Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

SD Mudipat Targetkan Rekor MURI, Siswa Kelas I Mulai Menulis Buku Sejak Tahun Pertama

Iklan Landscape Smamda
SD Mudipat Targetkan Rekor MURI, Siswa Kelas I Mulai Menulis Buku Sejak Tahun Pertama
Edy Susanto, S.Pd., M.Pd., Kepala SD Muhammadiyah 4 Surabaya (Foto: Istimewa)
pwmu.co -

SD Muhammadiyah 4 Surabaya (Mudipat) terus memperkuat inovasi pembelajaran pada Tahun Pelajaran 2026/2027. Tidak hanya menghadirkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah selama enam hari, sekolah juga menyiapkan program literasi ambisius dengan menargetkan Rekor MURI melalui gerakan menulis buku yang dimulai sejak peserta didik duduk di kelas I.

Program tersebut disampaikan Kepala SD Muhammadiyah 4 Surabaya, Edy Susanto, S.Pd., M.Pd., saat ditemui usai penutupan MPLS Ramah melalui Unjuk Karya, Sabtu (18/7/2026).

Menurut Edy, budaya literasi tidak cukup dibangun melalui kebiasaan membaca. Peserta didik juga perlu dibimbing untuk berani mengekspresikan gagasan melalui karya tulis sejak usia dini.

“Tahun ini kami menyiapkan program menuju Rekor MURI. Setiap kelas minimal menghasilkan tiga judul buku. Satu ditulis guru, sedangkan dua lainnya merupakan karya peserta didik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, karya tersebut tidak dibatasi pada satu jenis tulisan. Peserta didik dapat menyusun buku antologi puisi, pantun, cerita bergambar, cerita pendek, cerita bersambung, maupun bentuk karya kreatif lainnya sesuai perkembangan kemampuan mereka.

Seluruh proses penulisan akan didampingi wali kelas sehingga anak-anak tidak merasa terbebani.

“Kami ingin budaya menulis tumbuh sejak kelas satu. Anak-anak akan belajar menuangkan ide, pengalaman, dan imajinasi mereka dalam bentuk karya. Guru bertugas mendampingi agar prosesnya menyenangkan,” katanya.

Literasi Dimulai Sejak Hari Pertama

Program tersebut menjadi bagian dari penguatan budaya literasi yang telah diperkenalkan sejak MPLS Ramah.

Selama enam hari mengikuti masa pengenalan sekolah, peserta didik tidak hanya mengenal guru, lingkungan belajar, dan tata tertib sekolah, tetapi juga mulai dibiasakan membaca, mengaji, serta mengikuti berbagai aktivitas yang menumbuhkan rasa ingin tahu.

Menurut Edy, pengenalan budaya literasi sejak awal bertujuan membangun kebiasaan belajar yang positif sehingga peserta didik tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga mampu menghasilkan karya.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa belajar bukan hanya menerima ilmu, tetapi juga mampu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.”

Sistem Dua Guru untuk Kelas I

Selain memperkuat budaya literasi, Mudipat juga mempertahankan sistem pembelajaran dua guru di setiap kelas I.

Dalam satu rombongan belajar terdapat seorang wali kelas dan seorang guru pendamping yang bekerja bersama mendampingi proses adaptasi peserta didik baru.

Edy menjelaskan, sistem tersebut diterapkan karena siswa kelas I masih berada pada masa transisi dari taman kanak-kanak menuju sekolah dasar.

Sebagian anak masih belajar membaca, menulis, maupun menyesuaikan diri dengan ritme pembelajaran di sekolah.

“Pelayanan harus maksimal. Karena itu setiap kelas satu didampingi dua guru agar anak-anak memperoleh perhatian yang lebih optimal selama masa transisi.”

Pendampingan tersebut, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga perkembangan sosial dan emosional peserta didik.

Guru dapat lebih mudah mengamati karakter, kemampuan motorik, hingga proses adaptasi setiap anak sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Tekankan Sekolah Bebas Bullying

Pada pelaksanaan MPLS tahun ini, Mudipat juga memberikan penekanan lebih kuat terhadap pencegahan perundungan atau bullying.

Edy menilai sekolah harus menjadi ruang yang aman dan menyenangkan bagi setiap peserta didik.

SMPM 5 Pucang SBY

Karena itu, seluruh rangkaian MPLS dirancang tanpa tekanan maupun aktivitas yang berpotensi menimbulkan rasa takut.

“Penekanan kami tahun ini adalah tidak boleh ada bullying ataupun kekerasan dalam bentuk apa pun. Anak-anak harus merasa nyaman sejak hari pertama masuk sekolah.”

Pendekatan tersebut memberikan hasil yang menggembirakan.

Selama enam hari pelaksanaan MPLS, seluruh peserta didik mengikuti kegiatan dengan antusias tanpa mengalami kendala berarti.

“Alhamdulillah tidak ada anak yang mogok sekolah, tidak ada yang menangis ingin pulang. Itu menunjukkan proses adaptasi berjalan dengan baik.”

Tambahkan Mengaji dan Filantropi

Dalam kesempatan tersebut, Edy juga menjelaskan bahwa Mudipat mengembangkan Sembilan Pembiasaan Mudipat Hebat sebagai budaya sekolah.

Program tersebut merupakan pengembangan dari pembiasaan karakter yang telah diterapkan secara nasional dengan menambahkan dua aspek yang menjadi kekhasan sekolah, yakni mengaji dan filantropi.

Mengaji dilaksanakan setiap hari sebelum pembelajaran dimulai sebagai bagian dari pembiasaan spiritual peserta didik.

Sementara itu, filantropi diwujudkan melalui kebiasaan berbagi kepada sesama.

Pada rangkaian MPLS, peserta didik membawa bekal dari rumah untuk kemudian dibagikan kepada teman, guru, karyawan sekolah, orang tua yang menunggu, hingga petugas di lingkungan sekolah.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa berbagi merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Kepedulian sosial harus dibangun sejak mereka masih kecil.”

Selain itu, peserta didik juga dibiasakan menjaga kebersihan kelas, menerapkan adab makan, membaca doa dalam setiap aktivitas, menghormati guru, hingga membangun budaya hidup sehat.

Menurut Edy, seluruh pembiasaan tersebut akan terus diterapkan selama peserta didik belajar di Mudipat sehingga menjadi karakter yang melekat hingga mereka dewasa.

Menyiapkan Generasi Pembelajar

Bagi Edy, pendidikan dasar tidak hanya bertugas mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung.

Sekolah juga harus menyiapkan generasi yang memiliki karakter kuat, gemar belajar, mampu berkarya, serta peduli terhadap sesama.

Melalui perpaduan budaya literasi, pembiasaan karakter, pendampingan intensif melalui sistem dua guru, serta lingkungan sekolah yang ramah anak, Mudipat berharap mampu melahirkan generasi yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan semangat berkarya.

“Harapan kami sederhana. Anak-anak datang ke sekolah dengan bahagia, tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak baik, gemar belajar, berani berkarya, dan kelak mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.” (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 18/07/2026 17:37
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu