Jika kita telusuri lebih jauh, demonstrasi mahasiswa pada 12 Juni 2026 di Bundaran HI bukan sekadar aksi BEM UI seorang diri. Di balik tajuk “Menuju Indonesia Bangkrut”, terdapat konsolidasi yang melibatkan belasan elemen kampus, mulai dari BEM seluruh fakultas di UI, BEM IPB University, Gunadarma, Politeknik Negeri Jakarta, UIN Jakarta, UPN Veteran Jakarta, Universitas Pancasila, hingga organisasi pergerakan seperti Front Mahasiswa Nasional dan Serikat Perempuan Indonesia.
Pada hari yang sama, mahasiswa UNJ juga menggelar aksi terpisah dengan tajuk “UNJ Melawan” di Rawamangun.
Hal yang patut dicermati bukan hanya jumlah massa yang hadir, melainkan pola gerakannya.
Gerakan ini tumbuh tanpa satu komando pusat tunggal, tetapi tetap mampu bergerak dengan tuntutan yang memiliki nada serupa.
Dari Kritik di Wisuda Menjadi Konsolidasi Nasional
Penting dicatat bahwa benih aksi ini tidak muncul secara tiba-tiba.
Gerakan tersebut bermula dari kritik mahasiswa terhadap pernyataan pejabat negara dalam sebuah acara wisuda di kampus.
Kritik itu kemudian berkembang melalui forum diskusi internal hingga melahirkan konsolidasi nasional pada pertengahan Juni.
Dari proses tersebut, lahirlah lima tuntutan bersama, mulai dari penghentian pemborosan APBN hingga penolakan terhadap militerisasi ruang sipil.
Pola ini menunjukkan karakter baru gerakan mahasiswa hari ini: lebih menyerupai jejaring horizontal yang terhubung melalui diskusi lintas kampus dan media sosial. Bukan struktur komando berjenjang seperti yang sering digambarkan dalam sejarah gerakan mahasiswa masa lalu.
Simbol kebersamaan juga terlihat dari hal-hal sederhana yang memiliki makna besar.
Kesepakatan penggunaan kode pakaian, seperti jaket kuning dan baju hitam oleh peserta aksi, menjadi penanda identitas kolektif di tengah keberagaman almamater yang turun ke jalan.
Solid di Permukaan, Rentan di Lapangan
Namun, di balik citra solid tersebut, terdapat dinamika yang perlu dicermati. Konsolidasi lintas kampus tidak otomatis berarti seluruh elemen memiliki kesamaan pandangan dalam segala hal.
Fakta bahwa UNJ memilih menggelar aksi sendiri di lokasi berbeda, meskipun dengan tuntutan yang hampir senada, menunjukkan bahwa solidaritas ini lebih tepat disebut sebagai “aliansi isu” daripada “front tunggal”.
Kondisi tersebut bukan kelemahan yang harus ditutupi, melainkan karakteristik yang wajar dari gerakan tanpa struktur komando terpusat.
Model seperti ini memiliki keunggulan karena fleksibel dan cepat menyebar, tetapi juga memiliki risiko kehilangan satu narasi utama apabila tidak dikelola dengan baik.
Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah keberlanjutan gerakan. Ketua BEM UI sendiri menegaskan bahwa aksi ini bukanlah akhir, melainkan “langkah pertama” untuk memantik semangat perjuangan dan menyadarkan masyarakat.
Pernyataan tersebut patut diapresiasi sebagai bentuk komitmen jangka panjang.
Namun, sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia juga menunjukkan bahwa momentum besar sering kali meredup apabila tidak diikuti agenda konkret setelah demonstrasi berakhir, baik melalui kajian, advokasi, maupun pengawasan terhadap realisasi tuntutan.
Yang Perlu Dipahami Publik dan Dilakukan ke Depan
Bagi publik, penting untuk memahami bahwa pola gerakan mahasiswa hari ini berbeda dari generasi sebelumnya.
Gerakan tersebut lebih terdesentralisasi, lebih cepat terbentuk melalui media sosial, tetapi juga lebih mudah mengalami fragmentasi.
Pemahaman ini membantu masyarakat agar tidak terjebak pada ekspektasi yang keliru, baik menganggap gerakan tersebut akan langsung berkembang menjadi sesuatu yang monumental maupun meremehkannya sebagai aksi sesaat yang segera menghilang.
Bagi mahasiswa dan berbagai elemen pergerakan, tantangan terbesar justru muncul setelah aksi selesai.
Jejaring lintas kampus yang telah terbentuk perlu dijaga melalui forum konsolidasi rutin dan pembagian peran yang jelas.
Sebagian elemen dapat berfokus pada advokasi kebijakan, sebagian lainnya pada edukasi publik, dan sebagian lagi melakukan pengawasan terhadap realisasi tuntutan.
Bagi pemerintah, momentum konsolidasi lintas kampus sebaiknya dibaca sebagai sinyal demokrasi, bukan sebagai ancaman.
Membuka ruang dialog formal dengan perwakilan BEM lintas kampus, bukan hanya merespons melalui pernyataan publik, akan jauh lebih produktif dibandingkan membiarkan hubungan antara mahasiswa dan negara hanya berlangsung melalui aksi jalanan serta barikade aparat.
Pada akhirnya, kekuatan gerakan mahasiswa tidak hanya terletak pada besarnya massa dalam satu hari aksi, tetapi pada seberapa konsisten jejaring yang telah terbentuk dapat terawat dengan baik setelah euforia turun ke jalan berakhir.





0 Tanggapan
Empty Comments