MI Muhammadiyah 02 (MIMDA) Pondok Modern Muhammadiyah Paciran menggelar Wisuda Tahfidz ke-5 Tahun Ajaran 2025/2026, Senin (29/6/2026). Sebanyak 42 siswa dari berbagai jenjang kelas diwisuda setelah berhasil memenuhi target hafalan Al-Qur’an, mulai juz 30 hingga juz 27.
Suasana pagi yang cerah di halaman MIMDA Paciran menjadi saksi kebahagiaan para wisudawan, orang tua, dan dewan guru. Kegiatan yang dipandu Ketua Panitia Muntahid, S.Ag., berlangsung khidmat dengan dihadiri para wali murid, tokoh Muhammadiyah, serta narasumber parenting, Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Lamongan, Hj. Diyana Mufidati, S.Ag., S.Pd.
Sebanyak 42 peserta wisuda terdiri atas 17 siswa laki-laki dan 25 siswa perempuan. Dengan balutan busana serba putih, mereka mengikuti prosesi wisuda yang semakin semarak dengan penampilan paduan suara bernuansa islami.
Satu per satu wisudawan dipanggil ke atas panggung untuk menerima penyematan mahkota sebagai simbol kemuliaan para penghafal Al-Qur’an. Momen haru pun terjadi ketika para siswa menghampiri kedua orang tuanya. Tangis bahagia, pelukan, dan ungkapan syukur mewarnai prosesi tersebut.
Salah seorang wisudawan, Sindy Qonita, yang berhasil menghafal empat juz Al-Qur’an, mengaku perjuangannya tidak mudah karena harus membagi waktu antara belajar di sekolah dan menghafal.
“Alhamdulillah, saya sangat senang bisa diwisuda. Melihat ibu begitu bahagia saat penyematan mahkota membuat saya semakin termotivasi untuk menambah hafalan,” ujar siswi asal Desa Kandangsemangkon itu.
Kepala MIMDA Paciran, Wardatul Yunita, S.Pd., menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru dan wali murid yang terus mendukung keberhasilan program tahfidz sebagai program unggulan madrasah.
“Alhamdulillah, program Tahfidzul Qur’an di MIMDA terus berkembang berkat dukungan semua pihak. Wisuda ini bukanlah akhir perjalanan, tetapi langkah awal menuju cita-cita menjadi hafiz dan hafizah yang mampu memahami serta mengamalkan Al-Qur’an,” tuturnya.
Ia mengakui, membangun budaya menghafal Al-Qur’an bukan perkara mudah. Berbagai tantangan, mulai dari menjaga konsistensi hafalan, padatnya kegiatan belajar, hingga pengaruh penggunaan gawai menjadi tantangan yang harus dihadapi. Namun, melalui kerja sama guru dan orang tua, program tahfidz mampu berjalan secara berkelanjutan hingga melahirkan wisuda angkatan kelima.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Modern Muhammadiyah Paciran, KH. Rifqi Rosyidi, Lc., M.Ag., mengajak para wisudawan untuk melanjutkan pendidikan di lingkungan Pondok Modern Muhammadiyah Paciran yang memiliki program tahfidz pada setiap jenjang pendidikan.
“Di Madrasah Aliyah sudah beberapa kali melahirkan hafiz 30 juz. Menjadi penghafal Al-Qur’an bukan hanya mendapat kemuliaan di sisi Allah, tetapi juga membuka banyak kemudahan, termasuk kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” ujarnya.
Dalam sesi parenting, Ketua PDA Lamongan, Hj. Diyana Mufidati, S.Ag., S.Pd., mengawali materinya dengan mengangkat tema Milad ke-109 ‘Aisyiyah, ‘Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian’. Ia mengajak para orang tua untuk membangun keluarga yang mampu melahirkan generasi Qurani sekaligus berkarakter.
Diyana menyampaikan tiga pesan penting kepada para orang tua. Pertama, pentingnya kehadiran ayah dan ibu dalam setiap momentum pendidikan anak, termasuk saat menghadiri pertemuan wali murid maupun prosesi wisuda.
“Jangan anggap sepele kehadiran orang tua. Momen seperti ini akan menjadi kenangan yang terus membekas dalam kehidupan anak,” pesannya.
Sebagai bentuk apresiasi, Diyana memberikan hadiah kepada enam wisudawan yang hadir didampingi lengkap oleh kedua orang tuanya.
Pesan kedua, ia mengingatkan pentingnya menyiapkan generasi yang kuat sebagaimana kandungan Surah An-Nisa ayat 9. Menurutnya, generasi kuat bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki keimanan, ilmu, akhlak, dan kemandirian ekonomi.
Ia menilai program Tahfidz Al-Qur’an merupakan salah satu ikhtiar nyata dalam membentuk generasi yang berkarakter dan berdaya saing.
Pesan ketiga, Diyana mengajak para orang tua dan guru memahami bahwa setiap anak memiliki potensi dan karakter yang berbeda.
“Jangan paksa ikan untuk terbang, dan jangan pula paksa burung untuk berenang,” ujarnya, mengingatkan agar orang tua tidak membanding-bandingkan kemampuan anak dengan teman sebayanya.
Ia menegaskan, setiap anak memiliki waktu dan jalan keberhasilan masing-masing sehingga membutuhkan pendampingan, kesabaran, dan kasih sayang dalam proses tumbuh kembangnya.
Rangkaian Wisuda Tahfidz ke-5 MIMDA Paciran ditutup dengan doa yang dipimpin KH. Ahmad Ahzab, dilanjutkan penutupan acara oleh pembawa acara. Kegiatan ini menjadi bukti komitmen MIMDA Paciran dalam mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya unggul dalam hafalan, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan dukungan kuat dari keluarga. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments