Video pernyataan Amien Rais yang menyinggung Mayor Teddy mendadak menggegerkan ruang publik dan memantik perdebatan panas: apakah itu kritik yang sah atau justru ghibah yang dibungkus narasi moral?
Di tengah riuh itu, kembali muncul resep klasik untuk meredam suara—labeli sebagai “ghibah”, lalu dorong semua orang berbicara diam-diam, seolah kebenaran harus disampaikan tanpa jejak dan tanpa saksi. Terdengar saleh, tapi efeknya sering seperti peredam suara: yang keras jadi hilang, yang salah jadi aman.
Kita sepakat, Nabi Muhammad melarang ghibah. Tapi menjadikan semua kritik publik sebagai ghibah itu seperti menyebut semua obat sebagai racun, praktis, tapi menyesatkan.
Dalam khazanah fiqh, membuka keburukan boleh ketika ada kepentingan publik: mencegah mudarat, melindungi masyarakat, atau mengoreksi kebijakan. Ini bukan ‘gosip berjubah dalil,’ melainkan kontrol sosial yang sah.
Lalu datang standar emas yang nyaris mustahil: pengkritik harus tanpa cela. Serius? Kalau begitu, kita tunggu malaikat turun untuk konferensi pers.
Dalam dunia nyata, yang dinilai adalah argumen dan data, bukan sertifikat kesucian. Menuntut kesempurnaan moral sebelum boleh mengkritik adalah cara elegan untuk memastikan tidak ada yang berani bicara.
Narasi kritik harus empat mata juga problematik. Empat mata itu bagus, untuk konseling, bukan untuk akuntabilitas. Kebijakan publik tidak lahir di ruang privat, jadi kenapa koreksinya harus disembunyikan?
Kritik yang dibisikkan mudah diabaikan; kritik yang terbuka meninggalkan jejak. Dan, anehnya, yang paling takut pada jejak biasanya bukan mereka yang benar.
Menyamakan kritik dengan ghibah adalah penyederhanaan yang berbahaya. Ghibah menyerang kehormatan personal tanpa tujuan perbaikan.
Kritik publik menilai tindakan yang berdampak luas. Jika seorang tokoh memilih mimbar publik, ia tidak bisa alergi terhadap respons publik. Itu bukan kezaliman; itu konsekuensi.
Tentu, etika tetap wajib: verifikasi, hindari fitnah, fokus pada substansi. Tapi mengemas ‘lemah lembut dan privat’ sebagai satu-satunya jalan adalah romantisme yang nyaman bagi yang berkuasa. Nyaman, karena sunyi. Sunyi, karena tidak ada yang mengganggu.
Jadi, mari jujur: tidak semua yang menyinggung itu ghibah, dan tidak semua yang lantang itu fitnah. Kadang, yang disebut ‘kurang adab’ justru adalah cermin yang terlalu jernih.
Dan cermin memang menyebalkan, terutama bagi yang tidak siap melihat wajahnya sendiri. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments