Peringatan Hari Anak Nasional setiap 23 Juli menjadi momentum penting untuk memperkuat pendidikan perilaku keuangan (financial behaviour) pada anak. Pendidikan finansial dinilai tidak hanya mengajarkan cara mengelola uang, tetapi juga membentuk karakter, integritas, dan rasa syukur sejak usia dini.
Pandangan tersebut disampaikan Dosen Ekonomi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Dr. Dedy Surahman, S.E., M.M., dalam perbincangan santai di sebuah angkringan khas Jawa di kawasan Jalan Dr. Ir. H. Soekarno, Surabaya, Kamis (23/7/2026).
Di tengah suasana hangat ditemani wedang uwuh dan kudapan tradisional, Dedy menegaskan bahwa edukasi finansial seharusnya dimulai dari keluarga, tanpa harus menunggu kondisi ekonomi mapan.
Menurut Dedy, banyak orang tua merasa kurang percaya diri mengajarkan pengelolaan keuangan karena kondisi ekonomi keluarga yang terbatas. Padahal, anak lebih banyak belajar dari perilaku orang tuanya dibanding sekadar nasihat.
“Banyak orang tua merasa kurang percaya diri mengajarkan keuangan kalau kondisi ekonominya sedang pas-pasan. Padahal anak itu peniru yang ulung. Mereka tidak cuma mendengar nasihat, tapi melihat langsung bagaimana orang tuanya tetap jujur, bersabar, dan tidak berputus asa waktu menghadapi ujian ekonomi,” kata Dedy.
Ia menambahkan bahwa pendidikan keuangan dalam perspektif Islam bukan bertujuan mencetak anak menjadi kaya, melainkan membangun karakter yang amanah, hemat, disiplin, qana’ah, serta mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
“Pendidikan keuangan dalam Islam tidak dimaksudkan untuk mencetak anak menjadi kaya, melainkan membentuk pribadi yang amanah, hemat, disiplin, qana’ah, serta mampu membedakan kebutuhan dan keinginan,” ujarnya.
Selain menjadi dosen, Dedy aktif di Pemuda Muhammadiyah Kota Surabaya dan menjabat sebagai Wakil Sekretaris Lembaga Pengawasan Pembinaan Keuangan (LPPK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya.
Menurutnya, maraknya transaksi digital dan penggunaan dompet elektronik membuat anak-anak dan remaja semakin rentan terhadap perilaku konsumtif.
Dedy menjelaskan bahwa konsep perencanaan keuangan dan pengelolaan risiko telah dicontohkan dalam kisah Nabi Yusuf AS sebagaimana termuat dalam Surat Yusuf ayat 47–49.
“Nabi Yusuf mengajarkan strategi menghadapi masa panen melimpah dan masa paceklik. Pesan ini relevan sampai kapan pun, bahwa kehidupan selalu berputar antara masa lapang dan masa sempit,” kata Dedy.
Dedy membagi pendidikan karakter keuangan anak ke dalam tiga fase sesuai perkembangan usia.
1. Usia 0–7 Tahun: Fase Keteladanan
Pada tahap ini, anak dibiasakan merawat barang milik sendiri, tidak meminta sesuatu secara berlebihan, mengenal celengan, serta belajar berbagi melalui teladan orang tua.
2. Usia 7–14 Tahun: Fase Konsekuensi
Anak mulai belajar mengelola uang saku, mencatat pengeluaran sederhana, menabung, dan memahami konsekuensi dari setiap keputusan dalam menggunakan uang.
3. Usia 14–21 Tahun: Fase Kemitraan
Pada fase ini, orang tua berperan sebagai teman berdiskusi mengenai penyusunan anggaran pribadi, risiko utang konsumtif, bahaya fitur paylater, hingga pentingnya memiliki dana darurat.
Dedy menegaskan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya harta yang dimiliki, melainkan oleh karakter yang dibangun sejak kecil.
“Dari situ anak belajar bahwa nilai seseorang bukan diukur dari seberapa banyak hartanya. Warisan terbaik yang dibawa anak sampai dewasa nanti bukanlah tabungan atau aset, melainkan daya tahan dan mentalitas bersyukur dalam kondisi apa pun,” tuturnya.
Menjawab kekhawatiran keluarga yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, Dedy menegaskan bahwa pendidikan karakter keuangan tidak pernah menunggu seseorang menjadi kaya.
Menurutnya, justru dalam keterbatasan ekonomi anak dapat belajar tentang ketangguhan, kejujuran, kerja keras, dan kesabaran melalui teladan orang tua.
“Anak-anak memperhatikan bagaimana orang tua tetap bekerja keras dan menjaga integritas saat diuji. Warisan terbesar orang tua bukanlah harta benda seperti tanah atau kendaraan yang bisa menyusut, melainkan karakter untuk bersyukur ketika lapang dan bersabar ketika sempit,” tutur Dedy menutup perbincangan.





0 Tanggapan
Empty Comments