Sering kali tidak disadari, dalam pergaulan seseorang mengucapkan kata-kata yang tampaknya biasa saja. Kelemahan orang lain dijadikan bahan untuk meremehkannya, padahal tidak ada permusuhan maupun kebencian. Hal seperti ini bahkan sering dianggap lumrah dalam sebuah perbincangan. Di sinilah mulai muncul bibit-bibit kesombongan yang tentu merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Kesombongan lahir dari kelebihan yang diamanatkan Allah Swt. Namun, kebanyakan manusia tidak menyadari perbuatan yang dilakukannya. Mereka merasa dirinya baik-baik saja, padahal sedang berada dalam kerugian yang nyata.
Allah Swt berfirman:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling merugi perbuatannya?’ (Yaitu) orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.”
(QS. Al-Kahfi: 103–104)
Sifat kesombongan yang ada dalam diri seorang mukmin akan mempermudah masuknya berbagai perilaku tercela. Ada beberapa dampak dari perasaan sombong, antara lain:
Pertama: Takut Tersaingi
Orang yang sombong selalu menyimpan rasa takut tersaingi. Ia tidak ingin orang lain maju dan berharap orang lain tetap berada dalam kebodohan sehingga tidak mampu bersaing dengannya. Tujuannya hanya satu, yaitu ingin terus dikagumi karena kelebihannya. Di samping itu, ia selalu khawatir kehilangan apa yang dimilikinya. Akibatnya, kehidupan orang yang sombong dipenuhi kegelisahan.
Kedua: Mudah Berprasangka Buruk
Firaun yang hidup pada masa Nabi Musa As memiliki kekuasaan, harta, dan pengikut yang banyak. Ia bahkan mengaku sebagai tuhan. Firaun pernah meminta dibuatkan sebuah bangunan yang tinggi agar dapat mencapai langit dengan tujuan membunuh Tuhan Nabi Musa As. Sikap tersebut menunjukkan buruk sangkanya terhadap dakwah yang dibawa Nabi Musa As.
Ketiga: Perkataannya Cenderung Negatif
Perkataan orang yang merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain sering kali menyakitkan hati. Ada orang yang terluka karena ucapannya, meskipun sebagian lainnya memilih bersabar. Orang yang sombong tidak memikirkan dampak dari perkataannya. Perasaan lebih unggul membuat ucapan yang salah dianggap sebagai suatu kebenaran. Akibatnya, ia tidak merasa bahwa apa yang diucapkannya itu salah, apalagi berdosa.
Sebenarnya, penyakit hati yang bernama kesombongan dapat diobati dengan memperbanyak rasa syukur kepada Allah Swt atas segala nikmat yang telah diberikan, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Dalam kehidupan bermasyarakat, seseorang hendaknya tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain, sehingga tertanam dalam pikirannya bahwa kedudukannya sama di hadapan sesama manusia.
Betapa banyak orang yang terjebak dalam kehidupan yang menyimpang setelah memperoleh berbagai kenikmatan dalam bentuk yang bermacam-macam. Sungguh, ini merupakan kerugian besar apabila terjadi pada diri seseorang. Namun, hal tersebut sering kali tidak disadari, sehingga kerugian itu justru menimpa dirinya sendiri tanpa terasa. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments