Bel sekolah belum berbunyi. Bangku-bangku kelas masih tersusun rapi tanpa hiruk pikuk peserta didik. Papan tulis belum dipenuhi coretan materi pelajaran, sementara halaman sekolah masih lengang dari langkah-langkah kecil yang biasanya berlarian menyambut pagi.
Namun, suasana berbeda justru tampak di SD Muhammadiyah 4 Zamzam Sidoarjo pada Senin-Kamis (06–09/07/2026).
Ketika sebagian sekolah masih menikmati masa jeda liburan, puluhan ustadz, ustadzah, dan tenaga kependidikan memilih kembali ke sekolah. Mereka datang bukan untuk mengajar, melainkan untuk belajar.
Selama empat hari berturut-turut, mereka kembali menjadi “murid”. Duduk mendengarkan materi, berdiskusi, berlatih, mempraktikkan berbagai metode pembelajaran, hingga sesekali tertawa ketika mengikuti permainan kepanduan.
Semua dilakukan dengan satu tujuan yang sama: menyiapkan diri menjadi pendidik yang lebih baik sebelum menyambut ratusan peserta didik pada Tahun Ajaran 2026/2027.
Bagi Muhammadiyah, guru bukanlah sosok yang berhenti belajar setelah memperoleh gelar. Guru adalah pembelajar sepanjang hayat.
Sebab, pendidikan merupakan jalan dakwah yang menuntut setiap pendidik untuk terus memperbarui ilmu, memperbaiki metode, memperkuat karakter, serta meneguhkan nilai-nilai Islam Berkemajuan. Hal tersebut dilakukan agar mampu melahirkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Semangat itulah yang terasa begitu kental sepanjang rangkaian kegiatan persiapan Tahun Ajaran 2026/2027 di SD Muhammadiyah 4 Zamzam.
Menata Hati, Menguatkan Metode Mengajarkan Kalamullah
Rangkaian kegiatan dibuka pada Senin-Selasa (06–07/07/2026) melalui Diklat Guru Tahfidz Metode Tilawati yang diikuti seluruh guru ISMUBA.
Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari Tim Tilawati Pondok Pesantren Nurul Falah Surabaya. Yaitu H Muhammad Alif Zubaidy MAg dan M Hasan Zamzami SAg yang telah berpengalaman membina pembelajaran Al-Qur’an di berbagai lembaga pendidikan.
Pembukaan diklat diawali dengan tilawah Al-Qur’an, sambutan kepala sekolah, dan doa bersama. Suasana yang khidmat menjadi pengingat bahwa tugas mendidik generasi Qurani selalu diawali dengan niat yang lurus dan hati yang bersih.
Dalam sambutannya, Kepala SD Muhammadiyah 4 Zamzam Muhammad Anas Fikri MAP mengajak seluruh peserta mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan penuh kesungguhan.
“Ikutilah seluruh kegiatan ini dengan penuh semangat. Jangan setengah-setengah dalam belajar, karena hasilnya juga akan setengah-setengah. Ketika kita bersungguh-sungguh meningkatkan kualitas diri, manfaatnya bukan hanya untuk kita, tetapi akan dirasakan oleh seluruh peserta didik yang kita dampingi. Guru yang terus belajar adalah hadiah terbaik bagi anak-anak” pesannya.
Hari pertama pelatihan diisi dengan materi Manajemen Tahfidz Pesantren oleh H Muhammad Alif Zubaidy MAg.
Pada kesempatan tersebut, ia mengajak peserta memahami bahwa keberhasilan program tahfidz bukan ditentukan oleh banyaknya target hafalan. Melainkan oleh sistem pembinaan yang terencana, konsisten, dan sesuai kemampuan peserta didik.
Guru juga diperkenalkan dengan teknik menghafal nomor halaman mushaf, sebuah metode yang membantu siswa tidak hanya hafal ayat, tetapi juga mengingat letak ayat pada setiap halaman Al-Qur’an sehingga hafalan menjadi lebih kuat dan sistematis.
Materi kemudian berlanjut pada teknik evaluasi pembelajaran tahfidz, yang membekali guru dengan cara melakukan pemetaan kemampuan siswa serta menyusun indikator keberhasilan hafalan secara objektif.
Hari pertama ditutup dengan pembahasan mengenai munaqasyah, yaitu standar pelaksanaan ujian hafalan Al-Qur’an agar proses evaluasi berjalan terukur dan mampu memotivasi peserta didik untuk terus meningkatkan kualitas hafalannya.
Memasuki hari kedua, M Hasan Zamzami SAg mengawali pelatihan dengan penguatan lagu Rost, salah satu irama khas Tilawati yang membantu siswa membaca Al-Qur’an dengan tartil dan indah.
Selanjutnya peserta mempelajari Manajemen Tahfidz di Lembaga Formal agar pelaksanaan tahfidz di sekolah berjalan selaras dengan sistem pembelajaran.
Selain itut, para guru juga dikenalkan dengan Buku Prestasi Tahfidz sebagai instrumen untuk memantau perkembangan hafalan setiap siswa secara berkelanjutan.
Puncak pelatihan berlangsung pada sesi microteaching. Para ustadz dan ustadzah bergantian mempraktikkan pembelajaran tahfidz layaknya berada di kelas yang sebenarnya.
Seusai praktik, instruktur memberikan evaluasi mengenai teknik mengajar, pengelolaan kelas, komunikasi dengan siswa, hingga strategi memotivasi peserta didik agar mencintai Al-Qur’an.
Diskusi berlangsung hangat dan penuh semangat karena seluruh peserta memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan pembelajaran Al-Qur’an yang lebih berkualitas.





0 Tanggapan
Empty Comments