Kasus dugaan kekerasan yang terjadi di Daycare Little Aresha, Kota Yogyakarta tidak hanya meninggalkan trauma bagi anak-anak sebagai korban, tetapi juga berdampak serius terhadap kondisi psikologis para orang tua.
Selama ini perhatian publik dan media lebih banyak tertuju pada anak-anak korban kekerasan di daycare yang berada di Kelurahan Sorosutan, Kecamatan Umbulharjo tersebut. Namun di balik itu, orang tua korban ternyata juga mengalami luka psikologis yang mendalam.
Dosen Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Madiun, Aliffatullah Alyu RAJ, S.Psi., M.Psi, menjelaskan bahwa orang tua korban juga dapat dikategorikan sebagai korban secara psikologis meskipun tidak mengalami kekerasan secara langsung.
Menurut dosen yang akrab disapa Mada itu, penting memahami dampak psikologis terhadap orang tua korban karena mereka berpotensi mengalami Secondary Traumatic Stress.
“Secondary Traumatic Stress adalah tekanan emosional dan perilaku yang timbul akibat paparan tidak langsung terhadap trauma orang lain, seperti mendengar cerita traumatis atau melihat dampak traumanya,” terang Mada.
Mada menjelaskan bahwa bentuk trauma yang dialami orang tua dapat bermacam-macam, mulai dari syok, rasa bersalah, hingga mimpi buruk setiap kali membayangkan anak mereka menjadi korban kekerasan.
Bahkan, sebagian orang tua mengalami trust issue ekstrem terhadap semua daycare setelah kasus tersebut terungkap.
Gejala yang muncul, menurut Mada, menyerupai PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), seperti kecemasan berlebihan, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga terus-menerus melakukan flashback terhadap kejadian traumatis.
“Atau orang tua mengalami rasa bersalah yang besar (Mom/Dad Guilt extreem) dalam bentuk menyalahkan diri sendiri seperti merasa menjadi ibu yang gagal,” ujar Mada.
Selain itu, orang tua juga dapat mengalami hypervigilance, yakni sikap terlalu protektif dan tidak berani meninggalkan anak meski hanya sebentar.
Tak sedikit pula yang mengalami mimpi buruk dan insomnia karena terus teringat tangisan anak mereka.
Mada menyebutkan bahwa jumlah korban yang telah terkonfirmasi dalam kasus kekerasan di Daycare Little Aresha mencapai 53 anak. Artinya, terdapat lebih dari 100 orang tua yang ikut mengalami syok dan trauma psikologis.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan sekadar kesedihan biasa, tetapi sudah masuk dalam kategori trauma kolektif yang membutuhkan penanganan serius.
“Hal ini berbeda dengan perasaan sedih biasa, ini trauma yang jelas butuh penanganan lebih lanjut,” kata Mada.
Jika tidak segera ditangani, trauma tersebut dikhawatirkan berdampak pada pola asuh yang tidak sehat. Orang tua dapat mengalami anxious parenting yang membuat anak tumbuh tidak mandiri.
Selain itu, trauma berkepanjangan juga berpotensi memicu konflik rumah tangga karena pasangan saling menyalahkan.
“Artinya kalau orang tua tidak mampu pulih akibat trauma ini maka anak yang sudah trauma melihat orang tuanya demikian anak akan semakin merasa hancur (double trauma),” terang Mada.
Sebagai solusi, Mada mendorong Pemerintah Kota Yogyakarta untuk menyediakan layanan konseling gratis khusus bagi orang tua korban.
Selain itu, ia juga mengusulkan pembentukan support group agar para orang tua penyintas tidak merasa sendiri dalam menghadapi trauma.
Menurutnya, masyarakat juga perlu diedukasi untuk menghentikan praktik victim blaming terhadap orang tua korban.
“Serta, pelibatan psikolog DP3AP2 untuk pendampingan hukum dan psikologis,” ujar Mada.





0 Tanggapan
Empty Comments