Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM menjadi narasumber dalam Stadium General yang digelar di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Selasa (21/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut, dia menyampaikan kuliah bertajuk “Fisiologi Olahraga & Implementasinya: Memahami Respons Tubuh Saat Berolahraga untuk Performa & Kesehatan Optimal.”
Dalam pemaparannya, Sukadiono menjelaskan bahwa fisiologi olahraga merupakan cabang ilmu yang mempelajari bagaimana tubuh merespons aktivitas fisik, baik secara akut (langsung) maupun kronis (jangka panjang). Ilmu ini memiliki peran penting dalam meningkatkan performa olahraga, mencegah cedera, serta mempercepat proses pemulihan.
“Semakin lama aktivitas fisik dilakukan, maka sistem energi aerobik akan semakin dominan,” jelas Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK RI yang juga Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur .
Sukadiono memaparkan, saat seseorang berolahraga, tubuh mengalami berbagai perubahan signifikan, terutama pada sistem kardiovaskular. Denyut jantung dapat meningkat dari sekitar 70 kali per menit hingga mencapai 180 kali per menit. Selain itu, stroke volume atau jumlah darah yang dipompa setiap detak juga meningkat.
“Tubuh juga mengalami vasodilatasi atau pelebaran pembuluh darah di otot, serta redistribusi aliran darah ke bagian tubuh yang aktif bekerja. Dalam jangka panjang, latihan rutin dapat membuat jantung menjadi lebih besar dan kuat, atau yang dikenal dengan istilah athlete’s heart, serta menurunkan denyut jantung saat istirahat,” beber dia.

Sistem Pernapasan dan Kebugaran
Pada sistem pernapasan, frekuensi napas meningkat dari 12 kali per menit menjadi 40 hingga 50 kali per menit saat aktivitas intens. Volume napas juga menjadi lebih dalam, yang berdampak pada peningkatan VO₂ Max sebagai indikator kebugaran tubuh.
“Adaptasi ini membuat tubuh lebih efisien dalam mengambil oksigen, sekaligus memperkuat otot-otot pernapasan,” tambahnya.
Sukadiono menjelaskan, otot manusia terdiri dari dua tipe utama, yakni tipe I (slow-twitch) yang berfungsi untuk ketahanan, serta tipe II (fast-twitch) yang berperan dalam kekuatan dan kecepatan.
Melalui latihan, otot akan mengalami hipertrofi atau pembesaran, serta peningkatan kekuatan dan daya tahan. Ia juga menyinggung fenomena DOMS (Delayed Onset Muscle Soreness), yakni nyeri otot yang muncul 24–48 jam setelah latihan, yang merupakan bagian dari proses adaptasi tubuh.
“Saat berolahraga, terang dia, suhu tubuh meningkat dan tubuh akan berkeringat untuk menjaga keseimbangan suhu. Sukadiono mengingatkan bahwa dehidrasi sebesar 2 persen saja dapat menurunkan performa hingga 10–20 persen,” kata Sukadiono.
Untuk itu, dia merekomendasikan konsumsi cairan yang cukup, yakni sekitar 500 ml dua jam sebelum olahraga, serta 150–250 ml setiap 15–20 menit selama aktivitas berlangsung.

Kelelahan dan Strategi Pemulihan
Kelelahan saat olahraga disebabkan oleh beberapa faktor, seperti habisnya cadangan glikogen, penumpukan asam laktat, dehidrasi, dan peningkatan suhu tubuh. Namun, Sukadiono menekankan bahwa proses adaptasi justru terjadi saat tubuh beristirahat.
Dia memperkenalkan prinsip 3R dalam pemulihan, yakni rehydrate (mengganti cairan), refuel (mengisi energi dengan karbohidrat dan protein), serta rest (istirahat cukup selama 7–9 jam).
Sukadiono juga menjelaskan mekanisme akumulasi asam dalam tubuh saat olahraga intensitas tinggi. Produksi laktat dari glikolisis anaerob serta pemecahan ATP menyebabkan peningkatan ion H⁺ yang membuat kondisi otot menjadi lebih asam.
“Untuk menjaga keseimbangan pH, tubuh memiliki sistem buffer alami, baik secara biokimia (bikarbonat, protein, fosfat) maupun fisiologis (respirasi dan ginjal). Sistem buffer bikarbonat disebut sebagai yang paling dominan saat olahraga berat,” terangnya.
Namun, ia juga menegaskan bahwa kemampuan sistem buffer alami memiliki keterbatasan, terutama pada aktivitas dengan intensitas tinggi.
Sebagai solusi, Sukadiono menyebutkan bahwa suplementasi bikarbonat eksternal dapat meningkatkan kapasitas buffering tubuh. Hal ini berperan dalam menjaga keseimbangan pH, meningkatkan daya tahan, serta mendukung performa atlet.
“Namun, penggunaannya harus melalui strategi yang tepat agar manfaatnya optimal dan efek samping dapat diminimalkan,” ujarnya.
Sukadiono menegaskan, latihan fisik yang dilakukan secara terstruktur akan mendorong berbagai sistem tubuh untuk beradaptasi, sehingga meningkatkan daya tahan dan performa secara keseluruhan. Meski demikian, tubuh tetap memiliki keterbatasan fisiologis, terutama pada olahraga intensitas tinggi.
Melalui pemahaman fisiologi olahraga yang baik, diharapkan mahasiswa dan praktisi olahraga mampu merancang program latihan yang efektif, aman, dan berkelanjutan demi mencapai kesehatan optimal sekaligus performa terbaik. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments