Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 52

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 52

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab IV berjudul “Muhammadiyah Masa Pergolakan (1942-1956)”, sebagian halaman 127, 128, 129, dan 130.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 51

***

Halaman 127

Malang. Setelah proklamasi kemerdekaan, sebagian besar aktivis Muhammadiyah di Malang yang sebelumnya terpencar dihimpun kembali untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan. Sebagian mereka menjadi laskar Hizbullah, dan sebagian lagi masuk TKR atau TRI. Sedangkan sebagian yang lain bergerak dalam lapangan politik melalui Partai Politik Masyumi.

Tercatat beberapa tokoh Muhammadiyah Malang yang terjun dalam bidang politik, seperti Takruni, Orient Maksum, Ghofar Wiryosudibyo, H.A. Sacheh, H. Joko Raharjo, A.R.C. Salim, Kyai Beja Dermaleksana, Ny. Beja Dermaleksana, Ny. Sacheh, Madrimah Rono Diharjo, Cik Yah, Abdullah Eeng, dan Baharudin.{94}

Sebagian tokoh Muhammadiyah terlibat aktif dalam perjuangan fisik melawan agresi Belanda, tetapi sebagian yang lain bergerak

Halaman 128

dalam lapangan keagamaan. Tidak sedikit tokoh-tokoh Muhammadiyah ditangkap dan dipenjara Belanda karena perlawanan yang mereka tunjukkan.{95} Beberapa ulama yang tidak keluar dari kota Malang juga ditangkap Belanda.

Tokoh penting yang ditawan adalah K.M. Nur Yasin. Penawanan ini kemudian menimbulkan semacam fitnah bahwa tokoh ini diangkat sebagai mata-mata Belanda, karena dia bersedia menjadi anggota Dewan Islam Jawa Timur yang dibentuk oleh Belanda, melalui van der Plas sebagai Recomba Jawa Timur. Tugasnya adalah mengkoordinasikan guru-guru agama untuk membina para tawanan yang beragama Islam dan membina pegawai pemerintah Belanda, termasuk buruh-buruh pabrik rokok Faroka.{96}

Sebenarnya, tugas K.M. Nur Yasin adalah mengajar agama Islam di kantor-kantor pemerintah, mengajar pegawai, dan buruh-buruh pabrik. Dia berhasil mengusahakan berdirinya masjid di kompleks pabrik rokok Faroka. Dia juga membina para tawanan pejuang, yaitu gerilyawan yang ditahan di rumah penjara Lowokwaru, dan di rumah penjara wanita dekat alun-alun Malang. Namun fitnah tersebut terus berkembang, akhirnya K.M. Nur Yasin merasa tersisih, terisolisasi dan dijauhi tokoh-tokoh Muhammadiyah Malang.{97}

Nganjuk. Kepengurusan Muhammadiyah setelah kemerdekaan tidak mengalami perubahan. Masa pergolakan ini memunculkan perubahan semangat, dari semangat membangun masyarakat menjadi semangat untuk melepaskan diri dari penjajahan. Tidak terjadinya perubahan kepemimpinan Muhammadiyah di Nganjuk tidak hanya terjadi pada periode ini. Sejak 1935 sampai 1950, Muhammadiyah tetap dipimpin Soeradi.

SMPM 5 Pucang SBY

Di bawah kepemimpinannya, gedung sekolah Muhammadiyah dapat dipertahankan ketika Tentara Jepang hendak merampasnya. Gedung sekolah itu pada masa agresi Belanda direlakan untuk dipakai sebagai markas tentara.{98}

Magetan. Pada masa ini, Muhammadiyah Magetan dipimpin oleh Koesman Imam Diwirjo, yang juga menjabat Kepala Inspeksi Pendidikan Masyarakat. Koesman dibantu oleh anggota pimpinan yang terdiri dari Sumitro, Wignyo, Dimjati, Wajib Dwijo Atmojo, dan Subandi. Melalui kepanduan Hizbul Wathan (HW), Muhammadiyah tampak semarak. Jambore Hizbul Wathan diselenggarakan

Halaman 129

di Alun-Alun Magetan pada 20 September 1950. Selain itu, Muhammadiyah Magetan juga terus berusaha membangun organisasi dengan mendirikan Cabang Karangmojo pada 1953 yang dimotori oleh Wiryosudarmo dan warga Muhammadiyah yang lain.

Ponorogo. Masa perang kemerdekaaan, selain aktif dalam mempertahankan kemerdekaan, Muhammadiyah Ponorogo juga melakukan pembenahan gerak organisasi. Selama pendudukan Jepang, gerak Muhammadiyah hampir terhenti seluruhnya. Setelah kemerdekaan, Ali Diwirjo yang menjadi pemimpin Muhammadiyah, bersama Mungin Sirodj (ketua bagian pendidikan), mengadakan perbaikan sekolah Wustho Muallimin dan lembaga pendidikan Muhammadiyah lainnya. Sementara tokoh yang lain, Iskalam, merintis berdirinya PKO pada 1946.

Bojonegoro. Muhammadiyah masuk Bojonegoro sejak 1947, melalui Kecamatan Sumberejo. Pada 1947 telah berdiri Madrasah Ibtidaiyah di Desa Kapas dan Sumberejo. Selain itu juga sudah dimulai usaha santunan untuk yatim dan piatu.{99} Sebagai perintis dan pelopor berdirinya Muhammadiyah di Bojonegoro ialah Masyhudi, pemuda asli Bojonegoro. Ia pernah aktif di Pandu HW di Palembang dan menjadi anggota KNI Pusat serta anggota Konstituante.{100}

Halaman 130

Pada 1950, Masyhudi pindah dari Sumberejo ke kota Bojonegoro, mendirikan Taman Kanak-Kanak (Frobel School) yang terletak di Jl. Kudusan (sekarang barat Markas Kepolisian Wilayah [Mapolwil] Bojonegoro), bersama para tokoh lain yang datang ke Bojonegoro, antara lain Permadi Permodiharjo, Sukarno (yang terkenal dengan sebutan Pak Karno Mujaer), Abu Arifaini (Direktur PGAP Negeri), Abdurrahim, Abdulfatah dan guru-guru PGAP Negeri seperti Said Marzuq, Wajihuddin, dan Damiri.{101} Pada 1950-an, SD Muhammadiyah berdiri di beberapa kota Kecamatan seperti Sumberejo, Kapas, Kedungadem, Sugihwaras, dan Bojonegoro.{102}

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 29/06/2026 10:46
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu