Dunia hari ini kembali dipaksa menatap satu titik sempit di peta: Selat Hormouz. Jalur laut ini bukan sekadar lintasan kapal tanker yang hilir mudik, tetapi nadi energi global yang menjadi titik kompetisi elit global antara Mazhab Amerika dan Iran dan gerbong jumbo dibelakangnya.
Setiap detik ketegangan di sana mengguncang harga minyak Dunia, stabilitas ekonomi, bahkan arah geo-politik Global . Negara-negara besar saling mengunci kepentingan, kekuatan militer dipamerkan, dan diplomasi berjalan di atas ketegangan.
Namun, jika ditarik lebih dalam, fenomena ini bukan sekadar soal geopolitik. Ia mencerminkan satu hal yang lebih mendasar: perebutan pengaruh selalu dimenangkan bukan hanya oleh kekuatan, tetapi oleh peradaban yang lebih siap secara keilmuan, strategi, dan integritas.
Dan di sinilah sejarah Islam memberi pelajaran penting.
Lebih dari 14 abad silam, umat Islam menghadapi situasi yang secara esensial tidak jauh berbeda. Peristiwa Perang Tabuk menjadi salah satu episode paling krusial. Saat itu, Arab Saudi berada dalam kondisi sangat berat: kekeringan, krisis pangan, dan tekanan ekonomi yang luar biasa. Bahkan sebagian riwayat menyebutkan, masyarakat harus menyembelih unta hanya untuk mendapatkan air dari cadangan pada tubuh perutnya.
Di tengah kondisi internal yang rapuh itu, muncul ancaman eksternal: Kekaisaran Romawi Timur dengan kekuatan besar dan senjata lengkap bersiap menyerang.
Sebuah situasi yang, jika dilihat hari ini, sangat paralel: tekanan global datang ketika kapasitas domestik belum sepenuhnya kuat.
Namun, respons Rasulullah SAW menunjukkan sesuatu yang jauh melampaui sekadar strategi militer.
Beliau memang memobilisasi kekuatan. Para sahabat berlomba-lomba berkontribusi. Umar bin Khattab dikisahkan menyerahkan setengah hartanya, Abu Bakar memberikan hampir seluruh yang dimilikinya. Semangat kolektif tumbuh luar biasa diantar para Mujahid.
Tetapi di balik itu, Rasulullah membuat keputusan yang sangat visioner.
Tidak semua sahabat diberangkatkan ke medan perang.
Sebagian justru diminta tetap tinggal dalam kota, Untuk belajar, Untuk memperdalam agama. Untuk membangun fondasi intelektual umat, memberdaykan, demi peradaban Islam kala itu.
agar sepulang dari Jihad peradaban Islam tetap terjaga.
Inilah yang kemudian ditegaskan dalam Al-Qur’an, Surah At-Taubah ayat 122: tidak semua harus berperang, sebagian harus ‘Tafaqquh fiddin’, mendalami ilmu agama dalam prespektif yang lebih luas.
Di titik ini, Islam meletakkan prinsip besar: peradaban tidak bisa dibangun hanya dengan keberanian, tetapi dengan ilmu yang mendalam dan berfungsi serta integritas terbaik.
Namun, realitas umat hari ini menunjukkan sebuah paradoks.
Riset global terbaru dari PEW Research Center tahun 2024 yang mencakup sekitar 120 negara menunjukkan bahwa negara-negara dengan mayoritas Muslim termasuk Indonesia memiliki tingkat religiositas sangat tinggi, bahkan mencapai sekitar 95 persen. Agama dianggap sebagai aspek paling fundamental dalam kehidupan, dan praktik ibadah dijalankan secara luas.
Sekilas, ini tampak sebagai kekuatan besar.
Namun, di balik itu muncul anomali yang tidak bisa diabaikan.
Banyak negara dengan tingkat religiositas tinggi justru masih menghadapi persoalan serius: konflik sosial yang berulang, ketimpangan ekonomi, lemahnya supremasi hukum, tingginya tingkat korupsi, dan rapuhnya integritas institusi.
Di sinilah muncul pertanyaan mendasar: mengapa agama yang begitu kuat secara ritual belum mampu mengubah realitas sosial?
Jawabannya mungkin sederhana, tetapi sangat dalam: agama berhenti pada ritus, belum menjelma menjadi nilai dan dampak manfaat yang nyata di akar masyarakat.
Agama hanya menjadi simbol, Dogmatis, Indentitas slama makna sempit, bukan sistem tata kelola hidup yang komprehensif mencerahkan dan merahmati alam (Rahmatallil ‘Alamiin) .
Ia hadir hanya di tempat ibadah sebagai Ritus, tetapi belum sepenuhnya hadir dalam kebijakan publik, dalam perilaku ekonomi, dalam etika kekuasaan dalam prespektif luas. P
Fenomena ini juga menjadi perhatian serius dalam diskursus ilmiah nasional Oleh Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan juga Kepala BRIN RI, Prof. Arief Satria, secara tegas menyoroti bahwa praktik keberagamaan sering kali masih bersifat seremonial. Agama belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kekuatan yang membentuk karakter, integritas, dan produktivitas bangsa.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kelemahan terbesar sistem pendidikan kita terletak pada tiga hal: karakter, keterampilan, dan integritas. Ketika tiga aspek ini lemah, maka dampaknya sistemik: lahirnya pejabat korup, hukum yang mudah dipolitisasi, dan institusi yang kehilangan kepercayaan publik.
Hukum tidak lagi menjadi penjaga keadilan, tetapi bisa berubah menjadi komoditas kekuasaan.
Di sisi lain, dunia akademik juga tidak luput dari kritik. Banyak karya ilmiah berhenti sebagai publikasi, tersimpan rapi di jurnal bereputasi, tetapi tidak mengalir menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Ilmu menjadi eksklusif, bukan transformatif.
Padahal, dalam perspektif Islam, ilmu harus melampaui batas akademik. Ia harus hidup dan memberi manfaat. Prinsip ‘khairunnas anfa’uhum linnas’ menegaskan bahwa ukuran terbaik manusia adalah kebermanfaatannya.
Artinya, tafaqquh fiddin tidak cukup hanya memahami teks, tetapi harus mampu menjawab konteks.
Sejarah telah menunjukkan konsekuensi ketika ilmu kehilangan perannya.
Kita bisa belajar dari kemunduran Turki Utsmani. Ketika tradisi keilmuan melemah dan inovasi stagnan, peradaban yang besar perlahan kehilangan daya saing. puncukanya pada awal (1566–1699): Ditandai dengan kemunduran militer setelah kekalahan telak pada Pertempuran Lepanto (1571) dan Perang Wina (1683), di mana wilayah mereka mulai direbut oleh koalisi kerajaan Eropa. (Republika ; 24/08/ 2023)
Akibatnya, terjadi disrupsi besar. Sekularisasi menjadi pilihan ekstrem untuk mengejar ketertinggalan. Identitas berubah, arah peradaban bergeser.
Sebaliknya, kita juga bisa melihat contoh kebangkitan Jepang.
Setelah kehancuran total akibat bom atom tahun 1945, Jepang tidak memilih membangun kekuatan militer terlebih dahulu. Kaisar Hirohito justru bertanya: berapa banyak guru yang tersisa?
Pertanyaan itu sederhana, tetapi menentukan arah sejarah.
Dari situlah Jepang membangun ulang peradabannya melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, dan disiplin kolektif. Dalam beberapa dekade, Jepang kembali menjadi salah satu kekuatan jumbo dunia.
Pelajaran dari sini sangat jelas.
Kekuatan sejati bukan hanya pada sumber daya atau senjata, tetapi pada manusia yang berilmu, berkarakter, dan berintegritas.
Dalam konteks kekinian, tantangan bahkan semakin kompleks. Era kecerdasan buatan (AI) telah mengubah banyak aspek kehidupan. Banyak pekerjaan dapat digantikan oleh teknologi. Keterampilan teknis bisa diotomatisasi.
Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah tergantikan yakni integritas, Karakter dan Nila (Velue)
Dan di sinilah pendidikan harus kembali pada fondasi awalnya.
Menurut Prof. Arief Satria, yang juga mantan Rektor IPB lagi-lagi menegaskan, fondasi pendidikan paling krusial justru berada pada jenjang paling awal yakni Pendidikan Usia Dini (PAUD) . Di sanalah karakter, kebiasaan, dan nilai ditanamkan. Jika tahap ini kuat, maka integritas akan tumbuh sebagai kesadaran, bukan paksaan.
Tanpa fondasi ini, pendidikan tinggi sekalipun hanya akan menghasilkan kecerdasan tanpa arah.
Kembali ke Selat Hormouz.
Ketegangan mungkin akan terus berulang. Dunia akan terus dipenuhi persaingan kepentingan. Namun, bagi umat Islam, pelajaran dari Tabuk tetap relevan lintas zaman: jangan pernah meninggalkan ilmu, bahkan dalam kondisi paling genting.
Karena pada akhirnya, peradaban tidak dimenangkan oleh mereka yang paling keras bersuara.
Tetapi oleh mereka yang paling dalam ilmunya, paling kuat integritasnya, dan paling besar manfaatnya bagi sesama.
Dan di situlah makna sejati ‘Tafaqquh fiddin’:
bukan sekadar memahami agama,
tetapi menghadirkan agama sebagai satu kekuatan besar untuk membangun Peradaban Islam dunia. (Wallohul Musta’aan)





0 Tanggapan
Empty Comments