Pemandangan berbeda terlihat di Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya pada momentum Iduladha 1447 H. Tidak tampak tumpukan kantong plastik kresek yang lazim digunakan untuk membungkus daging kurban. Sebagai gantinya, ratusan paket daging tertata rapi dalam besek bambu yang dilapisi daun jati.
Melalui program Green Kurban Lazismu Surabaya, sekitar 800 paket daging kurban didistribusikan kepada masyarakat menggunakan kemasan ramah lingkungan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai yang kerap meningkat selama pelaksanaan kurban.
Ketua Lazismu Surabaya, Faisal Haqqi, S.E., menegaskan bahwa gerakan tersebut merupakan bentuk komitmen lembaganya dalam menjaga keseimbangan antara ibadah dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
“Ini bentuk komitmen Lazismu Surabaya untuk mengurangi sampah plastik seminimal mungkin dari hulu. Kami tidak ingin momen kebahagiaan berbagi daging kurban justru menyisakan kesedihan bagi lingkungan berupa tumpukan sampah plastik yang sulit terurai. Melalui gerakan Green Kurban ini, kami ingin memastikan kebaikan kurban dirasakan utuh, baik oleh penerima manfaat maupun oleh alam,” ujar Faisal Haqqi, S.E.
Menurutnya, penggunaan besek dan daun jati bukan sekadar menghadirkan kemasan tradisional yang unik, tetapi juga menjadi bagian dari solusi nyata dalam mengurangi timbulan sampah plastik.
“Masyarakat mungkin hanya melihat besek dan daun jati ini sebagai kemasan tradisional yang unik, tetapi bagi kami, ini adalah benteng pertahanan pertama untuk menghentikan laju kerusakan lingkungan kota. Kita tidak bisa terus-menerus menutup mata pada fakta bahwa setiap kali perayaan besar usai, alam selalu menjadi pihak yang paling terbebani oleh sisa kemasan plastik sekali pakai,” tambahnya.
Faisal menjelaskan bahwa gerakan Green Kurban menjadi prioritas penting dalam pelaksanaan kurban tahun ini. Baginya, ketakwaan spiritual harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab ekologis.
Pilihan penggunaan daun jati (Tectona grandis) bukan tanpa alasan. Selain mudah terurai secara alami, daun jati diketahui memiliki kandungan senyawa aktif seperti tanin, saponin, dan flavonoid yang berfungsi sebagai antimikroba alami.
Kandungan tersebut dapat membantu menekan pertumbuhan bakteri pembusuk sekaligus menjaga kualitas daging agar tetap segar selama proses distribusi.
Proses distribusi daging kurban ramah lingkungan ini merupakan kelanjutan dari penyembelihan hewan kurban yang telah dilaksanakan pada Kamis (28/5/2026) di MI Muhammadiyah 23 Surabaya, Jalan Buntaran Nomor 156, Manukan Wetan, Kecamatan Tandes.
Setelah proses penyembelihan dan pencacahan selesai, panitia langsung mengemas daging menggunakan besek bambu dan daun jati yang seluruhnya dapat terurai secara alami (biodegradable).
“Pergeseran paradigma inilah yang ingin kami tularkan melalui gerakan Green Kurban, di mana ibadah spiritual harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial dan ekologis. Kami berharap langkah kecil di Surabaya ini bisa memicu kesadaran kolektif yang lebih besar, sehingga ke depan menjaga kelestarian bumi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah prinsip yang melekat dalam setiap sendi kehidupan kita,” ujarnya.
Upaya Green Kurban Lazismu Surabaya dilakukan di tengah meningkatnya persoalan sampah plastik secara nasional.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sampah plastik menyumbang sekitar 18 persen dari total timbulan sampah nasional setiap tahun.
Pada momentum Iduladha, penggunaan kantong plastik untuk distribusi daging kurban berpotensi menghasilkan ratusan hingga ribuan ton sampah tambahan dalam waktu singkat.
Melalui distribusi sekitar 800 paket daging menggunakan besek bambu dan daun jati, Lazismu Surabaya berupaya mengurangi penggunaan ribuan lembar kantong plastik sekali pakai yang berpotensi mencemari lingkungan.
Selain mendapatkan daging kurban yang layak dan higienis, masyarakat penerima manfaat juga diajak memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan melalui langkah sederhana yang dimulai dari kemasan kurban.
Gerakan Green Kurban Lazismu Surabaya menjadi contoh bahwa ibadah kurban tidak hanya menghadirkan manfaat sosial, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun kesadaran ekologis demi menjaga bumi bagi generasi mendatang.





0 Tanggapan
Empty Comments