Era digital membawa banyak kemudahan, tetapi di sisi lain juga menyuguhkan tantangan moral yang luar biasa. Bagi seorang muslim, berselancar di dunia maya tanpa kompas yang jelas bisa membuat iman goyah.
Agar kita tidak menjadi korban dari derasnya arus digital, ada tiga jenis ilmu pengetahuan yang wajib kita kuasai. Insyaallah, ketiga ilmu ini akan membuat fondasi iman kita semakin kokoh. Ketiga ilmu tersebut meliputi:
1. Ilmu Dasar Beragama (Tauhid dan Fiqih)
Ilmu pertama adalah Ilmu Dasar Beragama, khususnya Tauhid dan Fiqih. Di era digital, semua orang bisa bicara tentang agama. Kadang, kita menemukan konten yang terlihat meyakinkan, padahal isinya keliru atau bahkan menyimpang.
Di sinilah pentingnya memiliki ilmu agama dasar yang matang. Tauhid ibarat jangkar hati. Ketika melihat tren yang aneh di media sosial, tauhid yang kuat akan menjaga kita agar tidak mudah ikut-ikutan (join), apalagi dalam hal yang menyekutukan Allah.
Sementara itu, fiqih menjadi panduan praktis bagi kita. Fiqih menjelaskan bagaimana hukum bertransaksi digital, paylater, atau batasan aurat di ruang publik virtual.
Efeknya ke iman, kita tidak akan mudah ikut arus, tidak gampang bingung oleh perbedaan pendapat yang tidak berdasar, dan ibadah kita tetap sah meski di tengah dunia yang terus berubah.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Muhammad ayat 19 yang artinya: “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (Sesembahan) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu…”
Ayat ini mendahulukan kata “Ketahuilah” atau berilmu sebelum kita beramal. Rasulullah SAW juga memperkuatnya dalam hadits riwayat Ibnu Majah yang berbunyi: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”
2. Literasi Digital dan Tabayyun
Ilmu kedua adalah Ilmu Digital Literasi dan Tabayyun. Setiap hari, jempol kita menerima ratusan informasi lewat grup WhatsApp, TikTok, hingga Instagram.
Sayangnya, tidak semua informasi itu benar. Kita kerap menemui hoaks, fitnah, syubhat, dan adu domba yang dikemas dengan judul yang memancing emosi.
Seorang muslim di era digital wajib menguasai literasi digital, yaitu kemampuan memahami, menyaring, dan mengevaluasi informasi. Dalam Islam, konsep ini terkenal dengan nama Tabayyun, artinya konfirmasi atau cek dan ricek. Kita harus tahu cara membedakan mana berita valid dan mana yang bukan.
Penguasaan ilmu ini menjaga kita dari dosa jari, seperti pencemaran nama baik dan menyebarkan hoaks, yang bisa mengikis pahala serta merusak ketenangan hati.
Iman yang kuat tecermin dari cara kita merespons sebuah berita: tenang, teliti, dan tidak terburu-buru.
Allah SWT mengingatkan kita dengan tegas dalam Surat Al-Hujurat ayat 6 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
3. Etika Komunikasi Digital (Akhlak Siber)
Ilmu ketiga adalah Ilmu Etika Komunikasi Digital atau Akhlak Siber. Banyak orang sangat sopan saat berada di dunia nyata. Namun, ketika sudah di depan layar smartphone, bahkan rela bersembunyi di balik akun samaran, ketikan mereka berubah menjadi sangat kejam. Mereka menjadi gampang mencaci, menghujat, dan merendahkan orang lain di kolom komentar.
Ilmu tentang akhlak digital mengajarkan kita bahwa aturan Allah di dunia nyata dan dunia maya itu sama saja. Dosa menggunjing atau ghibah lewat ketikan sama besarnya dengan ghibah lewat lisan. Kita perlu belajar cara berkomunikasi yang santun, menyampaikan kritik yang membangun, dan tahu kapan harus diam di media sosial.
Iman seseorang bisa diukur dari kualitas lisannya, termasuk “lisan” dalam bentuk ketikan tangan. Ketika kita mampu menahan diri untuk tidak menulis hal yang sia-sia atau menyakitkan, di situlah kualitas iman kita sedang naik kelas.
Rasulullah SAW memberikan standar yang sangat jelas tentang hal ini dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim: “Seorang muslim adalah orang yang lidah (lisan) dan tangannya tidak mengganggu muslim lain.”
Hal ini juga selaras dengan peringatan Allah dalam Surat Qaf ayat 18 yang artinya: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
Kesimpulan
Dunia digital adalah alat. Media digital bisa menjadi ladang pahala jariyah yang terus mengalir jika kita menggunakannya untuk menyebar kebaikan. Sebaliknya, ia bisa menjadi sumber dosa jika kita tidak memiliki ilmunya.
Dengan memadukan ilmu agama yang kokoh, kecerdasan menyaring informasi, dan akhlak yang mulia dalam berkomunikasi, kita tidak hanya akan selamat dari dampak negatif teknologi, tetapi juga bisa menjadikan ruang digital sebagai sarana untuk membuat keimanan kita semakin kuat dan tangguh.
Yuk, mulai hari ini, kita lebih bijak lagi dalam menggunakan jempol dan kuota internet kita.
Wallahu a’lamu bisshawwab.





0 Tanggapan
Empty Comments