Pembelajaran Al-Qur’an di era modern tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan membaca. Guru Al-Qur’an dituntut menjadi pembimbing akhlak, penjaga spiritualitas, sekaligus pencipta lingkungan positif agar generasi muda mampu menghadapi tantangan zaman digital.
Pesan itu disampaikan Dr. KH. Syamsudin, MAg dalam dalam acara bertajuk “Tranformasi TPQ Muhammadiyah: Profesional dalam Manajemen, Progresif dalam Dakwah” yang ditayangkan di kanal Youtube Lazismu Jawa Timur.
Dia menegaskan bahwa tantangan generasi saat ini jauh berbeda dibanding generasi masa lalu, sehingga pendekatan pendidikan juga harus menyesuaikan perkembangan zaman.
Menurut Syamsudin, pendidikan pada hakikatnya merupakan proses transformasi pengetahuan dan pewarisan nilai dari satu generasi kepada generasi berikutnya agar mereka siap menghadapi kehidupan, baik secara intelektual maupun spiritual.
“Setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda. Generasi dulu berbeda dengan generasi sekarang. Bukan berarti yang dulu lebih buruk atau yang sekarang lebih baik, tetapi masing-masing memiliki zamannya sendiri,” ujarnya.
Syamsudin menggambarkan bagaimana permainan anak-anak dahulu lebih banyak melibatkan aktivitas fisik seperti gobak sodor, jumpritan, atau permainan sederhana dari pelepah pisang. Sementara generasi saat ini lebih banyak berinteraksi dengan gawai dan teknologi digital.
Menurutnya, teknologi tidak bisa dijauhi atau dimusuhi. Yang terpenting adalah bagaimana manusia mampu menyikapi teknologi secara bijak.
“Teknologi bukan untuk dijauhi, tetapi harus disikapi. Bagaimana teknologi memberi manfaat kepada kita, bukan justru merugikan,” katanya.
Guru Al-Qur’an Tidak Sekadar Mengajar
Dalam ceramahnya, Dr. KH. Syamsudin menjelaskan peran guru Al-Qur’an jauh lebih luas dibanding sekadar menyampaikan materi pelajaran.
Dia memaparkan beberapa istilah dalam tradisi pendidikan Islam seperti muallim, muaddib, murabbi, dan mudarrib, yang masing-masing memiliki makna dan tanggung jawab berbeda.
Sebagai muallim, guru bertugas mentransformasikan ilmu pengetahuan kepada murid. Namun tugas itu belum cukup.
“Tugas kita tidak sekadar membuat anak pintar atau lulus ujian. Ada tugas yang lebih besar, yakni membimbing akhlak mereka agar menjadi manusia berakhlakul karimah,” jelasnya.
Dia menambahkan, guru juga harus menjadi murabbi, yaitu pembimbing spiritual yang menanamkan kesadaran bahwa manusia adalah hamba Allah.
“Tugas guru adalah membimbing anak-anak agar mengenal Tuhannya, menyadari dirinya sebagai Abdullah atau hamba Allah,” ungkapnya.
Sementara sebagai mudarrib, guru harus menciptakan lingkungan dan pembiasaan positif agar nilai-nilai yang diajarkan menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan anak-anak.
Dalam kesempatan itu, ia juga membagikan pengalaman masa kecilnya yang dibiasakan membaca Al-Qur’an setiap selesai Subuh dan Magrib.
Meski awalnya terasa berat, kebiasaan tersebut akhirnya menjadi bagian penting dalam kehidupannya hingga dewasa.
“Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang terus dijaga kontinuitasnya walaupun sedikit,” ujarnya mengutip hadis Nabi.
Ia menekankan bahwa pembiasaan kecil yang dilakukan secara istiqamah jauh lebih penting daripada semangat sesaat yang tidak berkelanjutan.
“Di pesantren ada ungkapan, istiqamah itu lebih hebat daripada seribu karomah,” katanya.
Mengajar Al-Qur’an Bukan Jalan Mencari Kekayaan
Dr. KH. Syamsudin juga menyoroti perjuangan para guru Al-Qur’an yang sering kali tidak memperoleh imbalan materi besar. Namun menurutnya, mengajar Al-Qur’an harus dilandasi niat mencari ridha Allah.
Dia menceritakan pengalaman seorang wali santri yang mengeluhkan kecilnya gaji guru Al-Qur’an meskipun anaknya telah bersusah payah menghafal 30 juz.
Menurutnya, jika belajar Al-Qur’an semata-mata bertujuan mencari kekayaan dunia, maka orientasinya akan keliru.
“Mengajarkan Al-Qur’an itu bagian dari jihad. Yang dicari adalah keberkahan hidup, bukan sekadar hitungan materi,” tegasnya.
Syamsudin mengutip hadis Nabi Muhammad saw, “Khairukum man ta’allamal Qur’ana wa ‘allamahu,” yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.
Di tengah berkembangnya teknologi digital dan banyaknya pembelajaran melalui YouTube, Dr. KH. Syamsudin menegaskan bahwa proses belajar Al-Qur’an tetap membutuhkan kehadiran guru secara langsung.
Menurutnya, video pembelajaran tidak bisa menggantikan fungsi guru dalam membetulkan kesalahan bacaan maupun makharijul huruf.
“Kalau murid salah membaca, apakah YouTube bisa mengingatkan? Tidak bisa. Maka pembelajaran Al-Qur’an tetap harus menghadirkan guru,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya mendekatkan Al-Qur’an secara intelektual dan rasional, bukan sekadar secara mistis atau klenik.
“Kedekatan kita dengan Al-Qur’an jangan hanya bersifat mistis. Harus menjadi kedekatan intelektual dan rasional sebagaimana para ulama dahulu menggali ilmu dari Al-Qur’an,” tandasnya.
Di akhir ceramah, ia berharap lahir generasi masa depan yang unggul dalam berbagai bidang ilmu namun tetap dekat dengan Al-Qur’an.
“Menjadi dokter tapi Qurannya bagus, menjadi insinyur tapi Qurannya bagus, menjadi ahli ekonomi atau pakar IT tetapi tetap dekat dengan Al-Qur’an. Itu yang kita harapkan,” katanya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments