Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jamaah KBIHU Jabal Nur Selesaikan Sa’i Meski Terpisah dari Suami

Iklan Landscape Smamda
Jamaah KBIHU Jabal Nur Selesaikan Sa’i Meski Terpisah dari Suami
Nurul Fajriyah bersama suami usai melaksanakan tawaf qudum, Sabtu (23/5/2027). (Firman)
pwmu.co -

Pengalaman mengharukan sekaligus penuh pelajaran dialami Nurul Fajriyah, jamaah haji KBIHU Jabal Nur Muhammadiyah Sidoarjo, saat menjalani rangkaian ibadah di Masjidil Haram.

Di tengah suasana duka setelah menerima kabar meninggalnya sang tante di Indonesia, ia harus menyelesaikan ibadah sa’i seorang diri karena terpisah dari suami dan rombongannya.

Nurul menuturkan, peristiwa tersebut terjadi usai dirinya bersama sang suami melaksanakan tawaf qudum pada dini hari.

“Ini haji dan umrah pertama saya. Sebelumnya saya hanya mendengar cerita dari orang-orang yang pernah berangkat ke Tanah Suci,” ujarnya.

Setelah menyelesaikan tujuh putaran tawaf mengelilingi Kakbah, keduanya menunaikan shalat sunnah dua rakaat dan minum air zamzam. Namun ketika menunggu waktu Subuh, mereka terpisah karena jamaah laki-laki dan perempuan berada di area yang berbeda.

Saat membuka telepon genggam untuk mengaji, Nurul justru menerima kabar duka dari keluarga di Indonesia. Tante yang selama ini dekat dengannya dikabarkan meninggal dunia.

“Saya langsung sedih. Kemudian menelepon keluarga di Indonesia dan sempat video call untuk melihat wajah tante terakhir kali sebelum dimakamkan,” kenangnya.

Usai melaksanakan shalat Subuh dan shalat jenazah gaib, Nurul menuju Bukit Shafa untuk memulai sa’i. Sebelum berangkat, ia berusaha menghubungi suaminya, namun tidak mendapatkan jawaban.

Berbekal praktik dan bimbingan yang diperoleh selama manasik bersama KBIHU Jabal Nur, ia memulai sa’i dari Shafa menuju Marwah.

Saat masih berada di Bukit Shafa, telepon dari sang suami akhirnya masuk.

“Suami bertanya posisi saya di mana. Saya jawab masih di Shafa. Beliau bilang sedang menunggu di Marwah,” tuturnya.

Namun upaya untuk bertemu kembali tidak berjalan mudah. Keduanya ternyata berada di jalur yang berbeda. Sang suami menjalankan sa’i di lantai dasar, sedangkan Nurul berada di lantai dua.

SMPM 5 Pucang SBY

“Waktu itu saya benar-benar menangis. Saya melakukan sa’i sendirian,” ujarnya.

Kesedihan yang dirasakan semakin bertambah karena ia masih teringat pesan-pesan sang tante yang baru saja berpulang. Di tengah perjalanan sa’i, ia juga sempat mengalami pengalaman yang membuatnya tidak nyaman ketika seorang pria asing menyapanya dan mengajukan pertanyaan pribadi.

Meski demikian, Nurul berusaha tetap fokus menjalankan ibadah hingga berhasil menyelesaikan tujuh putaran sa’i dengan lancar.

Setibanya di Marwah, ia memanjatkan doa agar segera dipertemukan kembali dengan suami dan rombongannya.

Doa tersebut akhirnya terkabul. Tak lama kemudian, Nurul bertemu dengan jamaah perempuan dari rombongan KBIHU Jabal Nur. Setelah keluar dari Masjidil Haram, ia pun berhasil bertemu kembali dengan sang suami.

Dari pengalaman tersebut, Nurul berpesan kepada jamaah perempuan agar tidak bepergian sendirian saat melaksanakan tawaf maupun sa’i.

“Kalau perempuan sebaiknya mengajak teman. Saat tawaf sering terjadi desak-desakan dan tidak semua orang sabar. Selain itu, perempuan yang sendirian kadang mendapat gangguan dari orang yang tidak dikenal,” pesannya.

Menurutnya, keberadaan teman atau rombongan akan membantu jamaah perempuan merasa lebih aman dan nyaman saat beribadah di tengah jutaan umat Islam yang memadati Masjidil Haram.

Pengalaman yang dialaminya menjadi pelajaran berharga bahwa kesiapan mental, bekal manasik yang baik, serta ketenangan dalam menghadapi situasi tak terduga sangat penting selama menjalankan ibadah haji.

Revisi Oleh:
  • Satria - 15/06/2026 09:23
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu