tahajud. Padahal, bagi mereka yang dimudahkan Allah untuk melaksanakannya, ada kenikmatan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ada Rahasia kenikmatan salat tahajud yang bisa membawa ketenangan hati.
Kenikmatan itu bukan sekadar bangun di tengah malam, tetapi sebuah anugerah berupa kedekatan dengan Allah yang membuat hati menjadi tenang dan hidup terasa lebih damai.
Kenikmatan salat malam sesungguhnya merupakan buah dari tauhid yang bersih dan kuat. Ketika seseorang telah merasakan nikmatnya bermunajat kepada Allah di tengah keheningan malam, maka ibadah-ibadah lainnya pun akan terasa ringan dan membahagiakan.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat untuk khusyuk dan bacaan pada waktu itu lebih berkesan.” (QS Al-Muzzammil: 6).
Karena itu, para pecinta tahajud tidak menganggap shalat malam sebagai beban, melainkan kebutuhan. Mereka merindukannya sebagaimana seorang sahabat merindukan pertemuan dengan sahabat yang dicintainya.
Buah Kesadaran Seorang Hamba
Tahajud lahir dari kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, banyak dosa, dan sangat membutuhkan rahmat Allah. Kesadaran inilah yang melahirkan sifat rendah hati, penuh kasih sayang, serta gemar berbagi kepada sesama.
Allah menggambarkan mereka dalam firman-Nya:
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS As-Sajadah: 16).
Menariknya, ayat tersebut menghubungkan antara tahajud dan kedermawanan. Orang yang dekat dengan Allah biasanya juga lebih mudah peduli kepada sesama.
Tahajud adalah bukti bahwa seorang hamba benar-benar menempatkan Allah di atas segala-galanya. Ketika banyak orang masih terlelap, ia memilih bangun untuk bersujud dan memohon kepada Rabb-nya.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya.” (QS Al-Muzzammil: 20).
Betapa indahnya ketika seorang hamba memperhatikan Allah, lalu Allah pun memperhatikannya. Tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi daripada mendapat perhatian dari Sang Pencipta.
Pembeda antara Hamba yang Lalai dan Hamba yang Dekat kepada Allah
Allah SWT berfirman: “Apakah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya, sama dengan orang yang tidak demikian?” (QS Az-Zumar: 9).
Tahajud menjadi pembeda yang jelas antara mereka yang hanya mengaku mencintai Allah dengan mereka yang benar-benar membuktikan cintanya.
Rasulullah saw menggambarkan para ahli tahajud seperti bintang-bintang di malam hari. Sebagaimana manusia di bumi memandang indahnya cahaya bintang di langit, demikian pula para malaikat menyaksikan cahaya para hamba yang bangun untuk bermunajat kepada Allah.
Dialog Seorang Kekasih dengan Kekasihnya
Bukankah orang yang saling mencintai akan senang berbincang berdua?
Allah mencintai orang-orang yang beriman, dan orang-orang beriman pun mencintai Allah (QS Al-Maidah: 54). Karena itu, waktu malam menjadi saat yang sangat istimewa bagi mereka untuk berbicara dengan Rabb-nya.
Ada yang menangis saat sujud. Ada yang memohon ampun atas dosa-dosanya. Ada pula yang hanya mampu berbisik lirih sambil mengadukan segala kesulitannya kepada Allah.
Allah SWT berfirman: “Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih kepada mereka, mereka menyungkur sujud dan menangis.” (QS Maryam: 58).
Orang yang benar-benar menikmati tahajud akan merasakan perubahan dalam dirinya. Hatinya menjadi lebih lembut, lisannya lebih terjaga, dan keinginan untuk berbuat maksiat perlahan memudar.
Bukan karena ia merasa paling suci, tetapi karena Allah mengganti kecenderungan kepada dosa dengan kecintaan kepada ibadah.
Tidak sedikit orang yang merasakan bahwa setelah membiasakan tahajud, mereka lebih tenang menghadapi masalah.
Seorang pedagang yang usahanya sedang sepi mungkin tetap dihimpit kesulitan, tetapi hatinya tidak mudah putus asa. Seorang ibu yang menghadapi berbagai persoalan rumah tangga menjadi lebih sabar.
Seorang pegawai yang sedang menghadapi tekanan pekerjaan tidak mudah marah dan lebih bijak mengambil keputusan.
Bahkan ada orang yang tidak mendapatkan semua yang diinginkannya, tetapi ia tetap merasa damai. Hatinya tidak lagi bergantung sepenuhnya pada dunia, sebab ia telah menemukan tempat bersandar yang paling kokoh, yaitu Allah.
Inilah yang oleh sebagian ulama disebut sebagai al-jannah qablal jannah, surga sebelum surga. Bukan karena hidupnya tanpa masalah, melainkan karena ia telah menemukan ketenangan yang selama ini dicari banyak manusia.
Kebahagiaan sejati bukanlah hidup tanpa ujian, melainkan hati yang tetap tenang di tengah ujian.
Mungkin rezekinya biasa saja, rumahnya sederhana, dan kehidupannya tidak selalu mudah. Namun, karena Allah menjaga hatinya, ia merasakan keberkahan dalam rezeki, kehangatan dalam keluarganya, dan petunjuk dalam setiap langkahnya.
Maka, jangan pernah berhenti memohon kepada Allah agar diberi kenikmatan dalam beribadah.
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, tanamkanlah dalam hati kami kenikmatan iman, hiasilah kehidupan kami dengan keindahan shalat malam, dan jangan Engkau cabut nikmat bermunajat kepada-Mu hingga kami berjumpa dengan-Mu. Aamiin.” (*)





0 Tanggapan
Empty Comments