Sejarah sering kali menyisakan celah yang misterius. Sebuah ruang kosong di antara deretan peristiwa besar yang justru menyimpan narasi perjuangan tak ternilai. Tak heran jika ada tiga tokoh gaib yang membersamai KH Mas Mansur saat merintis Muhammadiyah di Jawa Timur.
Pada 1 November 1921, Muhammadiyah resmi menancapkan tumpuan pertamanya di Jawa Timur. Tepatnya di pusat Surabaya. Terdapat lima tokoh sentral “Pendawa Lima” yang berani memikul tanggung jawab. Mereka adalah KH Mas Mansur yang memegang tampuk Ketua. Didampingi empat rekannya: KH Ali, H. Azhari Rawi, H. Ali Ismail, dan Kiai Usman.
Begitulah kiranya potret awal berdirinya Muhammadiyah di Jawa Timur yang diawali di Surabaya. Meski jejak organisasinya kini telah menjulang megah, siapa sangka ada nama-nama besar di balik fondasi awalnya yang justru terbalut kabut sejarah. Hilang bak ditelan zaman.
Gerakan ini bukan sekadar organisasi baru, melainkan sebuah tonggak awal persebaran dakwah berkemajuan. Dalam waktu yang tidak lama setelah Surabaya, Muhammadiyah berdiri menjalar ke berbagai penjuru Jawa Timur. Dalam perode awal ini, berdiri Muhammadiyah di Kepanjeng Malang, Blitar, Sumberpucung Malang, dan Ponorogo pada 1921 dan 1922.
“Para tokoh yang berusaha keras untuk mendirikan Muhammadiyah di Surabaya, Kepanjen, Blitar, Sumberpucung dan Ponorogo pada 1921 dan 1922, dapat disebut sebagai tokoh perintis (al-sabiqun al-awwalun) berdirinya Muhammadiyah di Jawa Timur,” begitu tulis Tim Penulis dalam buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004 halaman 53.
Sebagai para perintis, jasa mereka tidak hanya terletak pada keberhasilan mendirikan organisasi. Mereka juga membuka jalan bagi tumbuhnya jaringan pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, dan kesehatan. Apa yang mereka tanam lebih dari satu abad lalu telah berkembang menjadi gerakan besar yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Karena itu, mengenang dan menelusuri jejak para pendiri Muhammadiyah bukan sekadar nostalgia sejarah. Upaya ini adalah bagian dari menghargai perjuangan generasi awal yang telah meletakkan fondasi kokoh bagi perkembangan organisasi.
Dalam konteks pendirian Muhammadiyah awal, nama KH Mas Mansur tentu berada di posisi paling depan. Ketokohannya begitu diakui. Gambaran utuh mengenai riwayat hidup dan perjalanan intelektual KH Mas Mansur telah terdokumentasi dengan cukup lengkap.
Selain KH Mas Mansur, jejak salah satu pendiri lainnya juga mulai terungkap. Sosok itu adalah Kiai Usman atau Kiai Oesman. Ia diketahui memiliki hubungan erat dengan berdirinya Masjid Sholeh di kawasan Kaliasin, Surabaya. Informasi tersebut menjadi petunjuk penting dalam melengkapi mozaik sejarah Muhammadiyah awal di Kota Pahlawan.
Namun, berbeda dengan KH Mas Mansur dan Kiai Oesman, nasib tiga tokoh lainnya justru masih diselimuti misteri. KH Ali, H. Azhari Rawi, dan H. Ali Ismail seakan menghilang dari catatan sejarah. Mereka tetap menjadi teka-teki. Muncul candaan bahwa ketiganya adalah “tokoh gaib”.
Istilah tokoh gaib bukan sekadar lelucon. Melainkan cerminan dari minimnya data primer tentang ketiga tokohnya. Hingga kini, hampir tidak ditemukan informasi yang memadai mengenai ketiga tokoh tersebut. Riwayat hidup mereka belum diketahui secara jelas.
Jangankan riwayat pendidikan atau catatan perjuangan. Lokasi tempat tinggal atau di kampung mana mereka menghabiskan usianya pun menjadi misteri yang belum terpecahkan. Catatan tentang ketiganya nyaris tidak ditemukan.
Nama ketiganya tercatat dalam dokumen pendirian Muhammadiyah. Tapi jejak kehidupan mereka nyaris tidak meninggalkan rekaman yang bisa ditelusuri. Padahal, posisi mereka bukanlah tokoh biasa. Mereka adalah bagian dari lima orang yang pertama kali menggerakkan Muhammadiyah di Surabaya. Titik awal dari persebaran Muhammadiyah di Jawa Timur.
Menelusuri jejak para perintis ini adalah kewajiban moral. Menggali kembali riwayat hidup para pejuang awal ini bukanlah tugas yang sia-sia. Riwayat hidup mereka bukan sekadar deretan angka atau tempat, melainkan peta jalan perjuangan yang bisa dipelajari untuk membangun masa depan. Tanpa memahami siapa yang memegang tongkat estafet pertama, generasi saat ini akan kehilangan akar filosofis dari dakwah berkemajuan yang mereka jalankan.
Ketiadaan data tentang KH Ali, H. Azhari Rawi, dan H. Ali Ismail menjadi tantangan bagi peneliti Muhammadiyah. Menjadikan ketiganya sebagai sosok yang harus ditemukan kembali adalah bagian dari memuliakan sejarah. Jika riwayat mereka berhasil disingkap, bukan hanya keluarga atau organisasi yang akan bangga. Melainkan sejarah dakwah di Jawa Timur akan memiliki narasi yang lebih utuh, lebih manusiawi, dan lebih inspiratif.
Jika suatu hari misteri kegaiban itu berhasil dipecahkan, sejarah Muhammadiyah di Surabaya sebagai ibukota Jawa Timur akan menjadi lebih utuh. Sebab, para perintis yang selama ini hanya dikenal lewat nama akan memperoleh tempat yang layak dalam ingatan sejarah. Mereka bukan lagi tokoh gaib, melainkan pelopor yang kembali ditemukan dan dikenang oleh generasi penerus.





0 Tanggapan
Empty Comments